Ficool

Chapter 13 - Bab 13: Bayangan dari Lembah Kuno

Metropolis di waktu fajar biasanya diwarnai oleh hiruk-pikuk mesin pembersih jalan dan dengung kendaraan logistik, namun di Distrik Sembilan, suasana pagi itu terasa seperti waktu yang membeku. Udara di sekitar Villa Nomor Sembilan mendadak menjadi sangat dingin, bukan dingin yang berasal dari embun pagi, melainkan dingin yang membawa aroma kayu cendana kuno dan bau karat besi yang tajam. Kabut putih yang sangat tebal merayap naik dari dasar bukit, menelan pepohonan, menelan lampu-lampu jalan, hingga akhirnya menyentuh pagar tinggi villa tersebut.

Di balkon lantai dua, Ling Feng berdiri dengan posisi tegak, kedua tangannya disilangkan di depan dada. Ia mengenakan kemeja hitam baru yang diberikan Dr. Mo, kainnya nampak berkilau halus di bawah sisa cahaya bulan yang memudar. Di belakangnya, Qin Zhen dan Lin Jian berdiri dengan tubuh yang secara tidak sadar gemetar.

"Tuan Ling..." suara Lin Jian bergetar, matanya menatap layar tabletnya yang kini hanya menampilkan garis-garis statis. "Semua sensor Array yang saya pasang semalam... mereka tidak rusak, tapi mereka seolah-olah dipaksa diam oleh frekuensi yang sangat kuat. Tidak ada gerakan di radar, tapi insting saya mengatakan ada sesuatu yang besar di balik kabut itu."

Ling Feng tidak menoleh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin. "Itu disebut [Medan Dominasi Qi]. Seseorang mencoba menggunakan auranya untuk menekan hukum alam di sekitarnya. Lin Jian, teknologi yang kau buat masih menggunakan listrik, sedangkan yang datang ini menggunakan energi yang lebih tua dari peradabanmu."

Tepat saat kalimat itu selesai, kabut di depan gerbang villa terbelah dengan cara yang tidak alami, seolah-olah ada pedang raksasa yang memotongnya dari tengah. Dari dalam putihnya kabut, muncul sosok pemuda yang nampak seperti keluar dari lukisan klasik. Ia mengenakan jubah Hanfu putih bersih dengan sulaman awan perak di bagian pundak. Rambutnya diikat rapi dengan jepit giok, dan di punggungnya tersampir sebuah pedang panjang yang memancarkan aura biru es.

Setiap langkah yang diambil pemuda itu membuat aspal di bawah kakinya memutih karena embun beku. Ini adalah Mo Chen, murid inti dari Lembah Pedang Tersembunyi, sebuah faksi yang selama ini hanya dianggap mitos oleh para elit korporasi Metropolis.

"Ling Feng!" suara Mo Chen menggelegar, namun anehnya, suara itu tidak terdengar oleh telinga manusia di luar radius seratus meter. Suara itu dikirim langsung menggunakan Qi ke dalam jiwa setiap orang di dalam villa. "Aku, utusan dari Lembah Pedang, datang untuk menjalankan keadilan! Kau telah membantai praktisi luar kami dan menghina martabat kaum persilatan. Keluar dan bersujudlah, atau aku akan memastikan tempat ini menjadi kuburanmu sebelum matahari terbit!"

Ling Feng tidak membalas dengan teriakan. Ia hanya melangkah maju, melewati balkon, dan bukannya turun lewat tangga, ia melangkah ke udara kosong. Di mata Qin Zhen yang terbelalak, Ling Feng nampak seolah-olah sedang menuruni tangga yang tak terlihat. Setiap pijakannya di udara menciptakan riak ungu yang halus. Ia mendarat di tanah dengan sangat ringan, bahkan debu pun tidak terbang saat kakinya menyentuh bumi.

"Keadilan?" Ling Feng menatap Mo Chen dengan tatapan yang sangat meremehkan, seolah ia sedang melihat seekor semut yang mencoba bicara tentang hukum alam. "Lembah Pedang Tersembunyi... Aku ingat pernah menghancurkan sekte dengan nama serupa sepuluh ribu tahun yang lalu. Apakah kalian sisa-sisa pecundang yang berhasil merangkak keluar dari lubang tanah?"

Wajah Mo Chen yang tadinya tenang dan angkuh langsung memerah padam. Sebagai jenius dari Lembah Pedang yang telah mencapai Kelas Raja Tahap 1 di usia muda, ia adalah sosok yang disembah di pegunungan barat. Tidak ada yang berani bicara seperti itu kepadanya.

"Lancang! Beraninya kau menghina leluhur kami!" Mo Chen mencabut pedangnya dalam satu gerakan kilat.

SRIIIINNNGGGG!

Suara pedang itu begitu jernih hingga membuat telinga Lin Jian dan Qin Zhen berdarah. Bilah pedang itu bersinar biru terang, memancarkan hawa dingin yang luar biasa. "Ini adalah Pedang Embun Es, pusaka yang ditempa dari meteorit kutub! Di bawah teknik [Tebasan Pembelah Langit] milikku, tidak ada raga fana yang bisa bertahan!"

Mo Chen melesat maju. Kecepatannya benar-benar berada di level yang berbeda dari pasukan Bio-Gene. Ia nampak seperti kilatan cahaya biru yang membelah kabut. Dalam satu detik, ia sudah berada di depan wajah Ling Feng, mengayunkan pedangnya dalam lengkungan yang sempurna yang mengunci semua titik buta.

Ling Feng tetap berdiri diam. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya untuk menangkis. Saat mata pedang yang dingin itu tinggal beberapa milimeter dari lehernya, Ling Feng hanya menghembuskan napas pelan.

DUMMM!

Sebuah tekanan aura yang luar biasa masif meledak dari tubuh Ling Feng. Tekanan ini berasal dari Pembersihan Darah Tahap 4 yang baru saja ia sempurnakan. Bagi Mo Chen, rasanya seolah-olah ia baru saja mencoba menusuk sebuah planet. Pedang pusakanya yang berharga tiba-tiba berhenti di udara, tertahan oleh dinding energi transparan yang begitu keras hingga pergelangan tangan Mo Chen retak seketika karena momentumnya sendiri.

"Hanya ini?" tanya Ling Feng, suaranya terdengar seperti bisikan dewa kematian tepat di telinga Mo Chen.

Ling Feng mengangkat tangan kanannya, hanya menggunakan dua jari—telunjuk dan tengah—untuk menjepit bilah pedang biru tersebut.

KREEEEKKK...

Mata Mo Chen hampir keluar dari kelopaknya. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedang pusaka yang diklaim tak terhancurkan itu mulai retak di bawah jepitan dua jari Ling Feng. Cahaya biru pada pedang itu meredup, seolah-olah ia ketakutan berada di hadapan sang Kaisar.

"Kelas Raja... kalian menamakan tingkat rendahan ini sebagai Raja?" Ling Feng sedikit menekan jarinya.

PRANKKKK!

Pedang Embun Es itu hancur menjadi ribuan kepingan kristal biru. Ling Feng kemudian menggerakkan telapak tangannya, memberikan dorongan ringan ke dada Mo Chen. Dorongan itu nampak lambat, namun membawa berat ribuan ton tekanan Qi.

BUMMM!

Mo Chen terpental seperti peluru, menembus kabut tebal, menghantam pilar beton gerbang villa hingga hancur berkeping-keping, dan akhirnya tersungkur di aspal jalanan dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Jubah putihnya yang suci kini kotor oleh debu dan darahnya sendiri yang berwarna merah segar.

Ling Feng berjalan mendekat, setiap langkahnya menciptakan tekanan gravitasi yang membuat Mo Chen tidak bisa mengangkat kepalanya dari aspal.

"Dengarkan baik-baik, serangga," ucap Ling Feng sambil menginjak salah satu kepingan pedang yang patah. "Aku membiarkanmu hidup hari ini bukan karena aku berbelas kasih, tapi karena aku butuh anjing untuk menyampaikan pesan. Beritahu tetuamu di lembah itu... jika mereka ingin kepalaku, mereka harus membawa seluruh koleksi tanaman obat dan batu roh milik sekte kalian sebagai persembahan. Jika tidak... aku sendiri yang akan mendatangi lembah kalian dan merubahnya menjadi kawah sedalam neraka."

Ling Feng melepaskan auranya, dan seketika kabut tebal yang menyelimuti area itu lenyap tertiup angin kencang, menampakkan pemandangan Metropolis yang sudah mulai terang. Mo Chen, dengan sisa kekuatannya, merangkak bangun dan memicu jimat pelarian di sakunya, menghilang dalam kepulan asap perak dengan rasa malu yang akan membekas selamanya.

Ling Feng berbalik dan menatap Qin Zhen yang masih mematung. "Qin Zhen, siapkan mobil. Kita tidak menunggu mereka datang. Kita yang akan mendatangi 'Lembah' mereka. Aku merasa di sana ada sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar pendekar-pendekar palsu ini."

Di matanya, Lembah Pedang Tersembunyi bukan lagi sebuah ancaman, melainkan sebuah "Gudang Sumber Daya" yang siap untuk dijarah guna mencapai Tahap 5.

More Chapters