Ficool

Chapter 134 - Seseorang Lain Sedang Memeluknya

Kaivan menelan ludah. Kata-kata Thivi menghantamnya seperti gelombang yang tiba-tiba meninggi. Ia tahu Thivi sedang mencari sesuatu, jawaban, tempat untuk berpijak... tapi bukan seperti ini.

"Thivi... dengarkan," ucapnya pelan, namun tegas. "Aku tidak sedang mencari cinta. Aku tidak memikirkan hubungan seperti itu. Dengan siapa pun... bahkan dengan teman-teman kita."

Namun Thivi menggeleng keras.

"Tidak apa-apa," bisiknya, menatapnya tanpa ragu. "Aku hanya ingin bersamamu. Jadi kalau kau ingin aku kembali seperti dulu... cium aku sekarang."

Hening jatuh di antara mereka. Angin pagi berembus lembut, tapi ketegangan di antara keduanya justru semakin berat, cukup nyata untuk terasa. Kaivan menggenggam lengan Thivi dengan hati-hati, lalu membawanya menuju gudang kayu di belakang vila. Langkah mereka cepat, seperti setengah melarikan diri dari sesuatu, setengah mengejar sesuatu yang tak bisa mereka pahami.

Di dalam, aroma kayu kering dan udara sejuk menyelimuti mereka. Ruangan kecil itu terasa seperti dunia yang terpisah.

"Thivi," Kaivan memulai lagi, kali ini lebih tegas namun tetap lembut. "Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak ingin hubungan romantis. Dan aku juga tidak ingin siapa pun tahu tentang... apa pun yang terjadi di antara kita. Kau mengerti?"

Thivi mengangguk pelan. Air mata masih menggantung di bulu matanya, tapi ada tekad tenang di matanya, seperti seseorang yang siap menerima apa pun jawaban yang akan ia dapatkan.

Lalu, tanpa peringatan, ia mendekat dan mencium Kaivan. Tidak tergesa, tapi juga tidak ragu. Sebuah ciuman yang membawa kerinduan, luka, dan harapan sekaligus.

Kaivan terdiam sejenak. Lalu, seolah ditarik oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, ia membalas ciuman itu. Mereka saling berpelukan erat, tanpa kata, hanya irama jantung yang tak teratur memenuhi ruang kecil itu.

Saat mereka akhirnya menjauh, Thivi tersenyum tipis. Matanya yang tadi dipenuhi air mata kini tampak lebih tenang.

"Ini benar-benar kamu, kan? Kaivan?" tanyanya pelan, seolah memastikan bahwa ia bukan sekadar ilusi.

Ia mengangguk lembut. "Iya. Ini aku, Thivi."

Thivi menarik napas perlahan. Suaranya bergetar, tapi jujur. "Aku ingin lebih dari ini, Kaivan. Aku ingin merasa... cukup. Untukmu."

Kaivan terdiam. Badai berputar pelan di dalam dirinya, rasa peduli bercampur dengan tanggung jawab, kedekatan terikat oleh batasan.

"Thivi... tidak," gumamnya. Suaranya lembut, tapi tegas seperti ombak yang tenang. "Itu sudah cukup. Aku belum siap. Bukan karena aku tidak peduli... tapi justru karena aku peduli."

Tatapannya hangat, bukan penolakan, seperti dinding yang dibangun bukan untuk menjauhkannya, melainkan untuk melindunginya. Ia mengangkat tangan, menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Thivi.

Thivi menggigit bibir bawahnya. Hatinya berantakan, terjebak di antara harapan dan ketakutan. Tapi ia mengerti, Kaivan tidak sedang menjauhinya. Ia hanya berusaha melindungi apa yang masih tersisa di antara mereka.

"Aku ingin lebih dari ini," bisiknya lagi, suaranya gemetar membawa semua hal yang tak bisa ia ucapkan.

Kaivan tidak menjawab. Ia hanya membiarkan kata-kata itu mengendap, diamnya menjadi jawaban yang lebih lembut daripada penolakan apa pun.

"Orang-orang mengkhawatirkanmu," akhirnya ia berkata. "Dan aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh lagi."

Kata-katanya tidak dingin. Itu adalah batasan yang hangat, seperti kompas yang menuntunnya menjauh dari tepi jurang.

Thivi menundukkan kepala. Badai dalam dirinya perlahan mereda, digantikan oleh pemahaman yang rapuh namun mulai tumbuh. Mungkin keinginannya tidak salah, hanya belum waktunya untuk mekar.

Setelah hening yang panjang, ia mengangguk. Belum sepenuhnya kuat, tapi cukup untuk mencoba. Di suatu tempat dalam dadanya, sesuatu yang kecil mulai pulih, sebuah kesadaran bahwa ini bukanlah akhir, melainkan langkah pertama untuk menemukan dirinya kembali.

Langit mulai memucat. Warna lembut fajar perlahan menggantikan gelapnya malam. Vila yang sunyi diselimuti udara pagi yang segar. Aroma mesiu dan darah yang sempat tertinggal kini menghilang, tersapu angin yang membawa janji awal yang baru.

Di dalam kamar, Kaivan terbaring diam di atas ranjang. Napasnya kini lambat dan teratur, tenggelam dalam kelelahan yang akhirnya mengalahkan kewaspadaannya. Meski luka dan memar masih terlihat jelas, wajahnya tampak lebih damai dari biasanya. Untuk sesaat, dunia seolah memberinya ruang untuk bernapas.

Felicia berdiri di sisi ranjang, menatapnya dengan saksama. Cahaya pagi menari di mata merahnya, memantulkan perasaan yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata. Pandangannya jatuh pada bahu Kaivan, di mana luka terbuka masih terlihat. Perlahan, ia meraih perban di meja dan mulai membalutnya.

Tangannya sedikit gemetar. Setiap lilitan dilakukan dengan sangat hati-hati, seolah ia mencoba menenangkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar luka fisik. Sentuhan kulitnya mengingatkannya pada satu hal: ia masih hidup. Ia masih di sini.

Saat selesai, Felicia menghela napas panjang. Ia lelah, namun enggan pergi. Dengan tenang, ia merebahkan diri di samping Kaivan, menyelipkan lengannya perlahan di tubuhnya. Ia tidak ingin membangunkannya, ia hanya ingin berada dekat. Senyum samar terukir di bibirnya saat matanya akhirnya terpejam.

Di luar kamar, Radit kebetulan lewat. Ia melirik melalui celah kecil pintu yang sedikit terbuka, lalu membeku.

Felicia tertidur di samping Kaivan, lengannya melingkari tubuhnya.

"Waduh... kalau Thivi lihat ini, kita bisa tamat," gumamnya, wajahnya menegang.

Tepat saat itu, langkah kaki ringan mendekat dari belakang. Radit menoleh, dan wajahnya langsung pucat.

Thivi berdiri di sana. Ekspresinya tenang, tapi matanya tajam.

More Chapters