Ficool

Chapter 15 - Bab 15: Runtuhnya Kesombongan Sembilan Segel

Malam di Pegunungan Barat seolah kehilangan suaranya. Bulan purnama yang menggantung di langit nampak pucat, cahayanya tertahan oleh kabut hijau yang berputar-putar di mulut Lembah Pedang Tersembunyi. Secara historis, kabut ini adalah maut bagi siapa pun yang tidak diundang. Ia adalah [Array Sembilan Segel Pengunci Jiwa], sebuah mahakarya kuno yang menggabungkan frekuensi mineral magnetik dari perut bumi dengan sirkulasi Qi yang sangat rumit.

Udara di area itu terasa korosif, setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca yang membakar paru-paru. Suara dengungan frekuensi tinggi dari array tersebut menciptakan tekanan psikologis yang bisa membuat praktisi Kelas Emas sekalipun berlutut dalam kegilaan hanya dalam waktu sepuluh menit.

Namun, di tengah badai energi yang mematikan itu, sebuah sosok muncul dari kegelapan hutan.

Ling Feng berjalan dengan langkah yang sangat santai, seolah-olah dia sedang berjalan di taman pribadinya. Kedua tangannya disilangkan di belakang punggung, wajahnya tenang tanpa ekspresi, dan matanya yang berwarna ungu redup menatap lurus ke depan—menembus kabut hijau yang tebal. Jubah hitam yang ia kenakan tidak berkibar karena angin, melainkan karena dorongan energi murni yang terpancar dari setiap pori-pori kulitnya.

Setiap kali telapak kaki Ling Feng menyentuh tanah, terjadi sebuah fenomena yang mengerikan. Rumput yang membeku karena hawa dingin array mendadak berubah menjadi abu, dan kabut hijau yang mendekat dalam radius tiga meter darinya langsung buyar, seolah-olah ia sedang menabrak dinding yang jauh lebih panas dari matahari.

"Tuan Ling... dia tidak melambat sedikit pun," bisik Qin Zhen yang memantau dari kejauhan menggunakan teropong termal. Wajahnya bersimbah keringat dingin melihat angka-angka di monitornya yang menunjukkan bahwa tingkat energi di sekitar Ling Feng sudah melampaui batas pembacaan sensor.

Di dalam pusat aula Lembah Pedang, kepanikan massal mulai terjadi. Para murid inti yang biasanya memandang rendah dunia fana kini berkumpul di depan cermin air pemantau dengan tubuh gemetar.

"Kenapa Segel Pertama tidak bereaksi?!" teriak seorang murid senior, suaranya melengking karena ketakutan. "Dia berjalan di atas garis nadi array, tapi tidak ada satu pun jebakan yang meledak! Apakah array-nya rusak?!"

Elder Gu, pemimpin tertinggi sekte yang duduk di singgasana batu, perlahan membuka matanya. Wajahnya yang keriput nampak sangat tegang. "Bukan rusak... tapi dia berjalan dengan ritme yang sama dengan jantung bumi. Array kita tidak bisa mendeteksi dia sebagai ancaman karena bagi array itu, pemuda itu adalah bagian dari alam semesta ini sendiri. Aktifkan Segel Kedelapan! Sekarang! Gunakan seluruh simpanan batu roh untuk menghancurkan jiwanya!"

Seketika, seluruh lembah bergetar. Kabut hijau itu mendadak memadat, berubah warna menjadi merah darah dan mengeluarkan petir-petir kecil yang menyambar ke arah Ling Feng. Ini adalah kekuatan penuh dari sebuah sekte yang sudah berdiri ratusan tahun, sebuah hantaman energi yang secara teoritis bisa meratakan sebuah kota kecil.

Ling Feng berhenti melangkah tepat di depan gerbang batu raksasa yang menjadi jantung dari array tersebut. Ia mendongak, menatap ke arah pusaran petir merah di atas kepalanya dengan tatapan bosan.

"Hanya segini kemampuan kalian dalam memanipulasi energi alam?" suara Ling Feng terdengar sangat jernih, merambat melalui getaran udara yang membeku. "Kalian memiliki harta karun di bawah kaki kalian, tapi kalian menggunakannya seperti kera yang memegang pedang pusaka. Memuakkan."

Ling Feng tidak membuat segel tangan. Ia tidak merapalkan mantra. Ia hanya mengangkat kaki kanannya sedikit lebih tinggi dari biasanya.

Saat kakinya mulai turun menuju tanah, seluruh udara di Pegunungan Barat mendadak tersedot ke satu titik di bawah telapak kakinya, menciptakan kondisi hampa udara yang menyakitkan bagi siapa pun di sekitarnya.

TAP.

Hanya suara pelan, seperti sebuah batu kecil yang jatuh ke danau yang tenang. Namun, dampaknya adalah kiamat kecil bagi Lembah Pedang.

BOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMM!

Goncangan yang dihasilkan membuat seluruh pegunungan seolah-olah meloncat dari tempatnya. Sebuah gelombang kejut yang murni dan padat merambat melalui struktur batuan tebing. Mineral magnetik yang menjadi fondasi array itu tidak hanya retak, mereka meledak menjadi debu halus karena tidak mampu menahan frekuensi getaran yang disalurkan Ling Feng.

Gerbang batu raksasa seberat ratusan ton itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi, seolah-olah dipotong oleh laser raksasa, sebelum akhirnya rubuh dan hancur berkeping-keping. Kabut merah yang tadinya ganas seketika lenyap, hancur berkeping-keping menjadi partikel energi yang tak bermakna.

Ini bukan jurus. Ini bukan teknik rahasia. Ini adalah murni Penindasan Level Keberadaan.

Ling Feng berjalan melewati reruntuhan gerbang yang masih berasap. Di depannya, ratusan murid pedang berdiri dengan senjata terhunus, namun tangan mereka gemetar begitu hebat hingga pedang-pedang itu mengeluarkan suara berdenting yang menyedihkan.

"Serang! Jika dia tidak mati, kita semua yang akan mati!" teriak seorang Tetua Kelas Emas sambil melesat maju dengan pedangnya yang membara.

Ling Feng tidak menoleh. Saat Tetua itu berada dalam jarak lima meter darinya, Ling Feng hanya menghembuskan napas secara sadar. Tekanan udara dari napasnya yang mengandung Qi Tahap 4 menghantam tubuh Tetua itu seperti dihantam oleh kereta api ekspres. Tetua itu terpental ke belakang, menabrak tembok kuil hingga hancur, dan langsung pingsan dengan seluruh tulang rusuk yang remak.

Melihat Tetua mereka dikalahkan hanya dengan sebuah "hembusan napas", keberanian para murid lainnya runtuh seketika. Mereka menjatuhkan pedang mereka dan mundur dalam ketakutan yang tak terkatakan.

Ling Feng terus melangkah maju, menaiki anak tangga batu menuju kuil utama di mana Elder Gu sudah menunggu dengan wajah sepucat mayat. Setiap langkah Ling Feng meninggalkan retakan berbentuk telapak kaki yang bersinar ungu di atas lantai batu padat tersebut.

"Kau... kau bukan manusia," bisik Elder Gu, suaranya serak. Ia memegang pedang pusakanya, tapi ia bahkan tidak sanggup mengangkatnya karena tekanan aura Ling Feng sudah membuat gravitasi di sekitar tempat itu terasa sepuluh kali lipat lebih berat.

"Manusia atau bukan, itu bukan urusanmu," ucap Ling Feng sambil berdiri di depan sang Elder. "Di masaku, tempat seperti ini bahkan tidak layak menjadi gudang penyimpanan kotoran ternakku. Berikan aku kunci gudang obatmu, atau aku akan memastikan pegunungan ini menjadi nisan bagi seluruh muridmu malam ini."

Ling Feng berdiri tegak, auranya menyelimuti seluruh lembah, mematikan semua sumber cahaya buatan dan hanya menyisakan pendar ungu dari tubuhnya. Di belakangnya, barisan truk logistik Qin Zhen mulai masuk, siap untuk menjarah apa yang selama ini dianggap suci oleh sekte tersebut.

Malam itu, dunia kultivasi Metropolis menerima pesan yang sangat jelas: Hukum lama telah mati. Dan penguasa barunya tidak butuh jurus untuk menghancurkan sejarah kalian.

More Chapters