Ficool

Chapter 174 - Dipeluk Tanpa Sebuah Janji

Kata-katanya menebas seperti bilah tajam yang diasah tanpa ampun. Intensitas di mata Kaivan membuat tubuh Tania gemetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, mengalir perlahan di pipinya. Lorong sekolah di sekitar mereka mendadak sunyi; waktu seakan berhenti saat Tania perlahan berlutut, menutupi wajahnya dengan tangan yang bergetar, sementara isak tangis lirihnya menggema menyakitkan di tengah keheningan.

Dari kejauhan, Felicia menyaksikan semua itu terjadi. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk berlari ke sisi Kaivan, namun lidahnya terasa kelu. Pada akhirnya, ia hanya mendekat dengan tenang dan berdiri di sampingnya tanpa sepatah kata pun, seperti bayangan sunyi yang menawarkan kehadirannya.

Radit, yang melihat semuanya, tak bisa terus diam. "Bukankah itu keterlaluan, Van?" tanyanya pelan, entah sedang mempertanyakan Kaivan atau dirinya sendiri. Namun Kaivan hanya meliriknya dingin, tatapannya cukup tajam untuk menusuk, sebelum memalingkan wajah. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan melangkah pergi, langkahnya mantap namun berat, meninggalkan lorong itu bersama seluruh kepingan yang telah hancur di dalamnya.

Tania masih terduduk di lantai, tubuhnya gemetar hebat di bawah tatapan diam para siswa di sekitarnya. Tangisnya semakin keras, melampaui sisa kendali yang masih ia miliki. Semua rasa sakit dan penyesalan yang selama ini ia pendam pecah begitu saja seperti bendungan yang runtuh.

Rina dan Dandi segera menghampirinya dengan wajah penuh kepanikan. Tania yang mereka kenal, sosok yang bangga, percaya diri, dan seolah tak tersentuh, kini benar-benar runtuh, memperlihatkan sisi rapuhnya tanpa tersisa.

"Itu tadi... benar-benar Kaivan?" bisik Dandi, masih sulit mempercayai apa yang baru saja ia lihat. "Rasanya seperti orang yang berbeda."

Rina berjongkok di samping sahabatnya, lalu meletakkan tangan di pundaknya dengan lembut. "Tidak apa-apa, Tan... jangan dengarkan dia. Dia cuma berusaha terlihat kuat." Suaranya terdengar lembut, meski keraguan samar terlihat di matanya.

Tiba-tiba, ponsel Tania bergetar di lantai tempat benda itu terjatuh. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya serasa jatuh: Darius.

Dengan tangan gemetar, ia mengangkat ponselnya. Namun suara yang terdengar bukanlah suara menenangkan yang ia harapkan.

"Maaf, Tania. Aku sekarang sudah punya pacar baru," ujar Darius datar, tanpa sedikit pun kehangatan.

Tania membeku.

"Kita putus." Klik.

Sambungan itu terputus begitu saja.

Ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai dengan bunyi pelan, terlalu kecil untuk menggambarkan hantaman yang menghancurkan dadanya. Dunia terasa berputar di sekelilingnya. Napasnya tertahan di tenggorokan. Rina dan Dandi menatapnya cemas, namun sebelum mereka sempat bicara, pandangan mereka beralih pada seseorang yang berjalan mendekati gerbang sekolah.

Darius, pria yang baru saja memutuskan Tania lewat telepon, kini berjalan santai menuju mereka.

Ia mendekati Felicia dengan senyum manis palsu yang dibungkus pesona murahan. "Felicia," ucapnya lembut, "maaf, ya? Aku baru putus... dan sekarang aku benar-benar butuh kamu."

Kaivan mendengarnya. Rasa jijik langsung melintas tajam di matanya. Kenangan lama muncul begitu saja, tentang motor yang pernah digadaikan Darius tanpa izin, tentang pengkhianatan yang disembunyikan di balik senyum ramah.

Kaivan melangkah maju dengan tenang, lalu melingkarkan tangannya dengan mantap di pinggang Felicia, menarik gadis itu lebih dekat ke dalam pelukan protektif.

"Felicia bersamaku," ucapnya pelan, suaranya rendah namun menusuk.

Felicia terkesiap lirih, pipinya langsung memerah. Namun kehangatan dalam pelukan Kaivan menenangkannya, kuat, stabil, dan entah kenapa terasa sangat nyaman. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.

Darius mendecih sinis. "Iya kah?. Seolah-olah dia mau jadi pacarmu."

Felicia menatap Kaivan sejenak, menarik napas perlahan, lalu berbicara dengan suara lembut namun jelas. "Dia bukan pacarku."

Darius menyeringai, mengira dirinya masih punya kesempatan" Berarti aku dan kamu..."

Namun Felicia melanjutkan ucapannya, suaranya tetap tenang tanpa keraguan sedikit pun. "Dia lebih dari itu. Aku adalah partner Kaivan... dan aku akan tetap berada di sisinya. Selalu."

Ia mengulurkan tangan dan menyelipkan jemarinya di sela jari Kaivan, menggenggam tangannya erat.

Ekspresi Darius runtuh seketika. Kepercayaan dirinya hancur begitu saja. Tak ada lagi yang bisa ia katakan, tak ada kata-kata yang mampu menandingi ketulusan dalam suara Felicia.

Radit menutup ponselnya lalu berbisik pada Kaivan, "Frans sudah datang. Menunggu di tikungan."

Kaivan mengangguk pelan, lalu melirik Darius sekali lagi. "Jangan ganggu Felicia lagi," katanya datar, namun tiap katanya terasa seperti perintah yang tak bisa dibantah.

Di halaman sekolah yang kini sunyi, Darius berdiri terpaku. Matanya kosong, bibirnya sedikit terbuka tanpa suara, seperti patung yang kehilangan jiwanya. Di hadapannya, Kaivan, Felicia, dan Radit berjalan pergi bersama, langkah mereka selaras seakan berbagi irama yang tak mungkin dipatahkan.

Sebuah mobil hitam elegan berhenti perlahan di depan gerbang. Frans, yang mengenakan setelan rapi dengan tatapan mata tajam dan waspada, menurunkan kaca jendela lalu memberi anggukan kecil. Tanpa banyak bicara, ketiganya mendekat.

"Masuk," ujar Frans tegas namun tenang.

Kaivan membuka pintu belakang dan mempersilakan Felicia masuk lebih dulu. Rambut panjang gadis itu berkibar lembut diterpa angin sore saat ia duduk anggun di kursi sebelah kiri. Kaivan masuk menyusul di sampingnya, sementara Radit duduk di depan bersama Frans.

More Chapters