Ethan perlahan membuka matanya. "Apa maksudmu dengan 'aneh', Kaivan?" tanyanya, suaranya tenang namun serius.
Kaivan menggenggam pagar balkon lebih erat. "Tome Omnicent mulai memberi perintah-perintah aneh," gumamnya pelan. "Salah satunya... tome itu menyuruhku berdamai dengan Tania."
Nama itu langsung membuat semua orang membeku.
Tania, babak tergelap dalam hidup Kaivan. Seseorang yang pernah memanfaatkannya, menghancurkannya, dan meninggalkan luka begitu dalam hingga sekadar mengingatnya saja sudah terasa menyakitkan.
Raphael akhirnya angkat bicara. "Mungkin tome itu ingin kamu menyelesaikan masa lalumu. Menutup bab yang belum selesai."
Radit tertawa pahit sambil mengembuskan asap rokok. "Buat apa? Kaivan sudah memakinya habis-habisan waktu mereka terakhir bertemu. Aku masih ingat wajah Tania saat itu, kaget, penuh penyesalan. Tapi semuanya sudah terlambat."
Kaivan tidak menjawab. Ia tahu Radit benar. Pertemuan itu memang ledakan emosinya yang terakhir... namun perintah tome itu masih terus mengganggunya. Seolah ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-katanya.
"Dan sekarang," lanjut Kaivan pelan, "saat aku bertanya pada Tome Omnicent apa yang harus kulakukan selanjutnya... lihat ini." Ia membuka tome itu lalu meletakkannya di tengah mereka.
Huruf-huruf biru perlahan terbentuk di atas halaman, bercahaya seperti ukiran cahaya bintang.
"Isabel... bisakah kamu membacanya?" tanyanya.
Isabel mencondongkan tubuh lalu membaca dengan suara rendah. "Segera lakukan persiapan dan bangun koneksi dengan beberapa kelompok gangster untuk menghadapi faksi mafia di kota ini."
Udara di sekitar mereka langsung terasa menegang.
Frans menatap Kaivan tak percaya. "Kita harus melawan mafia? Maksudmu... perang sungguhan?"
Kaivan mengangguk lelah. "Itulah kenapa aku bingung. Kita cuma sekelompok remaja. Kita memang sudah mengalami banyak hal aneh sebelumnya, tapi ini berbeda. Aku tidak ingin kalian semua terseret lebih jauh. Kita sudah punya cukup uang. Aku tidak mau hidup kita terus diatur oleh tome ini."
Suara Thivi melunak. "Aku setuju, Kaivan. Ini sudah terlalu jauh. Kenapa kita tidak hidup tenang saja? Dan... apa yang akan terjadi kalau kita berhenti mengikuti perintahnya? Sebenarnya apa tujuan tome itu?"
Malam semakin larut, dan udara dingin menyentuh kulit mereka. Kota di bawah sana mulai tenggelam dalam keheningan. Di sebuah jembatan penyeberangan yang tak terlalu jauh, lampu jalan memancarkan cahaya keemasan redup di atas jalur yang kosong.
Di sana, seorang gadis berdiri sendirian, rambut panjangnya jatuh menutupi wajah yang tertunduk.
Tania.
Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena penyesalan yang tak kunjung hilang.
Langkahnya terasa berat, tatapannya kosong menelusuri kabur cahaya kota. Hatinya terperangkap di masa lalu, pada hari-hari yang pernah ia habiskan bersama Kaivan, sebelum semua kesalahan yang tak bisa lagi diperbaiki. Wajah marah Kaivan terus menghantuinya tanpa henti.
Setetes air mata jatuh di pipinya, lalu menimpa aspal gelap di bawah kakinya.
"Kaivan..." bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh kendaraan di bawah jembatan. "Aku cuma... ingin meminta maaf. Tapi aku bahkan tidak tahu caranya."
Ia mengangkat pandangannya ke langit malam yang dipenuhi bintang, seolah cahaya-cahaya jauh itu cukup baik untuk mendengarkan beban yang tak mampu ia ucapkan. Angin malam menyapu rambutnya perlahan, membawa pergi sedikit rasa sesak yang mengikat dadanya.
Dari ujung jembatan, dua sosok mulai mendekat, Vella dan Rapi. Vella berjalan dengan langkah penuh percaya diri, mata tajamnya diam-diam mengamati siluet Tania. Sementara Rapi di sampingnya terlihat canggung, seolah ia tahu menemani Vella malam-malam seperti ini bukanlah keputusan yang bijak.
Vella memberikan senyum tipis, nadanya lembut namun terselip ironi samar. "Seorang gadis berdiri sendirian malam-malam begini? Kamu terlihat menyedihkan. Kenapa menangis?"
Tania tersentak lalu buru-buru menghapus air matanya meski itu percuma. Tatapan Vella terasa mampu menembus semua usahanya untuk bersembunyi. "Aku... aku tahu aku sudah membuat banyak kesalahan," gumamnya lirih. "Aku menyakiti seseorang yang seharusnya kujaga. Dan sekarang aku cuma ingin memperbaiki semuanya."
Vella memperhatikannya dalam diam, ekspresinya berada di antara simpati dan rasa penasaran yang berbahaya. "Dan siapa orang itu?" tanyanya, terdengar hampir tulus.
"Kaivan," jawab Tania akhirnya, penyesalan bergetar di suaranya. "Dulu dia sangat baik padaku. Tapi aku memanfaatkannya... sampai dia membenciku."
Untuk sesaat, mata Vella berkilat terkejut namun juga tertarik. Namun ia segera menenangkan dirinya kembali. Ia melingkarkan tangan dari belakang tubuh Tania sambil memperlihatkan senyum lembut... senyum yang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap. "Kamu tahu di mana Kaivan tinggal?" tanyanya dengan nada nyaris manis.
Rapi langsung menegang di belakangnya. Ia mengenal senyum itu, perubahan halus yang selalu muncul setiap kali Vella menemukan sesuatu yang bisa dimanfaatkannya. Ia menatap Tania dengan cemas, merasa malam ini mungkin menjadi awal dari sesuatu yang lebih kelam.
Tania mengangguk, sempat merasakan pelukan Vella melemah sepersekian detik. "Iya... aku tahu," jawabnya jujur. "Dulu dia sering mengajakku ke sana, tapi sudah lama aku tidak datang lagi. Aku terlalu malu untuk menemuinya."
Vella mengangguk lembut, meski matanya menyimpan sesuatu yang hanya bisa dibaca Rapi, sesuatu yang berlapis dan berbahaya. "Begitu..." gumamnya pelan. Ia mengangkat tangan lalu menepuk pundak Tania perlahan. "Tania, mungkin ini kesempatanmu untuk memperbaiki semuanya."
