Di bawah cahaya biru yang redup, tubuh kecil Kaivan tampak begitu rapuh. Ia membaca data yang tertulis di dalam berkas itu, baris demi baris.
Radit
Emosi: Tinggi | Pola Makan: Protein | Intervensi: CRISPR ringan, BDNF
Interpretasi: Kuat, cepat, membutuhkan stabilisasi.
Peran: Prajurit / Penjelajah / Ahli Bertahan Hidup.
Felicia
Emosi: Sedang | Pola Makan: Ayam, kedelai | Intervensi: Terapi genetik, BDNF, HGH
Interpretasi: Seimbang, pemulihan sangat cepat. Hampir sempurna.
Peran: Eksekutor.
Zinnia
Emosi: Tinggi | Pola Makan: Sayuran | Intervensi: HGH
Interpretasi: Cerdas, memiliki daya tahan tinggi.
Peran: Penggerak Massa.
Frans
Emosi: Rendah | Pola Makan: Protein | Intervensi: CRISPR ringan, BDNF
Interpretasi: Tenang, analitis.
Peran: Pilot.
Raphael
Emosi: Rendah | Pola Makan: Protein | Intervensi: BDNF, HGH
Interpretasi: Stabil dan kuat.
Peran: Ahli Strategi.
Ethan
Emosi: Rendah | Pola Makan: Protein, sayuran | Intervensi: Senolitik
Interpretasi: Umur panjang yang tinggi.
Peran: Ahli Bertahan Hidup.
Isabel
Emosi: Tidak Stabil | Pola Makan: Kedelai, biji-bijian | Intervensi: Modifikasi genetik, BDNF, regulasi neurotransmiter, HGH
Interpretasi: Kompleks, potensi tinggi, risiko tinggi.
Peran: Inisiator.
Thivi
Emosi: Tinggi | Pola Makan: Vegetarian | Intervensi: Modifikasi genetik dosis tinggi
Interpretasi: Potensi menjadi penghancur... atau penyelamat.
Peran: Orator / Analis.
Livia
Emosi: Sedang | Pola Makan: Protein, sayuran | Intervensi: Modifikasi genetik, HGH, nootropik
Interpretasi: Seimbang, analitis.
Peran: Eksekutor.
Kaivan menggigit bibirnya. Kedua tangannya bergetar hebat. Nama-nama itu bukan sekadar data. Mereka adalah teman-temannya. Orang-orang yang tertawa, bertarung, dan bertahan hidup bersamanya. Namun kini mereka tidak lagi diperlakukan sebagai manusia. Mereka telah diubah menjadi eksperimen. Menjadi subjek. Menjadi alat bagi ambisi yang dingin dan tanpa belas kasihan.
Ia mencengkeram map itu erat-erat. Wajahnya dipenuhi campuran amarah dan kesedihan. "Apa yang telah mereka lakukan...?" bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
Dalam luapan emosi yang mendadak, ia menendang rak arsip di depannya. Logam itu bergetar keras, menimbulkan dentingan nyaring yang menggema ke seluruh ruangan kosong. Ia tidak peduli. Matanya menyala seperti bara api.
"Aku harus menemui mereka..." katanya pelan namun tegas. Ia menyapu seluruh berkas dari atas meja dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang dibawanya. "Aku harus tahu apa yang masih tersisa dari diri mereka."
Saluran ventilasi di atas kepalanya sempit dan dipenuhi debu. Ia merangkak perlahan ke depan. Tubuh kecilnya menyelinap di antara logam dingin seperti bayangan yang tak memiliki bentuk. Napasnya tertahan rapat, dada naik turun dengan sangat samar. Setiap gesekan dengan dinding ventilasi menghasilkan suara lirih yang hampir tak terdengar, sementara keringat dingin mengalir di pelipisnya. Di antara dentuman jantung yang terus berdetak, hanya ada dua suara yang tersisa. Desisan mesin yang tak pernah berhenti, dan napasnya sendiri yang berusaha ia sembunyikan.
