Ficool

Chapter 8 - Chapter 8: Tinta yang Membeku

Kertas putih itu tampak seperti padang salju yang membutakan. Sudah lima jam aku duduk di depan mesin ketik "Brother", namun tuas besinya tetap diam. Tidak ada suara tik yang biasanya menjadi musik paling menenangkan di telingaku.

Aku ingin menulis tentang pelabuhan. Tentang aroma garam, teriakan kuli angkut, dan kapal-kapal kayu yang bersandar. Tapi setiap kali aku menutup mata untuk membayangkan pemandangan itu, yang muncul justru bayangan tirai putih yang tertiup angin dari jendela rumah sakit.

"Arlan, kopimu sudah dingin."

Maya meletakkan cangkir porselen di samping mesin ketikku. Ia memperhatikanku dengan cemas. Rambut sebahunya sedikit berantakan, tanda ia pun sibuk dengan draf koran besok, tapi perhatiannya tetap tertuju padaku.

"Aku tidak bisa, Maya," bisikku. "Rasanya... kata-katanya tersangkut. Seperti ada seseorang yang mencuri kamus di kepalaku."

Maya duduk di tepi meja, melipat kakinya. "Mungkin kau terlalu memaksanya. Inspirasi itu seperti kucing, Arlan. Kalau kau mengejarnya dengan kasar, dia akan lari. Cobalah menulis hal yang paling sederhana. Apa yang kau rasakan sekarang?"

Aku ingin menjawab: Aku merasa takut jika aku berhenti mengetik, jantungku di dunia lain akan berhenti berdetak.

Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah, "Aku merasa kehilangan fokus."

Aku mencoba menekan satu huruf. T.

Tiba-tiba, tuts itu terasa sangat berat. Seolah aku sedang menekan bongkahan timah. Tanganku gemetar. Di dalam kepalaku, suara Maya mulai tumpang tindih dengan suara bising yang statis, seperti radio yang tidak mendapatkan sinyal.

Bzzzzzt—

"Tensi darahnya turun! Beri suntikan epinefrin!"

Suara itu melengking, memotong keheningan loteng. Aku mengerang, menutup telingaku dengan kedua tangan.

"Arlan! Ada apa?" Maya mendekat, mencoba menyentuh tanganku.

"Suara itu, Maya! Kau tidak dengar?" teriakku frustrasi. "Suara mesin itu! Suara orang-orang yang berteriak tentang tensi dan suntikan!"

Maya menatap sekeliling loteng yang sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari luar jendela dan detak jam dinding kuno. "Tidak ada suara apa pun di sini, Arlan. Hanya ada kita. Kau kelelahan. Kau harus tidur."

"Tidak! Aku tidak boleh tidur!" aku membentak, membuat Maya tersentak mundur.

Jika aku tidur di dunia ini, apakah itu berarti aku akan bangun di sana? Di tempat yang penuh selang dan rasa sakit? Tempat di mana aku kembali menjadi Arlan yang bisu? Aku tidak siap. Aku belum siap meninggalkan dunia di mana aku memiliki suara.

Aku kembali memaksa jemariku ke atas mesin ketik. Dengan napas terengah, aku mencoba mengetik apa saja. Namun, yang keluar di atas kertas bukan lagi huruf Latin. Tinta hitam itu merembes, membentuk pola grafik garis-garis yang naik turun—persis seperti tampilan monitor EKG.

Aku menarik kertas itu dengan kasar, meremasnya menjadi bola, dan melemparkannya ke lantai.

"Arlan, berhenti!" Maya memegang kedua bahuku, memaksaku menatap matanya. "Lihat aku. Tarik napas. Kau ada di sini. Di Gema Sastra. Tahun 1982. Kau adalah penulisku."

Aku menatap mata cokelatnya. Di sana, aku melihat pantulan diriku. Bukan Arlan yang lemah di ranjang rumah sakit, melainkan Arlan yang mengenakan kemeja katun, yang dicintai oleh kata-katanya sendiri.

"Aku takut, Maya," suaraku pecah. "Aku takut jika aku tidak bisa menulis lagi, aku akan menghilang dari hadapanmu."

Maya tersenyum sedih. Ia mengambil telapak tanganku, lalu menempelkannya ke dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang teratur dan hangat. "Aku nyata selama kau percaya aku nyata, Arlan. Jangan tulis tentang masa depan atau pelabuhan jika kau tidak bisa. Tulislah tentang ketakutanmu. Jadikan rasa takut itu sebagai tinta."

Aku tertegun. Kata-katanya meruntuhkan tembok yang menghambatku.

Aku kembali menghadap mesin ketik. Kali ini, aku tidak membayangkan pelabuhan. Aku membayangkan sebuah ruangan putih yang dingin, dan seorang remaja yang mencoba mendobrak pintu keluar menuju dunia yang penuh warna.

Tik.

Satu huruf akhirnya tercetak. Lalu diikuti huruf lainnya. Mesin ketik itu tidak lagi terasa berat. Tinta hitamnya mulai mengalir lancar, membentuk kata demi kata yang jujur dan menyakitkan.

Aku sedang menulis tentang "Penjara Putih". Tanpa kusadari, writer's block itu bukan karena aku kehilangan ide, tapi karena aku terlalu takut untuk menuliskan kebenaran yang mulai kusadari.

Di pojok loteng, jam dinding yang tadi bergetar kembali berdetak normal. Namun, jarum panjangnya kini menunjuk ke angka yang berbeda. Waktu di dunia ini mulai berpacu dengan waktu yang tersisa di sana.

More Chapters