"Kaivan," katanya pelan namun tegas. "Dia pergi lagi."
Kaivan tidak menjawab. Ia berputar dan langsung berlari ke luar. Langkah kakinya menghantam tanah dengan tergesa, seolah berlari adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk menebus sesuatu yang tak mungkin ia perbaiki.
Saat melintasi halaman, ia melihat Felicia berdiri di teras. Mata gadis itu yang sedikit memerah bertemu dengan tatapannya, dipenuhi pertanyaan yang tak terucap.
"Kaivan, apa yang ingin kamu katakan padaku di ruang bawah tanah tadi?" Suaranya tenang, meski kekhawatiran samar terlihat di matanya.
Kaivan melambat sejenak. "Nanti, Felicia. Aku memang ingin bicara, tapi... nanti, ya?"
Ia kembali berlari. Felicia menatap punggungnya yang perlahan menghilang di antara pepohonan. Senyum kecil sempat muncul di bibirnya, namun ada bayangan kecewa tipis di matanya. Ia menghela napas, lalu kembali membersihkan, meski pikirannya masih tertinggal padanya.
Di kejauhan, Kaivan melihat Thivi. Gadis itu berjalan menuju gudang kayu di belakang vila. Sosoknya tampak kecil di bawah pepohonan tinggi, langkahnya pelan, seolah dibebani sesuatu yang tak terlihat.
Kaivan mempercepat langkah, napasnya mulai tak teratur. Lebih dari apa pun, ia harus mencapai Thivi sebelum semuanya terlambat.
"Thivi!"
Ia tidak menoleh, namun bahunya bergetar. Tangannya gemetar saat memeluk dirinya sendiri erat-erat.
Kaivan menerobos daun-daun kering, langkahnya ringan di atas tanah yang lembap. Napasnya tersengal, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena sesak yang menekan dadanya. Di depannya, Thivi terus berjalan. Bahu kecilnya bergetar setiap kali angin lewat, mencerminkan badai di dalam dirinya.
"Thivi!" panggilnya lagi, suaranya rendah dan putus asa.
Langkah Thivi terhenti. Tubuhnya membeku.
Kaivan meraih pergelangan tangannya dengan lembut. Sentuhannya hangat, mencoba menenangkannya. Namun Thivi menegang, seperti rusa kecil yang ketakutan. Matanya kosong, tertutup luka yang belum sempat pulih.
"Kamu mau ke mana?" tanya Kaivan pelan namun tegas, mencoba mencari sisa-sisa gadis ceria yang dulu ia kenal.
Thivi menunduk. Bahunya bergetar hebat. Air mata akhirnya jatuh, mengalir di pipinya hingga melewati bibirnya yang sedikit terbuka. Saat ia berbicara, suaranya retak, seolah setiap kata melukai dirinya sendiri.
Hampir seperti bisikan yang terbawa angin senja, rapuh dan menyakitkan. "Aku kotor, Kaivan... aku tidak ingin seperti ini..."
Kaivan tidak menjawab. Dadanya terasa sesak. Rahangnya mengeras, menahan luapan amarah, bukan pada Thivi, tapi pada kenyataan kejam yang membuatnya merasa tidak pantas untuk dicintai. Thivi bukan gadis yang lemah, juga bukan yang mudah runtuh. Namun kali ini, lukanya terlalu dalam.
Akhirnya Kaivan berbicara, suaranya nyaris tak terdengar. "Tidak apa-apa... jangan pikirkan itu lagi." Ia menarik Thivi perlahan ke dalam pelukannya, hangat dan tenang, seolah mencoba merangkai kembali hati yang bergetar.
Thivi sempat kaku, namun perlahan melebur dalam pelukan itu. Tangannya yang kecil mencengkeram pakaiannya, isaknya pecah pelan, napasnya naik turun tak beraturan.
"Kenapa... kenapa aku merasa seperti ini?" bisiknya. "Kenapa aku jijik pada diriku sendiri?"
Tangan Kaivan bergerak pelan di punggungnya, setiap sentuhan terasa hati-hati, seolah ia sedang menenangkan badai yang tak kunjung reda.
"Ini bukan salahmu," gumamnya. "Jangan biarkan pikiran itu meracunimu. Aku di sini, Thivi. Aku peduli padamu... sama seperti aku peduli pada yang lain, Felicia, Zinnia, Isabel, Radit, Frans, Ethan, Raphael..."
Thivi kembali membeku.
Ia sedikit menjauh dan menatap Kaivan. Matanya basah, bibirnya gemetar. Ada rasa sakit, keraguan, dan sesuatu yang rapuh namun kuat berkilau di dalam tatapannya.
"Tidak... aku tidak mau itu..." bisiknya. Suaranya lemah, seperti anak kecil yang takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki. "Kamu menyukai semua orang..."
Kaivan mengerjap, bingung. "Maksudmu?"
Thivi menarik napas dalam, mengusap air matanya dengan punggung tangan. Tatapannya mulai stabil, sesuatu yang patah di dalam dirinya perlahan berubah, mencoba untuk pulih.
"Cium aku," katanya.
Dunia seakan berhenti.
Kaivan terpaku. Seluruh tubuhnya menegang, jantungnya berdetak keras tanpa kendali.
Thivi melangkah lebih dekat. Tangannya terulur, menggenggam lengan Kaivan dengan kuat.
"Cium aku kalau aku spesial," ulangnya, suaranya kini lebih mantap. "Aku tidak ingin hanya menjadi satu nama di antara mereka. Aku ingin menjadi... satu-satunya."
