Radit menghela napas dan mengangkat tangan dengan lemah. "Aku orang pertama yang dia bawa ke dalam semua ini. Tapi sampai sekarang pun, aku tidak tahu gambaran besarnya. Aku cuma ikut karena percaya sama dia... dan ya, bayarannya juga lumayan."
Felicia menatapnya tajam. "Jadi itu alasanmu meragukannya? Setelah semua yang dia lakukan untuk menjaga kita tetap hidup?"
Raphael, masih dengan tangan terlipat, kini menatap Felicia lurus. "Felicia... kamu tahu kenapa kekuatanmu jauh melampaui orang normal?"
Felicia berkedip, terkejut. Pertanyaan itu menghantamnya tiba-tiba. Selama ini ia mengira kekuatannya hanyalah sesuatu yang memang sudah ia miliki sejak lahir.
"Aku... tidak tahu," jawabnya pelan. "Sejak kecil aku memang seperti ini, tapi aku tidak pernah benar-benar memikirkannya."
Raphael menarik napas panjang. "Tepat. Buku aneh yang memberi kekuatan, orang seperti kamu, dunia yang berubah seolah oleh sihir... Kita sudah melihat hal-hal yang tidak masuk akal. Dan semua itu membuatku bertanya, apakah dunia ini benar-benar seperti yang kita kira?"
Felicia menggigit bibirnya, tekadnya mulai goyah. Ia ingin membela Kaivan, tapi kata-kata Raphael terlalu dekat dengan kebenaran.
Ethan, masih duduk dengan rokok di sela jarinya, akhirnya bicara. "Pasti ada sesuatu yang lebih besar dari kita," gumamnya, mengembuskan asap tipis. Tatapannya beralih ke Felicia. "Kita sudah menyaksikan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Dunia ini tidak sesederhana kelihatannya."
Radit, yang biasanya paling santai, kini tampak muram. "Jujur? Ngomongin ini bikin gue merinding," katanya pelan sambil mengusap tengkuk. "Gimana kalau kita bukan cuma korban... tapi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar? Sesuatu yang bahkan tidak bisa kita kendalikan?"
Raphael melangkah maju, berdiri di tengah ruangan. "Kalau begitu, sudah saatnya kita bertanya langsung pada Kaivan." Suaranya tegas. "Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Felicia mengepalkan tangan. Ini bukan lagi soal percaya atau tidak, ini tentang menemukan kebenaran.
Ethan menjentikkan rokoknya ke asbak lalu mematikannya. "Kalau kita ingin bertahan hidup, kita harus mengerti apa yang kita hadapi. Dan Kaivan satu-satunya yang bisa menjelaskannya."
Hening menyelimuti mereka. Bahkan udara seolah ikut menahan napas. Mereka semua tahu, langkah berikutnya bisa mengubah segalanya, entah memperkuat yang tersisa, atau justru menghancurkannya.
Radit duduk di samping Raphael, mengangguk pelan. Matanya goyah oleh ketidakpastian, tangannya menggenggam lututnya erat. Raphael tetap diam di sisinya, tangan terlipat, tatapannya tajam menyapu ruangan.
Di dekat jendela, Ethan berdiri diterpa cahaya bulan. Siluetnya kaku, rahangnya mengeras, matanya menatap kegelapan di luar seolah mencari jawaban.
"Kita harus bicara dengan yang lain," kata Raphael akhirnya, nadanya berat. "Diam saja hanya akan memperburuk keadaan."
Radit bangkit. "Baik. Kita kumpulkan semuanya."
Mereka bergerak cepat. Frans, Isabel, Zinnia, dan Thivi dipanggil ke ruang tamu. Perapian berderak pelan, memancarkan cahaya keemasan yang hangat ke seluruh ruangan. Aroma kayu terbakar bercampur dengan udara malam yang dingin, kehangatan rapuh di bawah ketegangan yang menekan dada mereka.
Zinnia, dengan rambut ungu panjang yang jatuh di bahunya, duduk di ujung sofa. Satu kakinya menyilang, ia mengamati semua orang dengan tenang, meski ada ketajaman tersembunyi di matanya. Frans berdiri dekat perapian, tangan di saku, rahangnya tegang.
Thivi, mengenakan pakaian santai yang tetap menonjolkan pesonanya, terlihat gelisah. Ia menggigit bibir, jarinya memainkan ujung bajunya. Di sampingnya, Isabel tampak lebih tenang, meski matanya tetap waspada, menyerap setiap detail.
Raphael melangkah ke tengah. "Kita perlu membicarakan Kaivan," ujarnya, suaranya mantap namun tajam. "Terlalu banyak yang tidak kita ketahui."
Thivi menegakkan tubuh. "Kenapa kalian meragukan Kaivan? Dia orang baik. Dia sudah menolongku." Suaranya lembut, tapi kebingungan tampak di matanya.
Radit bersandar pada sofa, mengusap wajahnya. "Kita tidak bilang dia buruk. Tapi bukan berarti kita harus mengikutinya tanpa berpikir."
Raphael menyapu ruangan dengan tatapannya. "Apa ada dari kalian yang pernah bertanya kenapa Kaivan memilih kita? Atau menyadari bahwa seharusnya ada satu orang lagi? Yang disebut dalam Tome Omnicent?"
Keheningan berat memenuhi ruangan. Tatapan mereka saling bertemu, mencari kepastian di antara kabut kebingungan.
Frans yang pertama bicara. "Jadi kita memang tidak tahu apa-apa? Kaivan tidak pernah menjelaskan semuanya pada kita."
Ethan mengangguk. "Itulah kenapa kita harus bertanya langsung padanya."
Zinnia menegakkan punggungnya, matanya menyipit. "Dan kalau jawabannya tidak memuaskan?"
Radit menoleh padanya. "Kalau begitu, kita tentukan jalan kita sendiri."
Kata-katanya menggantung di udara, membawa beban yang bisa dirasakan semua orang. Raphael menatap wajah mereka satu per satu.
"Malam ini, kita temui Kaivan. Kita tanyakan semuanya. Tidak ada lagi rahasia."
Mereka mengangguk satu per satu. Dalam keheningan yang menyusul, mereka semua tahu, malam ini akan menentukan segalanya. Setelah ini, tidak akan ada yang sama lagi.
Di sebuah kamar yang tenggelam dalam kegelapan, Kaivan terbangun. Hanya siluet samar perabot yang terlihat, diterangi seberkas cahaya bulan yang menyelinap dari jendela. Keheningan menekan di sekelilingnya, hanya dipecah oleh detik halus jam dinding.
