Ficool

Chapter 129 - Nama yang Seharusnya Tak Ia Ucapkan

Tiba-tiba, kepala William terangkat tajam. Mata merahnya menyala, dipenuhi kegilaan dan ketakutan.

"Aaarggh! Aku tidak mau mati!!" Jeritannya merobek malam yang tenang, seperti tangisan makhluk yang tersesat.

Frans dan Radit tersentak.

"Apa-apaan ini?!" Radit meraih senjatanya, namun nalurinya mengatakan bahwa peluru tak akan berguna menghadapi hal seperti ini.

Ujung pisau menyentuh kulit. Garis tipis darah mulai muncul.

Mereka menarik lengannya dengan putus asa, tetapi kekuatan yang menyeretnya ke depan jauh melampaui otot, bahkan akal sehat.

"Tulangnya sudah hancur total!" teriak Felicia, urat-uratnya menegang di bawah tekanan. Kaivan menggertakkan gigi, terjebak dalam mimpi buruk yang tak mampu ia hentikan.

"William! Bertahan!" teriak Raphael.

Namun pisau itu menang.

Dengan bisikan tajam yang merobek, bilah itu meluncur masuk ke tenggorokan William. Matanya membelalak. Darah menyembur dari mulut dan lehernya, mengalir seperti sungai yang lepas dari bendungan.

Di napas terakhirnya, William berbisik, patah-patah, memudar:

"Ha...ti... ha...ti... me...reka... ber...ba...ha...ya... jan...gan... li...bat...kan... Eka..."

Kepalanya terkulai lemas. Tubuhnya menegang sesaat, lalu jatuh dengan suara berat.

Darah meresap ke rumput, tenggelam ke dalam tanah dalam keheningan yang lebih menakutkan daripada jeritannya.

Kaivan, Raphael, dan Felicia merebut pisau dari tangan William, namun mereka sudah terlambat. Kaivan menatap senjata itu tanpa berkedip, seolah pikirannya menolak menerima apa yang baru saja terjadi.

Keheningan mencekik menyelimuti malam. Angin berhembus melewati rerumputan, membawa aroma logam dari darah segar. Frans menelan ludah. Radit mengusap wajahnya dengan tangan gemetar, seakan mencoba menghapus mimpi buruk.

Lalu, sesuatu berubah.

Dari saku William yang robek, sebuah buku tua terjatuh. Mata Kaivan langsung menajam.

Tome of Omnidream. Artefak yang selama ini berada di tangan William.

Namun sebelum siapa pun sempat bergerak, bayangan menyembur dari tanah. Kabut gelap, seperti cengkeraman kegelapan yang hidup, melilit buku itu. Dalam sekejap, Tome tersebut lenyap ke dalam kehampaan.

Angin berubah.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

Salah.

Felicia memperkuat posisinya, matanya menyipit. Raphael mengangkat senjatanya. Dan Kaivan merasakan udara itu sendiri berubah, seolah sesuatu yang tak terlihat merayap di bawah kulitnya.

Sebuah kristal kecil muncul dari tempat Tome of Omnidream tadi menghilang. Cahayanya lembut, menembus kegelapan malam. Ia berkilau tenang, namun menyimpan rahasia yang tak mampu dinamai siapa pun.

Di bawah bulan sabit yang muram, tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak berserakan di lapangan. Aroma darah dan tanah lembap menggantung di udara dingin. Di tengah semua itu, Kaivan berdiri diam, tenggelam dalam pikirannya.

Ia melangkah perlahan, tertarik pada kristal kecil itu. Cahaya pucatnya seakan memanggilnya. Di balik kilau lembut itu, ada sesuatu seperti bisikan. Sunyi, namun terasa nyata.

Dengan hati-hati, ia berlutut. Napasnya tertahan. Jemarinya meraih ke depan.

Dan saat kulitnya menyentuh permukaannya...

"Kaivan?" suara Felicia memecah keheningan. Ia melangkah mendekat, ketegangan terpancar dari sikapnya, seolah siap melindunginya dari sesuatu yang tak terlihat.

Kaivan menggenggam kristal itu lebih erat. Rasa dingin menjalar hingga ke tulangnya, namun matanya tak lepas dari benda yang berkilau di telapak tangannya. Ada sesuatu yang terasa familiar. Seolah itu bukan sekadar benda.

Ia menarik napas, lalu berdiri. Dengan gerakan mantap, ia mengeluarkan Tome of Omnicent dari tasnya. Sampul kayu tua itu berkilau samar, pola ukirannya bergerak halus seolah merespons keberadaan kristal tersebut.

Kaivan meraba permukaannya, hingga menemukan celah sempit. Seolah sejak awal, celah itu memang diciptakan untuk kristal ini.

"Mungkin..." gumamnya pelan.

Perlahan, ia memasukkan kristal itu ke dalam celah.

Keheningan menyusul.

Tak ada reaksi.

Tak ada cahaya.

Tak ada lonjakan kekuatan.

Hanya keheningan yang terasa lebih berat.

Kaivan menghela napas. Jemarinya menggenggam sampul usang Tome itu.

"Sepertinya cuma perasaanku saja," bisiknya, setengah kecewa, setengah ragu.

Di belakangnya, Radit berbicara, suaranya tenang namun tegang.

"Sudah jam empat pagi."

Tatapan Felicia beralih ke tubuh-tubuh yang tak bergerak. Suaranya nyaris tak terdengar.

"Lalu mereka? Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka di sini..."

Raphael, yang sejak tadi gelisah, mengencangkan jaketnya dan menatap sekeliling.

"Orang-orang sering naik ke sini. Kalau ada yang menemukan ini sebelum kita pergi... akan jadi masalah besar. Kita harus pergi sekarang."

Kaivan tidak menjawab.

Matanya berpindah dari satu wajah lelah ke wajah lainnya.

Beban pertanyaan yang tak terucap menekan bahunya.

Ini bukan sekadar pilihan.

Ini adalah arah masa depan mereka.

More Chapters