Saat Kaivan membukanya, matanya langsung melebar. Di dalam koper kecil itu terdapat buku tabungan, kartu ATM, dan token keamanan. Sebuah simbol kepercayaan yang begitu besar. Jemarinya sedikit gemetar.
"Ini pembayaran penuh untukmu," ujar ayah Livia lembut sambil menepuk pundaknya. "Terima kasih karena sudah membantuku... dan karena sudah menjaga Livia."
Teman-temannya langsung bersorak riuh. Radit melompat kegirangan, Raphael tersenyum lega, sementara Ethan tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Felicia dan Thivi saling berpelukan erat, lalu Zinnia dan Isabel ikut larut dalam kegembiraan itu. Frans bahkan langsung berlari menuju mobil. "Waktunya pesta! Semuanya, ayo pergi!"
Kaivan menoleh kembali dengan wajah sedikit malu. "Maaf, Pak. Teman-teman saya kadang terlalu terbawa suasana."
Ayah Livia tertawa hangat. "Tidak apa-apa. Biarkan mereka menikmati masa muda mereka."
Saat yang lain bergegas menuju mobil, Kaivan kembali melihat buku tabungan itu. Matanya melebar lebih jauh lagi. Saldo yang tertulis di sana menunjukkan angka: 650 juta rupiah.
Ia langsung mengernyit kaget. "Pak... ini terlalu banyak. Sepertinya ada kesalahan."
Ayah Livia memandangnya dengan tatapan bijaksana. "Kamu anak yang aneh, Kaivan. Uangnya sudah ada di tanganmu, tapi kamu masih bertanya apakah ini benar atau tidak. Ya, jumlahnya memang lebih besar dari nilai emasnya. Anggap saja itu... hadiah."
Kaivan menundukkan kepala sedikit. "Tapi jumlahnya sangat besar..."
Ayah Livia kembali menepuk pundaknya. "Itu milikmu. Dan juga milik teman-temanmu. Anggap saja bonus dariku. Livia banyak berubah sejak bertemu kalian semua, menjadi lebih mandiri dan lebih dewasa. Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari hidupnya."
Kaivan menyerap kata-kata itu perlahan, lalu mengucapkan terima kasih sebelum melangkah keluar. Tawa dan sorakan langsung menyambutnya. Teman-temannya sudah berkumpul di sekitar mobil, semangat mereka saling mengangkat seperti percikan api yang terus membesar.
Ia menutup koper kecil itu perlahan lalu tersenyum. Di suatu tempat jauh di dalam hatinya, Kaivan tahu bahwa ini bukan sekadar kemenangan, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sebuah perjalanan bersama keluarga baru yang terikat bukan oleh darah, melainkan perjuangan dan harapan.
Frans sudah duduk di balik kemudi, musik menggelegar memenuhi mobil sementara semangatnya meluap tanpa henti. "Pesta di rumah Kaivan! Semua wajib ikut!" teriaknya penuh antusias.
Di kursi belakang, Thivi mengangkat kedua tangannya dengan semangat sebelum tiba-tiba menyipitkan mata ke depan. "Tunggu... kenapa Zinnia duduk di pangkuan Kaivan? Apa cuma aku yang merasa itu aneh?"
Zinnia menoleh dengan senyum jahil. "Kalau aku duduk di sini, Felicia cemburu. Kalau Felicia yang duduk di sini, kamu yang cemburu. Kenapa harus bikin hidup jadi rumit?"
Felicia terkikik pelan. "Kalau begitu mungkin Isabel atau Livia saja yang duduk di sana? Masalah selesai, kan?"
Sebelum perdebatan kecil itu membesar, Kaivan segera memotong dengan lembut sambil mengangkat ponselnya ke telinga. "Santai, semuanya. Aku mau telepon rumah dulu. Kita harus minta izin dulu."
Raphael menyenggol Radit pelan. "Diam dulu. Telepon ini menentukan nasib pesta kita."
Semua langsung terdiam. Hanya terdengar napas pelan, tawa kecil yang ditahan, dan harapan tanpa suara memenuhi mobil. Namun Radit tetap tak bisa menahan diri. Ia mendekat ke arah Thivi lalu berbisik, "Kalau sekarang nggak bisa duduk di pangkuannya, nanti kamu masih bisa tidur di sebelah Kaivan. Mungkin lanjut kejadian di gudang itu..."
Wajah Thivi langsung memerah terang. Bayangan tentang vila itu melintas di benaknya, membuatnya buru-buru memalingkan wajah ke jendela sementara detak jantungnya semakin cepat.
Akhirnya, Kaivan menoleh kembali dengan senyum lega. "Oke! Aman. Kita diizinkan!"
Gelombang sorakan langsung meledak di dalam mobil. Frans menginjak gas, membuat kendaraan itu melaju cepat menuju malam yang dipenuhi tawa dan berbagai kemungkinan baru. Di dalam mobil kecil yang sesak itu, sesuatu yang lebih hangat dari sekadar kegembiraan mulai tumbuh, sebuah ikatan tanpa kata yang terasa lebih kuat dari persahabatan biasa.
Mobil Frans berhenti tepat di depan rumah Kaivan, rumah yang tenang dan hangat seolah menyambut mereka pulang. Begitu turun dari mobil, Kaivan berjalan lebih dulu masuk dan melihat ibunya duduk di sofa sambil menonton dokumenter tentang aurora Norwegia. Cahaya lembut dari televisi membuat ruang tamu terasa semakin nyaman.
Ia mendekat lalu memanggil pelan, "Bu..."
Ibunya berkedip kaget sebelum tersenyum hangat. "Astaga, kalian semua sudah datang? Ibu sampai lupa menyiapkan sesuatu untuk menyambut kalian."
Sebelum Kaivan sempat menjawab, Thivi melangkah maju dengan ceria. "Bu, biar aku bantu seperti biasa, ya?"
Felicia ikut mengangguk hangat. "Aku juga, Bu. Kalau dikerjakan bersama pasti lebih cepat."
Zinnia menambahkan dengan senyum tenang. "Aku juga akan membantu. Kalau banyak tangan, semuanya jadi lebih mudah."
Ibu Kaivan tertawa kecil penuh haru. Sementara itu, pandangan Kaivan perlahan beralih pada Isabel yang duduk diam di sudut ruangan, matanya tampak jauh seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bayangan kekhawatiran melintas di wajahnya.
Livia berbisik di sampingnya, "Kak, Isabel sudah diam sejak tadi. Kurasa pikirannya sedang penuh."
Radit menyeringai kecil. "Tinggal pakai Tome Omnicent saja, nanti kita tahu apa masalahnya."
Kaivan menghela napas pelan. "Sebenarnya... akhir-akhir ini aku mulai mengabaikan beberapa instruksinya." Nadanya terdengar tegas, meski masih tersisa sedikit keraguan di dalamnya.
