Ficool

Chapter 132 - Ketika Kebenaran Terhenti di Tengah Kalimat

"Aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu, Thivi," ujar Tome Omnicent.

Segalanya membeku.

Frans, yang sedang menyetir, menginjak rem tanpa berpikir. Semua tubuh terdorong ke depan saat mobil berdecit keras dan berhenti di tengah jalan gunung yang sepi.

"BUKUNYA BISA NGOMONG?!" teriak Frans, menoleh dengan mata membelalak seperti baru saja melihat hantu menumpang.

Tome Omnicent memancarkan cahaya samar, seolah sama sekali tak terganggu oleh kekacauan yang baru saja ditimbulkannya.

Suaranya kembali terdengar, halus dan elegan.

"Pertama-tama, tadi malam, saat kau mencium Kaivan, "

"TIDAAAAAK!" Raphael, Zinnia, Frans, dan Radit berteriak bersamaan. Wajah mereka panik, seperti sekelompok siswa yang tertangkap menyontek saat ujian nasional.

Radit menerjang ke arah Kaivan, mencoba merebut buku terkutuk itu. Frans hampir menarik rem tangan lagi, Raphael setengah berdiri seolah hendak melakukan pengusiran setan, dan Zinnia menggenggam kantong plastik darurat seperti ingin mengurung benda itu selamanya.

Mereka semua tahu, jika Thivi mengetahui bahwa yang ia cium bukan Kaivan, melainkan Yusra di bawah pengaruh Tome Omnidream, pikirannya bisa runtuh begitu saja.

Namun Tome Omnicent tetap melanjutkan dengan tenang, seolah menikmati dramanya.

"Dan kemudian, tubuhmu disentuh oleh, "

BUK!

Kaivan menutup buku itu dengan keras. Suaranya menggema seperti pintu kulkas yang dibanting di tengah malam.

Hening.

Benar-benar hening.

Thivi berkedip polos.

"Hah? Tome Omnicent tadi mau bilang sesuatu? Suaranya lucu, kayak narator."

Felicia, yang sejak tadi menatap ke luar jendela, menghela napas panjang. Udara pagi menyentuh wajahnya yang lelah. Langit perlahan terang, sinar matahari menembus celah pepohonan, menari di permukaan kaca. Burung-burung berkicau cerah di luar, sama sekali tak menyadari bahwa dunia di dalam mobil hampir runtuh.

Di tengah kekacauan itu, Felicia menemukan ketenangan yang aneh.

"Pagi yang indah," bisiknya.

Di belakangnya, Kaivan menatap kehampaan. Diam. Hampir tak berkedip. Radit memeluk lututnya, menyerah pada absurditas hidup. Raphael menyandarkan kepala ke jendela, matanya kosong menatap langit pucat. Dan Zinnia merobek tisu demi tisu, seolah menghitung detik menuju kehancuran emosional.

Mobil kembali berjalan. Perlahan. Sunyi.

Dari kejauhan, pegunungan tersentuh cahaya pagi, membungkus dunia dalam selimut kabut tipis.

Setelah keheningan panjang yang berat, mereka akhirnya tiba di vila. Cahaya siang menyentuh bangunan tua itu dengan lembut, memberinya kilau yang hampir seperti ilusi. Bayangan pepohonan bergoyang di dinding, terbawa bisikan angin.

Namun di balik pemandangan yang tenang itu, badai masih mengamuk diam-diam di dalam hati mereka masing-masing.

Thivi melangkah masuk lebih dulu. Langkahnya lambat dan tak stabil, seolah ia kehilangan keseimbangan. Tatapannya lurus ke depan, kosong, tak fokus. Setiap napas terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya dan menolak untuk diucapkan.

Ada luka di dalam dirinya yang terlalu dalam untuk diberi nama.

"Ciuman pertamaku... direnggut oleh pria tua..." bisiknya.

Suaranya nyaris setipis angin. Namun siapa pun yang cukup dekat akan merasakan dingin dari kata-kata itu.

Raphael berhenti beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya tertuju pada punggung Thivi, dipenuhi rasa bersalah, kebingungan, dan sesuatu yang tak mampu ia ubah menjadi kata-kata. Ia ingin berbicara, namun tenggorokannya menolak.

Frans berdiri tak jauh dari sana. Ia menghela napas pelan, tangan kirinya mengepal erat, seolah menahan sesuatu yang siap meledak. Ia tak berkata apa-apa, namun ekspresinya saja sudah cukup menunjukkan amarah yang tak punya tempat.

Thivi kembali berbisik.

"Aku kotor… dipegang… disentuh…" suaranya pelan, namun berat, seolah ia mencoba melepaskan sesuatu tanpa tahu kepada siapa harus diserahkan.

Dari kejauhan, Kaivan mengamati semuanya. Ia berdiri diam, seolah tubuhnya menolak bergerak. Penyesalan yang sunyi menekan dadanya. Kini ia mengerti, kata-kata Thivi bukan keluhan. Itu adalah pecahan dari sesuatu yang hancur jauh di dalam dirinya.

Ilusi dari Tome Omnidream, yang ia kira hanya mimpi, ternyata hanyalah tipu daya. Dan Yusra lah yang membentuknya.

Ingatan itu… bukan milik mereka.

Dan kebenaran itu kini runtuh di atas Thivi.

Kaivan menyadari, ia pun menjadi bagian dari bayangan itu.

Thivi terus berjalan, meninggalkan mereka semua membeku di ambang pintu vila. Langkahnya berat, terseret, seolah ia tak lagi tahu ke mana harus melangkah.

Di dalam vila, kekacauan masih tersisa. Barang-barang berserakan, kursi-kursi terbalik, dan pecahan kaca berkilau di lantai kayu, memantulkan cahaya matahari yang masuk dari jendela retak.

Ethan, yang sedang merapikan ruang tamu, menoleh ke arah Kaivan yang tampak gelisah.

More Chapters