Ficool

Chapter 224 - Rasa dari Kendali

Musim gugur terus bergerak perlahan, membawa udara dingin yang menggigit bersamanya. Namun bagi Kaivan, hawa dingin bukanlah ancaman yang sesungguhnya. Bahaya yang nyata bersembunyi di balik dinding baja dan rahasia yang terjalin di setiap kabel sistem.

Hari-harinya di dalam bunker berlalu lambat, seperti awan musim dingin yang mengapung tanpa tujuan. Kaivan mulai lebih sering berbicara dengan Lyra, satu-satunya suara yang selalu menjawabnya.

"Lyra," panggilnya di depan monitor. "Apa kau tahu bagaimana keadaan teman-temanku di sana?"

Suara Lyra terdengar lembut, hampir menenangkan.

"Mereka baik-baik saja, Kaivan. Kehidupan mereka berjalan seperti biasa. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."

Namun kata-kata itu justru memperdalam kegelisahannya. Kaivan tidak pernah melihat bukti apa pun. Kecurigaan datang diam-diam, menyebar seperti racun halus di bawah kulitnya.

Sementara itu, jauh di fasilitas lain tempat teman-temannya ditahan, cahaya putih yang menyilaukan membanjiri ruang pelatihan tanpa belas kasihan. Data mengalir di monitor-monitor: detak jantung, koordinat, hingga peluru simulasi yang membelah udara virtual. Dentingan mesin dan desisan listrik menyatu menjadi irama tanpa kehidupan.

Seorang peneliti berjubah laboratorium putih berdiri di tengah ruangan. Suaranya bergema melalui pengeras suara.

"Hari ini, nilai tertinggi masih dipegang oleh Livia."

Para subjek menoleh hampir bersamaan. Raphael berdiri tegak, lalu mengalihkan pandangannya kepada gadis berambut pirang yang berada di sudut ruangan. Ia mengangguk kecil, menyembunyikan kekaguman tipis di balik tatapan yang selalu terjaga.

"Aku tidak menyangka Livia bisa tetap sempurna dalam setiap simulasi," gumamnya pelan. Kata-katanya terdengar seperti analisis logis yang berusaha menyamarkan rasa kagum.

Ethan melangkah maju. Langkahnya sedikit goyah, tetapi matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Hei, ajari aku. Bagaimana caranya kau bisa setepat itu setiap kali menembak?"

Livia memandang Ethan dengan mata biru sedalam lautan tanpa dasar. Ia mengangkat satu jari, menirukan gerakan menarik pelatuk.

"Yah... kau menunggu sampai benar-benar yakin. Dan ketika rasanya sudah tepat... kau tinggal menembak."

Jawabannya terdengar ringan, tetapi meninggalkan gema kosong. Seolah bahkan dirinya sendiri tidak sepenuhnya memahami bakat yang dimilikinya, atau mungkin sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap.

Bersandar pada pilar baja, Radit melirik Frans.

"Kau paham maksudnya?" bisiknya, setengah terhibur dan setengah bingung.

Frans mengusap tengkuknya yang lembap.

"Mungkin... aku paham bagian menunggu dan bagian 'terasa tepat' itu, tapi... kapan sebenarnya harus menembak? Apa maksud dari 'tepat' itu?"

Sebelum kebingungan itu menyebar lebih jauh, seorang peneliti kembali berbicara melalui pengeras suara. Nada suaranya berat namun terdengar ramah.

"Jangan khawatir, Ethan. Meskipun nilai menembakmu rendah, kau masih berada di peringkat ketiga untuk pertarungan jarak dekat."

Ethan memaksakan senyum tipis, tetapi cahaya di matanya sedikit meredup. Pandangannya beralih kepada Felicia dan Raphael, dua sosok yang tampak seperti patung dewa perang. Felicia yang bertubuh ramping namun memancarkan ancaman yang sunyi. Raphael yang berdiri tegak dan dingin; baginya, kesempurnaan bukanlah kebanggaan, melainkan beban.

"Tapi tetap saja... aku masih jauh dari mereka," gumam Ethan nyaris tak terdengar.

Kata-katanya larut ke udara dingin laboratorium, seperti asap yang tidak pernah benar-benar menghilang.

Ketegangan itu pecah ketika Zinnia berbicara dari atas tumpukan peti persediaan. Ia mengayunkan kedua kakinya dengan santai.

"Ayolah. Selama nilai kita di atas rata-rata, itu sudah cukup bagus. Sekarang waktunya makan."

Tidak ada yang bergerak. Kata makan tidak membawa kelegaan apa pun. Di tempat ini, bahkan makanan pun merupakan bagian dari eksperimen. Mereka tahu setiap suapan bisa saja dicampur obat penenang, dan setiap makanan yang masuk ke mulut mereka dipantau oleh sensor tersembunyi.

Kamera di sudut ruangan tetap menyala, merekam semuanya. Di sebuah ruangan gelap jauh di bawah tanah, seseorang mengawasi dalam diam, mencatat setiap detak jantung, setiap perubahan ekspresi, dan setiap tekanan yang perlahan tumbuh di balik wajah-wajah tenang mereka.

Di luar sana, senja berubah menjadi selubung abu-abu yang menyapu daratan dengan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Daun-daun musim gugur yang tertangkap kamera luar melayang turun perlahan seperti serpihan waktu yang mulai usang. Langit berada jauh di luar jangkauan pandangan, namun kemuramannya tetap meresap ke dalam dinding beton bunker.

Di fasilitas bawah tanah itu, keheningan membungkus ruang seperti selimut tak kasatmata. Hanya dengungan mesin dan embusan stabil pendingin udara yang tersisa, ditemani suara langkah kaki samar yang muncul dan menghilang tanpa peringatan. Cahaya neon redup memantul di permukaan dinding logam yang steril, menciptakan bayangan lembut yang bergetar di setiap sudut.

Kaivan berdiri di depan pintu dapur. Tubuhnya tegak dan kaku, sementara matanya menyapu ruangan dengan penuh kewaspadaan. Ia menarik napas dalam sebelum mendorong pintu otomatis yang terbuka dengan desisan lembut. Udara dingin segera menyentuh kulitnya.

"Aku harus tahu di mana pisau-pisau disimpan," bisiknya. "Untuk berjaga-jaga... kalau aku membutuhkannya saat mencoba melarikan diri."

Langkahnya nyaris tanpa suara saat bergerak di antara rak logam dan laci-laci yang diberi label. Sebuah kamera di sudut ruangan mengikutinya dengan gerakan lambat dan presisi. Ketika ia membuka laci penyimpanan pisau, sebuah sensor memancarkan cahaya samar. Deretan bilah yang tersusun rapi berkilau di bawah lampu, masing-masing dilengkapi chip kecil yang berkedip merah.

Kaivan mengambil salah satunya. Beratnya terasa biasa saja, namun cukup untuk menguatkan tekadnya. Ia melangkah melewati garis ambang pintu, dan seketika lampu merah berkedip sementara bunyi bip lembut terdengar.

"Alarm... bahkan di dapur," gumamnya pahit. "Mereka sudah menutup setiap celah."

Ia mengembalikan pisau itu tanpa ekspresi. Hanya tatapan kosong yang tersisa, tatapan seseorang yang telah terbiasa dengan batasan-batasan yang tak bisa ditembus. Matanya kemudian beralih ke lemari pendingin. Saat pintunya terbuka, cahaya putih tumpah ke udara dingin. Di dalamnya tersimpan bahan-bahan segar yang tertata rapi: potongan daging steak, cabai, beras, kecap asin, mentega, dan satu kantong kecil kacang tanah.

Kaivan mengembuskan napas pelan. Senyum samar muncul di wajahnya. Bukan karena bahagia, melainkan karena menerima sebuah kebetulan kecil dengan pasrah.

"Sudah lama sejak terakhir kali aku makan nasi," gumamnya sambil mulai menyiapkan bahan-bahan itu.

Ia mencuci beras, mengaduk butiran-butiran putih itu dengan ujung jarinya. Air keruh perlahan berubah jernih. Ia menyalakan pemanas, lalu menambahkan garam, mentega, serai, dan bawang merah yang telah ditumis. Aroma kulit lemon parut kemudian memenuhi ruangan, menembus bau antiseptik dan logam yang selama ini mendominasi udara.

Ia memotong daging menjadi kubus-kubus kecil. Setiap gerakannya presisi, seolah pisau itu merupakan perpanjangan dari pikirannya sendiri. Potongan-potongan daging itu kemudian direndam dalam susu, dicampur kecap asin dan lada hitam. Tangannya bergerak tenang, seakan memasak adalah bentuk doa yang tak pernah diucapkan.

Ia menghancurkan kacang tanah menggunakan botol kaca, lalu mencampurnya dengan gula, cabai, dan air hangat. Bunyi tumbukan yang tumpul menjadi satu-satunya irama yang terdengar di ruangan dingin itu.

 

More Chapters