Setelah apa yang terasa seperti keabadian, Kaivan kembali membuka Tome of Omnicent, mencari petunjuk. Namun halaman-halamannya tetap sunyi.
Ia menutupnya perlahan dan berkata, pelan namun tegas, "Kita kembali ke vila."
Keputusan itu menghapus semua keraguan.
Mereka mulai menuruni bukit. Langkah kaki mereka yang berat mengikuti perubahan warna langit, malam memudar, fajar perlahan bangkit. Angin pagi membawa aroma daun basah, namun bahkan cahaya lembut matahari terbit tak mampu mengusir kegelisahan yang tersisa di dada mereka.
Di kaki gunung, mobil itu menunggu dalam diam. Raphael dan Isabel telah meninggalkannya di sana sebelumnya, sadar bahwa perjalanan kembali tak akan sesederhana saat mendaki. Kini hanya suara dedaunan yang berdesir menyambut mereka, seolah hutan sendiri menahan napas setelah semua yang terjadi.
Kaivan berjalan paling depan, matanya tertuju pada kristal dingin dalam genggamannya. Benda itu tak bereaksi, bahkan sekali pun, namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa kristal itu menyimpan lebih dari yang mereka pahami. Felicia berjalan dekat di belakangnya, ekspresinya tersembunyi di bawah bayangan fajar. Radit dan Raphael bergerak dalam diam. Di sisi Kaivan, Isabel sesekali meliriknya, ingin berbicara, namun memilih untuk tetap diam.
Namun jauh di atas mereka, suara lain bergema.
Langkah kaki.
Berat. Tidak teratur.
Dari balik dinding reruntuhan Radio Malabar, sebuah sosok muncul, hampir tak dapat dikenali.
Rapi.
Tubuhnya robek oleh luka terbuka, darah kering menggores wajahnya yang cekung. Namun ia tetap berjalan, selangkah demi selangkah, menuju tubuh William yang kaku dan tak bernyawa di atas rumput.
Dalam sunyi fajar yang masih muda, Rapi berlutut. Napasnya bergetar, tubuhnya gemetar saat ia meraih tangan dingin William, menggenggamnya dengan jari-jari yang bergetar.
"Aku juga gagal… maaf," bisiknya. Suaranya tenggelam di antara darah, debu, dan air mata yang akhirnya jatuh.
Perlahan, ia mengangkat senjatanya. Larasnya mendekati pelipisnya. Jari berlumur darah mulai menarik pelatuk, hingga sesuatu menghentikannya.
Sebuah tangan kecil.
Rapi membeku. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki kecil, sekitar enam tahun, dengan mata hitam pekat yang menembus langsung ke jiwa. Pakaiannya sederhana, namun ada sesuatu yang terasa salah. Tidak wajar. Ia menatap Rapi dan berbicara dalam bahasa asing, lembut namun tajam:
"Tu das nicht, komm mit ihm, Mädchen, ihr werdet euch verstehen."
Rapi tidak memahami kata-katanya. Namun nadanya, tenang dan dalam, menghapus dorongan untuk mati. Sesuatu di dalam dirinya bergetar, tersentuh di tempat yang hampir hancur.
Kemudian anak itu berbalik menuju reruntuhan. Dari kegelapan, seorang wanita muncul. Langkahnya tanpa suara, siluetnya memancarkan cahaya samar. Anggun. Berwibawa. Ia mengangkat tangannya ke arah puing-puing yang hancur.
Tanah bergerak. Retakan menyatu kembali, lubang-lubang tertutup. Reruntuhan lenyap, digantikan oleh rumput hijau segar yang tumbuh tanpa suara. Udara berubah, bau kematian memudar, digantikan aroma embun pagi.
Rapi terpaku saat wanita itu menatapnya dan tersenyum.
"Dia berkata… ikutlah bersama kami. Karena kalian berdua akan saling memahami."
Suaranya lembut, namun tak memberi ruang untuk menolak. Rapi melirik anak itu, lalu kembali pada wanita tersebut. Kebingungan berputar, namun ketenangan perlahan meresap, seperti pelukan yang telah lama ia lupakan.
Dengan napas berat, ia menjatuhkan senjatanya. Senjata itu menyentuh tanah dengan bunyi kecil, dentingan logam yang menandai akhir dari sebuah jalan. Rumput menelannya dalam diam.
Wanita itu berbalik dan berjalan menuju hutan. Anak kecil itu mengikutinya tanpa suara. Rapi menatap punggung mereka, lalu akhirnya melangkah maju, meninggalkan kematian, dan mungkin memasuki sesuatu yang jauh lebih asing.
Saat ia menghilang di antara pepohonan, angin lembut menyapu puncak gunung. Tempat yang menjadi saksi tragedi kembali sunyi, tanpa darah, tanpa jejak pertempuran. Seolah semua yang terjadi malam itu hanyalah mimpi yang perlahan memudar.
Cahaya pagi merayap di ufuk, mengusir sisa misteri malam. Langit masih menyimpan bintang-bintang samar, enggan menghilang, seakan tetap tinggal untuk menyaksikan beban yang dipikul oleh mereka yang selamat.
Di dalam mobil yang menuruni jalan berkelok kembali ke vila, keheningan menekan mereka. Kenangan Gunung Puntang menggantung di setiap penumpang seperti bayangan yang tak terucap.
Felicia duduk di kursi tengah, tangan terlipat saat ia bersandar. Tatapannya melayang keluar jendela, mengikuti pepohonan yang tersentuh cahaya fajar. Udara pagi yang sejuk masuk dari jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma embun dan tanah basah. Ia menarik napas dalam, lalu menatap luka di lengannya, goresan, memar, pengingat samar bahwa mereka hampir mati. Matanya meredup, di dalamnya masih tersisa bayangan pertempuran, pengkhianatan, dan kematian yang sia-sia.
Dari kursi belakang, Thivi bergerak. Kelopak matanya bergetar sebelum perlahan terbuka. Pandangannya kabur, tubuhnya lemah, pikirannya terpecah.
"Bukankah aku… tadi keluar dari vila?" gumamnya. Suaranya serak, napasnya pendek, seperti baru terbangun dari mimpi buruk. "Kenapa aku ada di mobil?"
Raphael, yang duduk di paling belakang, tetap menatap kosong, masih terjebak dalam sisa kejadian semalam. Ia menjawab dengan nada datar dan berat.
"Banyak yang terjadi… istirahat saja dulu."
