Ficool

Chapter 180 - Sarapan Sebelum Badai

Ekspresi Tania perlahan berubah, secercah harapan rapuh mulai muncul di matanya. "Kau pikir begitu?" bisiknya pelan.

Vella tersenyum tipis. "Iya. Kaivan mungkin keras kepala, tapi selalu ada cara untuk membuatnya mendengarkan. Dan mungkin... aku bisa membantumu."

Rapi memperhatikan senyum itu dengan rasa tidak nyaman yang semakin besar. Vella terlalu cerdas untuk menawarkan bantuan tanpa tujuan tertentu. Saat ia memutuskan membantu seseorang, jarang sekali itu murni karena kebaikan hati. "Nona Vella... kita masih punya pertemuan dengan beberapa pebisnis penting," ucapnya pelan, mencoba mengalihkan perhatian wanita itu.

Namun Vella hanya meliriknya sekilas lalu tersenyum. "Tenang saja, Rapi. Batalkan saja. Malam ini aku cuma ingin membantu teman baru."

Rapi mengangguk tanpa mampu membantah. Jauh di dalam hati, ia berharap keputusan ini tidak akan membawa masalah baru. Namun melihat tekad di mata Vella, ia tahu malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang akan mengubah hidup Kaivan, Tania, dan mereka sendiri.

---

Keesokan paginya, rumah Kaivan terasa berbeda. Biasanya rumah itu sunyi, hanya dipenuhi suara langkah Kaivan saat mengerjakan pekerjaan rumah, namun kini rumah kecil itu ramai seperti sedang mengadakan perayaan.

Di ruang tamu, Radit dan Frans sibuk membersihkan rumah. Radit dengan tubuh atletisnya memindahkan furnitur ke samping, sementara Frans menyapu lantai dengan semangat yang tak habis-habis. Mereka bekerja sama dengan baik, meski mungkin ini pertama kalinya mereka melakukan hal seperti itu.

Di belakang rumah, Raphael dan Ethan mengumpulkan daun-daun kering. Ethan yang terbiasa merawat taman memungut daun sambil bercanda dengan Raphael. Raphael yang biasanya muram dan tertutup kini terlihat hampir seperti pemuda biasa yang sedang menikmati segarnya udara pagi.

Di dapur, Felicia, Zinnia, dan Thivi menyiapkan sarapan. Felicia yang mengenakan celemek di pinggangnya memberi arahan dengan lembut. "Zinnia, ambilkan tepungnya. Thivi, tolong cek rotinya."

Zinnia mengangguk cepat sambil meraih tepung, sementara Thivi memeriksa roti panggang dengan mata setengah mengantuk. Suasananya sederhana, namun terasa hangat.

Di halaman belakang, Kaivan dan Isabel berdiri di bawah sinar matahari pagi yang lembut sambil menjemur pakaian yang baru dicuci. Angin ringan membawa aroma daun-daun yang baru disapu.

Kaivan melirik Isabel di sampingnya. Setelah ragu sejenak, ia bertanya, "Aku dengar kamu putus dengan pacarmu... Isabel, itu benar?"

Isabel berhenti sesaat saat merapikan kemeja di jemuran. Ia menoleh pada Kaivan, matanya yang biasanya tenang kini terlihat redup dan lelah. "Iya... kurang lebih begitu," jawabnya ringan, meski rasa sakit di balik suaranya terdengar jelas. "Menyebalkan, ya? Setelah semua yang kulakukan, akhirnya tetap berakhir seperti ini."

Kaivan berhenti bergerak dan menatapnya penuh perhatian. Ia menarik napas sebelum berbicara lembut. "Bagaimana kalau hari ini kita pergi keluar? Aku juga perlu beli koper. Aku butuh seseorang untuk membantuku memilih."

Isabel berkedip terkejut. Cahaya matahari pagi memantul di mata violetnya, membuat senyum rapuhnya tampak samar bercahaya. Ia tertawa kecil, lembut dan cerah. "Kamu sedang mencoba menghiburku, ya?" tanyanya pelan.

Kaivan menggeleng, meski senyum tipis di bibirnya sudah menjawab semuanya. "Aku cuma khawatir. Kamu diam terus sejak kemarin. Bahkan waktu pesta pun kamu tidak terlihat seperti biasanya. Jadi... aku ingin membuatmu merasa lebih baik."

Isabel menatapnya cukup lama, seolah mencari makna tersembunyi di balik kata-katanya, namun yang ia temukan hanya ketulusan. Ia mengembuskan napas perlahan lalu mengangguk. "Baiklah," ucapnya sambil tersenyum kecil. "Aku ikut."

Ibu Kaivan yang baru bangun pagi membeku di ambang pintu, terkejut melihat sekelompok remaja bekerja dengan semangat seperti itu. Frans dan Radit bergerak cepat menyapu dan mengepel hingga lantai mengilap. Raphael dan Ethan bolak-balik membawa kantong sampah ke luar rumah. Dari dapur, aroma masakan Felicia, Zinnia, dan Thivi menyebar lembut di udara, memberikan suasana hangat dan nyaman pada pagi itu.

Ibu Kaivan tersenyum lembut meski kebingungan masih terlihat di matanya. Saat ia melangkah maju, Livia mendekat lalu menggenggam tangannya dengan lembut. "Tante, istirahat saja, ya. Biar kami yang mengurus semuanya. Tante tinggal menikmati pagi ini saja," ucapnya dengan suara tulus dan menenangkan. Kilau samar muncul di sudut mata ibu Kaivan, tersentuh oleh kebaikan itu.

Tak lama kemudian, Teh Kira keluar dari lorong rumah dengan ekspresi bingung namun tersenyum melihat pemandangan di depannya. "Wah, kalian rajin sekali pagi-pagi begini," katanya kagum.

Livia tertawa kecil. "Iya, Teh. Teh sama Tante duduk santai saja di sofa. Nanti sarapannya kami antar," jawabnya penuh semangat.

Satu demi satu pekerjaan selesai dilakukan. Rumah itu terasa hangat, dipenuhi tawa, aroma makanan, dan suasana seperti keluarga besar yang berkumpul bersama. Mereka duduk melingkar di lantai sambil menikmati sarapan bersama.

Namun di tengah percakapan yang menyenangkan, Kaivan terlihat gelisah. Radit yang duduk di sampingnya menyenggol pelan, menyuruhnya berbicara. Setelah menarik napas panjang, Kaivan menatap lembut ibu dan kakaknya. "Bu, Teh Kira... minggu depan aku punya rencana. Aku ingin mengajak kita bertiga pergi ke Norwegia."

Ibunya langsung terdiam. "Minggu depan? Kaivan, itu terlalu mendadak," katanya cemas. Teh Kira ikut menambahkan pelan, "Pergi ke Norwegia itu mahal, Kaivan. Kita bayar pakai apa?"

Kaivan tersenyum lalu mengeluarkan buku tabungannya dari tas, memperlihatkan jumlah saldonya. "Cukup. Bahkan lebih dari cukup," ucapnya tenang.

Ibu dan kakaknya saling berpandangan, tersentuh namun juga bingung. "Uang sebanyak ini... kamu dapat dari mana?" tanya ibunya dengan suara gemetar, tak tahu harus merasa bangga atau khawatir.

Zinnia yang duduk dekat ibu Kaivan segera menjelaskan, "Tante, ini dari usaha kecil yang kami jalankan bersama. Kami semua setuju membantu mewujudkan mimpi Tante, karena kami tahu Tante selalu ingin melihat aurora di Norwegia."

Mendengar itu, Teh Kira terlihat bingung, namun ekspresinya perlahan melunak karena haru. "Usaha? Kalian sebenarnya melakukan apa?" tanyanya lembut.

Thivi menjawab pelan dengan senyum tenang. "Kami membeli ponsel bekas, membongkarnya, lalu mengumpulkan serpihan emas kecil di dalamnya. Kami kumpulkan, kami jual, dan... inilah hasilnya."

Radit menambahkan dengan senyum hangat, "Iya, Tante. Anggap saja ini hadiah kecil dari kami semua. Kaivan cuma ingin memberikan sesuatu yang berarti untuk Tante."

Kaivan menggenggam tangan ibunya erat, seolah ingin mengirimkan kehangatan lewat sentuhan itu. "Jadi... bagaimana, Bu? Minggu depan, kita pergi bersama, ya?" tanyanya dengan suara lembut penuh harapan.

Ibu Kaivan menatap putranya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia tersenyum di tengah luapan emosinya. "Iya, Kaivan. Terima kasih, Nak... dan terima kasih untuk kalian semua," ucapnya penuh rasa syukur.

 

More Chapters