"Kamu lihat apa?" tanyanya datar.
Radit tersentak, tangannya refleks terangkat. "G-gak ada! Sama sekali gak ada!" jawabnya gugup.
Namun keringat sudah mulai muncul di pelipisnya saat Thivi menyipitkan mata, jelas tidak percaya.
Dengan langkah cepat, Thivi melewatinya begitu saja lalu mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar. Radit menahan napas, bersiap menghadapi bencana. Tapi apa yang terjadi selanjutnya jauh dari yang ia bayangkan.
Thivi berhenti. Tatapannya jatuh pada Felicia yang tertidur di samping Kaivan, memeluknya erat seolah tak ingin melepaskannya.
Sorot matanya yang tegang perlahan melunak, mencair menjadi sesuatu yang rumit, kebingungan, pemahaman, mungkin juga penerimaan.
Ia memperhatikan lebih dekat lengan Felicia, penuh goresan dan memar. Semua tanda pertarungan. Tidak ada satu pun yang kebetulan.
Thivi mengepalkan tangan, bukan karena cemburu, melainkan karena sesuatu yang lain mulai tumbuh dalam dirinya. Rasa hormat, atau mungkin kejelasan yang baru.
Ia menarik napas perlahan, lalu melangkah menjauh. Radit berkedip, bingung dengan apa yang baru saja ia saksikan.
Di luar kamar, Thivi menoleh padanya dengan senyum kecil yang lembut.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Setidaknya... aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan lebih dulu."
Ia berjalan pergi dengan ringan, meninggalkan Radit yang menggaruk kepalanya.
"Hah? Dia dapat apa sih?" gumamnya pada diri sendiri.
Tidak ada jawaban. Hanya angin pagi yang berembus pelan, membawa pergi pertanyaan yang tak sempat terucap.
Di luar vila, warna fajar melukis langit dengan semburat emas yang hangat. Cahaya redup masuk melalui jendela, menebarkan ketenangan di tempat yang semalam menjadi saksi pertempuran. Kicau burung pagi terdengar samar, menyatu dengan ketenangan yang perlahan menyelimuti segalanya.
Di dalam kamar, Felicia perlahan membuka mata. Pandangannya masih kabur, tapi tubuhnya langsung menegang saat menyadari Kaivan tertidur di sampingnya. Lengannya masih melingkar di tubuhnya, sebuah refleks dari keinginan kuat untuk melindunginya, bahkan dalam tidur. Detak jantungnya melonjak.
Ia menarik napas pelan dan perlahan melepaskan pelukannya. Jemarinya bergerak hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh. Tatapannya menyusuri wajah Kaivan yang damai, begitu berbeda dari ekspresinya yang biasanya penuh kewaspadaan. Dalam keheningan itu, Felicia merasakan campuran rasa hormat, syukur, dan sesuatu yang belum bisa ia beri nama.
Setelah benar-benar melepaskan diri, ia turun dari ranjang. Lantai kayu yang dingin menyentuh kakinya saat ia berjalan menuju pintu. Ia mengintip keluar sebentar sebelum akhirnya keluar dengan pelan.
Koridor yang redup terasa sunyi, sangat kontras dengan kekacauan malam sebelumnya. Namun suara samar dari ruang tamu membuatnya berhenti. Ia mengikuti suara itu dengan langkah ringan.
Di ruang tamu, Raphael, Ethan, dan Radit berdiri menghadap jendela besar. Siluet mereka tampak gelap di bawah cahaya pagi yang redup. Raphael berdiri dengan tangan terlipat, tatapannya tajam. Ethan bersandar di dinding, sebatang rokok di jarinya mengeluarkan asap tipis. Radit terlihat gelisah.
"Kamu yang menyimpan perlengkapanku di bagasi mobil waktu itu, kan, Radit?" tanya Raphael, tenang namun tegas.
Radit mengangguk. "Iya. Tapi itu atas perintah Kaivan."
Ethan menyipitkan mata, rokok masih di sela jarinya. "Dia menyuruhmu setelah membaca Tome Omnicent, kan?"
Radit mengembuskan napas. "Iya. Tepat setelah dia membukanya, dia bilang aku harus menyembunyikan perlengkapan Raphael."
Raphael menatap kedua temannya bergantian, lalu kembali menoleh ke jendela. "Jadi dia sudah tahu semua ini? Dan dia sudah merencanakannya dari awal?"
Ethan menghembuskan asap perlahan. "Tepat sekali. Bahkan soal kita diculik... rasanya dia sudah memperhitungkan itu juga."
Hening kembali menyelimuti. Di luar, daun-daun bergoyang pelan tertiup angin. Dalam diam itu, pikiran mereka berputar pada satu nama: Kaivan. Pemimpin mereka. Orang yang selalu berjalan di depan, namun jelas menyimpan jauh lebih banyak kebenaran daripada yang pernah ia bagikan.
Raphael yang pertama memecah keheningan. "Aku mulai mempertanyakan rencana Kaivan. Sekarang kita ada sembilan orang, kan?" Suaranya menyimpan sedikit kekhawatiran.
Felicia yang sejak tadi mengamati dari kejauhan melangkah mendekat. Posturnya tegak, matanya yang merah menatap tajam ketiga pria itu. "Apa maksudmu? Kenapa meragukan Kaivan?" Nada suaranya tenang, meski ada kebingungan tipis di baliknya.
Ketiganya menoleh padanya. Ethan hanya mengangkat bahu, enggan menjawab. Radit ragu sejenak, tapi Raphael menatap Felicia sebelum akhirnya berbicara.
"Bukan soal tidak percaya. Kami hanya bertanya, seberapa banyak yang sudah Kaivan ketahui sejak awal? Dan kenapa dia tidak memberi tahu kita?"
Felicia menyilangkan tangan, berdiri kokoh. Ia meneliti wajah mereka satu per satu, mencari arti di balik keraguan itu. Kaivan adalah pilar bagi mereka semua.
"Dia pasti punya alasan," katanya, meski ada getaran halus di ujung suaranya. Ia menunduk sejenak. "Tapi kalian benar... dia memang tidak pernah menjelaskan rencananya sepenuhnya."
