Koran "Gema Sastra" edisi Sabtu biasanya hanya berakhir menjadi pembungkus gorengan atau alas duduk di tribun stadion. Namun, pagi ini berbeda.
Aku berdiri di sudut jalan, memperhatikan seorang pria tua yang mengenakan topi pet sedang membaca lembaran koran dengan dahi berkerut. Matanya terpaku pada halaman tengah, tepat di mana kolom bertajuk "Dunia dalam Genggaman: Visi Tahun 2020" dimuat. Di bawah judul itu, tertera sebuah nama yang terasa asing sekaligus membanggakan bagi diriku: Arlan Kusuma.
"Gila... kotak ajaib yang bisa bicara?" gumam pria itu pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Anak muda zaman sekarang imajinasinya tidak masuk akal."
Meskipun ucapannya bernada skeptis, dia tidak berhenti membaca. Itu adalah kemenangan kecil bagiku.
"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung, Arlan! Kau harus melihat ini!" Maya tiba-tiba muncul dari kerumunan, berlari kecil dengan napas terengah-engah. Ia memegang lima eksemplar koran di tangannya. Wajahnya berseri-seri, pipinya bersemu merah karena semangat.
"Ada apa, Maya?"
"Redaktur Utama ingin menemuimu. Sekarang!" Maya menarik lenganku. "Tanggapan pembaca sangat luar biasa. Telepon di kantor tidak berhenti berdering sejak pukul delapan tadi. Ada yang marah karena menganggapmu sesat, tapi lebih banyak yang bertanya: siapa penulis jenius ini?"
Aku ditarik masuk ke dalam kantor redaksi yang sibuk. Suara derik telepon putar, kepulan asap rokok dari meja para senior, dan teriakan-teriakan tentang tenggat waktu menyambutku. Ini adalah energi yang tidak pernah kurasakan di dunia modern yang serba senyap di balik layar gadget.
Di sebuah meja besar di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal. Pak Bram, sang Redaktur Utama. Ia menatapku dari atas ke bawah, lalu menggebrak meja dengan koran karyaku.
"Kau..." suaranya berat. "Dari mana kau mendapatkan ide tentang 'perpustakaan digital' ini? Kau tahu betapa berisikonya menulis hal seperti ini di tengah situasi politik yang sensitif? Orang bisa mengira kau sedang mengirim pesan kode!"
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Apakah aku terlalu berlebihan menggunakan pengetahuan masa depanku?
"Tapi," Pak Bram tiba-tiba tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang menguning karena nikotin. "Gayamu bercerita... itu sangat segar. Kau tidak menggurui. Kau membuat orang bermimpi. Arlan, aku ingin kau membuat seri mingguan."
"Seri mingguan?" tanyaku tak percaya.
"Ya. Tapi kau punya saingan." Pak Bram menunjuk ke arah sofa di sudut ruangan.
Di sana duduk seorang pemuda sebaya denganku, mengenakan kemeja safari rapi dengan rambut yang ditata klimis. Namanya Satria, penulis emas kesayangan "Gema Sastra" selama setahun terakhir. Ia menatapku dengan pandangan meremehkan.
"Fiksi ilmiah?" Satria bersuara, nadanya merendahkan. "Itu hanya dongeng untuk orang-orang yang takut menghadapi realitas. Sastra sejati itu harus bicara tentang tanah, keringat, dan perjuangan, bukan tentang mesin-mesin khayalan yang tidak mungkin ada."
Maya hendak membalas, tapi aku menahannya. Aku menatap Satria. Di dunia nyata, aku mungkin akan menunduk dan meminta maaf karena telah ada di sana. Tapi di sini, aku merasa memiliki "senjata" yang tidak dia miliki.
"Realitas hari ini adalah khayalan masa lalu, Satria," ucapku tenang. "Dan apa yang kau sebut khayalan hari ini, mungkin adalah sejarah bagi anak cucu kita nanti. Aku tidak sedang menulis dongeng. Aku sedang menulis kemungkinan."
Ruangan mendadak hening. Pak Bram tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk. Maya menatapku dengan mata berbinar, seolah baru saja melihatku tumbuh dua kali lebih tinggi.
Namun, di tengah kemenanganku, telingaku kembali berdenging.
Cit-cit-cit-cit...
Bukan suara mesin ketik. Itu suara mesin EKG yang berpacu cepat. Perasaan mual menghantam perutku. Lantai kantor yang kayu terasa bergoyang, seolah berubah menjadi air.
"Dokter! Detak jantungnya tidak stabil!"
Suara teriakan asing itu menusuk kepalaku. Aku memejamkan mata erat-erat, mencengkeram pinggiran meja Pak Bram hingga kukuku memutih. Jangan sekarang. Tolong, jangan bawa aku pergi dari sini sekarang, doaku dalam hati.
"Arlan? Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali," suara Maya terdengar jauh, seolah dia berada di ujung terowongan yang sangat panjang.
Aku memaksa diriku membuka mata. "Aku... aku hanya butuh udara segar," bisikku sambil terhuyung keluar.
Aku harus menulis lebih cepat. Aku merasa waktuku di dunia yang indah ini tidaklah abadi.
