Ficool

Chapter 178 - Beban Menjadi Harapan Seseorang

Tiba-tiba Radit berteriak dari sofa, "Hei, semuanya! Kita main game, yuk! Truth or dare gimana?"

Semua langsung setuju. Mereka duduk membentuk lingkaran, lalu permainan dimulai. Tawa memenuhi ruangan saat pertanyaan-pertanyaan konyol dilontarkan dan berbagai tantangan dilakukan. Raphael mendapat hukuman untuk menari seperti penari tradisional, membuat seluruh ruangan meledak dalam tawa. Saat Ethan mendapat pertanyaan truth, ia ditanya siapa orang yang menurutnya paling keren. Dengan senyum malu-malu, ia menjawab, "Menurutku Isabel yang paling keren." Isabel tertawa pelan, pipinya memerah samar.

Semakin malam, suasana yang ramai perlahan melunak. Mereka berkumpul di sekitar ibu dan kakak Kaivan, sementara Kaivan duduk diam di antara mereka, malu namun dipenuhi kebahagiaan.

Ibu Kaivan yang sejak tadi tersenyum akhirnya berbicara. "Terima kasih, kalian semua," ucapnya lembut. "Karena sudah menjadi teman-teman berharga untuk Kaivan. Ibu bersyukur melihatnya tumbuh bersama kalian."

Radit menundukkan kepala sebelum berbicara dengan suara pelan. "Kaivan menghentikanku saat aku hampir masuk ke jalan yang salah. Kalau bukan karena dia, hidupku mungkin akan jadi sangat berbeda." Suaranya bergetar, matanya berkilau menahan air mata.

Zinnia menarik napas perlahan. "Bu... dulu aku hampir kehilangan kepercayaan pada laki-laki. Tapi Kaivan menolongku tanpa pernah merendahkanku. Dia membuatku sadar kalau kebaikan itu masih ada."

Ibu Kaivan menahan emosinya sambil menempelkan tangan di dada. Lalu pandangannya beralih pada Frans yang berbicara lembut, "Kaivan itu seperti pahlawan bagiku, Bu. Dulu aku tidak punya banyak kepercayaan diri, tapi dia yang terus menyemangatiku. Tanpa dia, kurasa aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang."

Thivi yang biasanya begitu berani kini terlihat jauh lebih lembut. Dengan suara pelan ia berkata, "Kaivan menyelamatkanku saat motor itu hampir menabrakku. Kalau dia tidak menarikku saat itu, mungkin semuanya akan berbeda." Ia tersenyum kecil, mengingat momen menegangkan namun menyentuh itu.

Felicia menambahkan dengan ketulusan hangat, "Saat aku merasa tersesat, Kaivan mengingatkanku untuk tetap kuat. Dia selalu datang ketika seseorang membutuhkannya... dia membuatku merasa kalau aku tidak sendirian." Suaranya melunak, matanya tertuju pada Kaivan dengan kasih sayang yang tenang.

Ethan yang biasanya pendiam berbicara lirih, "Dia orang pertama yang menyuruhku keluar dari geng itu. Karena Kaivan, aku sadar kalau aku masih punya masa depan." Ia memperlihatkan senyum kecil penuh rasa terima kasih.

Raphael menundukkan kepala sebelum berbicara dengan suara rendah dan berat. "Kaivan menarikku keluar dari jalan yang menghancurkan. Dia memaksaku meninggalkan kehidupan yang akan merusakku. Tanpa dia, kurasa aku tidak akan ada di sini."

Dari sudut ruangan, Isabel menggenggam tangan Kaivan erat. "Waktu aku kehilangan ponselku, Kaivan terus menemaniku mencarinya sampai ketemu. Dia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang diabaikan orang lain." Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.

Livia yang paling muda berbicara dengan ketulusan polos. "Bu... Kaivan itu seperti pahlawan bagiku. Saat ada orang yang mencoba menculikku, dia datang menolongku. Dan dia juga membantu keluargaku saat kami sedang kesulitan." Wajahnya bersinar oleh kekaguman yang jujur.

Saat semua selesai berbicara, ibu Kaivan terdiam. Lalu air mata perlahan jatuh di pipinya. Ia berjalan mendekati Kaivan dan langsung memeluk putranya erat.

"Anakku... Ibu tahu dulu kamu merasa sangat sendirian. Ibu tidak pernah membayangkan kamu akan tumbuh dan memiliki begitu banyak teman baik." Suaranya bergetar di antara rasa bangga dan lega.

Kira mendekat lalu menepuk punggung Kaivan dengan lembut. "Dulu kamu selalu sendirian... tapi lihat dirimu sekarang. Kakak benar-benar bangga padamu."

Kaivan memandang wajah teman-temannya dengan mata berkabut dan hati yang penuh. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum.

Di dalam keheningan itu, mereka semua merasakannya bersama, kehangatan persahabatan yang tenang namun nyata, yang mengikat mereka satu sama lain.

Malam semakin larut. Setelah momen emosional itu, mereka memutuskan untuk menginap, menikmati malam kebersamaan yang jarang terjadi. Di balkon lantai dua, di bawah langit penuh bintang, mereka duduk membentuk lingkaran sambil membiarkan angin malam membawa aroma taman ke arah mereka.

Kaivan berdiri di tepi balkon, matanya menatap langit malam. Semuanya terlihat tenang, namun hatinya tak kunjung merasa damai. Ia melirik teman-temannya yang masih tertawa pelan sebelum akhirnya berbicara.

"Aku... punya permintaan." Suaranya pelan namun tegas, membuat percakapan langsung berhenti.

Radit tersenyum kecil. "Bilang saja seperti biasa, Van. Kita teman, kan?"

Felicia menambahkan dengan lembut, "Iya. Apa pun itu, kami akan mendengarkan."

Kaivan menarik napas panjang, menundukkan pandangan, lalu berkata, "Aku ingin meminjam uang dari kalian semua. Aku janji akan mengembalikannya. Aku cuma... ingin mengajak orang tuaku ke Norwegia, setidaknya sekali seumur hidup. Ibuku selalu ingin melihat pemandangan di sana. Aku ingin mewujudkannya."

Keheningan langsung menyusul. Permintaan yang sederhana itu, ditambah ketulusan di baliknya, menyentuh hati mereka sekaligus.

Raphael akhirnya berbicara dengan suara lembut. "Cuma itu? Kalau untuk orang tuamu, kami pasti bantu. Apa pun untuk teman seperti kamu."

Thivi menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau tahu, Kaivan... ibu mana pun pasti ingin melihat anaknya melakukan sesuatu yang berarti. Kalau ini keinginanmu untuk ibumu, tentu aku setuju. Setiap anak pasti ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya."

Di samping Frans, Zinnia tersenyum tipis. "Dia benar. Dengan Tome Omnicent, mencari uang bahkan tidak sulit lagi sekarang. Aku senang kita bisa membantumu."

Frans mengangguk. "Iya. Kita sudah mendapatkan banyak hal dari tome itu. Sudah waktunya kita menggunakannya untuk sesuatu yang benar-benar berarti."

Ethan bersandar di dinding balkon sambil memandang langit yang diterangi cahaya bulan. "Kalau begitu, kenapa kita tidak langsung bertanya saja pada Tome Omnicent tentang apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

Kaivan terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang terasa berat oleh sesuatu yang tak terlihat. "Aku... akhir-akhir ini tidak mengikuti instruksinya lagi. Rasanya seperti tome itu mencoba mengendalikanku. Seperti ada suara yang menyuruhku melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak kuinginkan. Karena itu aku berhenti mendengarkannya."

Balkon itu kembali sunyi. Cahaya bulan menyinari wajah mereka dan membentuk bayangan panjang di atas lantai. Angin malam yang dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang bergesekan. Asap rokok Ethan perlahan melayang ke atas, menambah kesunyian berat dalam pengakuan Kaivan.

More Chapters