Namun Thivi menggeleng lemah, kebingungan perlahan berubah menjadi kegelisahan. Ingatan merayap naik dari kedalaman pikirannya. Napasnya tersangkut pada pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tak mampu ia rangkai.
"Tunggu… waktu itu… Kaivan…" bisiknya. "Kaivan menyelamatkanku… dan… dia memelukku."
Udara membeku. Semua kepala menoleh. Tatapan Felicia menajam. Zinnia, dari kursi depan, menarik napas panjang, seolah bersiap menghadapi sesuatu yang jauh lebih meledak dibanding pertempuran semalam.
Raphael membeku. Seluruh tubuhnya menegang saat Thivi menoleh padanya, mata masih samar oleh sisa kantuk.
"Kamu… melukai Kaivan. Kamu mencoba menusuknya dengan pisau!"
Mobil itu seketika terasa seperti lemari es.
Raphael kaku. Kaivan menatap keluar jendela seolah tiba-tiba menjadi ahli geologi. Frans hampir menginjak rem karena atmosfer yang mendadak mencekam.
Namun Thivi terus berbicara. Dengan nada polos seperti anak kecil yang baru bangun dari mimpi aneh, ia melanjutkan,
"Lalu Zinnia datang… cuma pakai bra! Dan Kaivan, dia kelihatan seperti mau… um… peluk-peluk sama diaaa~?"
Petir imajiner seolah membelah langit.
Zinnia menoleh perlahan, seperti mesin yang hampir rusak. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan amarah setingkat magma.
"Thivi. Itu. Semua. Ilusi."
Radit, yang seharusnya sudah belajar dari sejarah, tetap ikut bicara,
"Tapi bagian bra-nya itu lumayan, "
PLAK!
Kepalanya disentil dengan kekuatan hukuman ilahi. Di dunia ini, hanya ada dua hal yang pasti, gravitasi, dan tangan Zinnia saat kesabarannya habis.
Kaivan menunduk. Diam. Rahangnya menegang, bukan hanya karena marah, tapi karena tekanan yang bisa membuat seseorang ingin pindah negara.
Felicia meliriknya dengan tatapan yang seolah berkata aku-sudah-duga, lalu membuka permen karet dengan tenang, seperti sedang menyiapkan perisai emosi.
Raphael memejamkan mata, menarik napas dalam, mencoba menjadi penengah.
"Thivi… tolong. Berhenti sebentar, ya?"
Namun Thivi terus berbicara, bibirnya bergerak seperti radio rusak.
"Kaivan dipukuli lagi sama Raphael… terus… burungnya Kaivan ditembak sama Zinnia."
Hening.
Radit hampir menghirup hidungnya sendiri menahan tawa. Frans tersedak oleh kopi imajiner. Felicia menutup wajahnya.
Dan kemudian, puncaknya.
Thivi menatap Kaivan dengan mata polos, berkilau, dan terlalu tulus.
"Terus… aku juga cium Kaivan, kan? Dan… Kaivan juga… meremas dadaku sama pantatku… iya, kan?"
Setir mobil sedikit berbelok.
Raphael kembali kaku saat tatapan Thivi yang semula kosong berubah tajam dengan tuduhan samar.
"Kamu… melukai Kaivan. Kamu mencoba menusuknya."
Sejenak, waktu seperti berhenti.
Rahang Raphael mengeras. Ingatan saat ia dikuasai Omnidream dan melihat Kaivan sebagai Yusra kembali menghantam tanpa ampun. Jemarinya gemetar. Bibirnya terbuka, namun tak ada kata yang keluar.
Thivi melanjutkan, sama sekali tak menyadari ranjau emosi yang sedang ia pijak.
"Terus Zinnia muncul cuma pakai pakaian dalam. Setelah itu, kelihatannya Kaivan mau… um… ngapa-ngapain sama dia, kan?"
Wajah Zinnia memanas oleh amarah. Suaranya bergetar saat ia membalas,
"Cukup, Thivi. Itu semua ilusi."
Radit bergumam pelan,
"Tapi secara teknis Zinnia memang keluar cuma pakai... "
Satu sentilan lagi langsung membungkamnya.
Kaivan tetap menunduk. Rahangnya kaku. Tak ada penjelasan yang cukup untuk situasi ini.
Ketegangan di dalam mobil menebal, seperti bom waktu yang menunggu seseorang bernapas salah.
Felicia memandangnya, ekspresinya berat. Bukan marah. Lebih mirip rasa bersalah. Entah karena Thivi tak mengingat apa pun, atau karena ia sendiri tak yakin dengan perasaannya.
Raphael menghela napas kasar.
"Thivi… tolong. Berhenti kamu hanya terjebak ilusi."
Namun Thivi sudah tenggelam dalam pecahan ingatannya sendiri.
"Kaivan dipukuli lagi… terus… Zinnia nembak burungnya…"
Seluruh mobil menahan napas.
Dan dengan kepolosan yang menghancurkan, Thivi menambahkan,
"Dan sebelumnya… aku cium Kaivan, kan? Terus Kaivan… dia juga pegang dadaku sama pantatku… iya, kan?"
Kekacauan mencapai puncaknya.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut terdengar dari dalam tas Kaivan, tenang, halus, dan jelas bukan suara manusia.
