Ficool

Chapter 175 - Kehangatan Tanpa Nama

Saat pintu mobil tertutup, dengungan lembut mesin memenuhi kabin. Frans melirik kaca spion belakang sejenak sebelum mulai melaju, meninggalkan sekolah bersama konflik yang sebenarnya belum sepenuhnya usai.

Di dalam mobil, keheningan terasa menyimpan ketegangan samar. Radit bersandar sambil menyilangkan tangan, lalu mengintip Kaivan melalui pantulan cermin.

"Kau tahu, Frans? Kaivan dan Felicia sekarang resmi pacaran," godanya santai.

Frans menoleh sedikit dengan alis terangkat. "Serius? Sejak kapan?"

Kaivan mengembuskan napas perlahan. "Bukan begitu. Aku cuma... ingin melindunginya dari Darius. Dia terus mengganggu Felicia sejak kemarin. Aku tidak tahan melihat itu."

Felicia mengangkat wajahnya, ekspresinya lembut namun dipenuhi keraguan. Ia menutupi mulutnya pelan, napasnya sedikit bergetar. "Jadi... semua tadi cuma akting?" bisiknya lirih, nada kecewa terselip di suaranya.

Kaivan membalas tatapannya dengan jujur tanpa goyah. Ia mengulurkan tangan dan menyibak rambut Felicia dengan lembut, sentuhan yang seolah ingin menenangkan badai di dalam hati gadis itu.

Felicia sempat menegang sesaat, namun ia tidak menjauh. Semburat merah tipis menghangatkan pipinya, sementara tatapannya perlahan melembut.

"Maaf," gumam Kaivan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan AC. "Aku terlalu terbawa emosi karena Tania. Tapi aku tidak pernah merendahkanmu."

Felicia mengangguk kecil, senyum tipis perlahan merekah di wajahnya. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Dan aku akan tetap berada di sisimu... apa pun yang terjadi."

Radit menghela napas panjang sambil memutar mata dramatis. "Pacaran beneran aja sekalian. Aku capek lihat beginian tiap hari."

Suasana di dalam mobil perlahan mencair. Frans terkekeh pelan sambil melihat ekspresi mereka melalui kaca spion. Ketegangan tadi menghilang, digantikan kehangatan lembut yang sulit dijelaskan.

Mereka menuju sebuah pusat perbelanjaan tua yang dijadikan markas tersembunyi, tempat yang nyaris ditinggalkan dan sempurna untuk menyusun strategi, merapikan perlengkapan, sekaligus menyimpan peralatan mereka. Di sana, Kaivan dan Felicia berpisah dengan Radit, Zinnia, dan Frans yang tetap berada di bengkel untuk membereskan persediaan.

Felicia menemani Kaivan menemui orang tua Livia. Sebelumnya, Livia sudah memberi tahu keluarganya tentang bisnis jual beli emas yang sedang mereka jalankan. Kini giliran Kaivan datang langsung untuk memastikan semuanya berjalan lancar dan legal.

Rumah itu sederhana, rapi, dan terasa hangat. Orang tua Livia menyambut mereka dengan ramah, lalu setelah perkenalan singkat, mereka duduk bersama di ruang tamu. Felicia memimpin percakapan secara profesional, menjelaskan rencana, kondisi pasar, hingga perkiraan keuntungan. Ayah Livia, yang berpengalaman di bidang investasi, mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Jadi, jumlah emas yang akan dijual Kaivan itu 492 gram?" tanyanya sambil mengangkat alis.

"Benar, Pak," jawab Kaivan, berusaha tetap tenang. "Untuk harga per gramnya... saya serahkan sepenuhnya kepada Bapak."

Ayah Livia saling bertukar pandang dengan istrinya sebelum akhirnya mengangguk. "Sejujurnya, saya tidak punya uang tunai sebanyak itu sekarang. Bagaimana kalau saya transfer langsung ke rekeningmu saja?"

Kaivan terdiam sesaat. Ia belum memiliki rekening bank. "Saya... belum punya rekening, Pak."

Senyum lembut muncul di wajah pria itu. "Tidak masalah. Besok kita bisa buatkan untukmu. Itu akan jauh lebih mudah."

Rasa lega langsung menyelimuti Kaivan. "Terima kasih, Pak. Besok saya akan menyiapkan emasnya."

Setelah kesepakatan selesai, Kaivan dan Felicia berpamitan lalu kembali menuju bengkel tempat Radit, Zinnia, dan Frans menunggu.

Saat pintu terbuka, Kaivan masuk dengan semangat yang terlihat jelas. Ekspresi cerahnya langsung menarik perhatian mereka.

"Kita berhasil, semuanya!" seru Kaivan penuh antusias. "Besok semua emasnya akan terjual, dan uangnya kita bagi rata. Sekitar dua puluh juta per orang!"

Radit langsung berdiri dari duduknya. "Serius?! Dua puluh juta? Gila! Sekarang aku bisa beli apa aja!" Matanya berbinar membayangkan segala kemungkinan.

Zinnia mengulum senyum kecil yang lembut, tetap tenang meski kebahagiaannya sulit disembunyikan. "Mungkin... beli baju baru?" bisiknya pelan dengan nada bercanda, tatapannya melayang pada lamunan kecilnya sendiri.

Frans tertawa sambil meregangkan tangan lebar-lebar. "Akhirnya! Aku bisa upgrade mobil tanpa harus minta ke orang tua lagi. Atau... ngajak pacarku jalan-jalan. Kedengarannya juga bagus."

Felicia berdiri di samping Kaivan dengan senyum lembut penuh arti. "Aku bisa membantu orang tuaku. Dan adik-adikku... mereka bisa tetap sekolah." Suaranya pelan namun dipenuhi ketulusan. Matanya berkilau samar oleh rasa syukur.

Mereka saling bertukar pandang. Tak ada kata yang benar-benar mampu menggambarkan rasa lega yang menghangatkan ruangan itu, harapan yang perlahan menetap di antara tawa dan mimpi-mimpi masa depan mereka. Malam itu, bengkel kecil tersebut terasa seperti rumah; tempat di mana harapan akhirnya terasa begitu dekat untuk digapai.

Pada Sabtu pagi yang cerah, Kaivan datang ke rumah Livia bersama Radit, Zinnia, Thivi, Frans, Felicia, Raphael, Ethan, dan Isabel. Mereka membawa emas yang telah dikumpulkan, tepat seperti janji mereka sebelumnya. Rumah itu terasa lebih hangat dari biasanya, nyaman dan menyambut, seperti gerbang menuju babak baru yang menjanjikan.

Dengan sopan, Kaivan melangkah maju lalu menyerahkan emas itu kepada ayah Livia. "Ini, Pak. Sesuai kesepakatan. Silakan dicek lagi kemurniannya."

Ayah Livia memeriksa emas itu dengan teliti sebelum akhirnya tersenyum kepadanya. "Terima kasih, Kaivan. Kamu anak muda yang jujur." Ia lalu menyerahkan sebuah koper kecil.

More Chapters