Hantaman itu begitu kuat hingga Felicia, Radit, dan Raphael terpental ke tanah, tak mampu menahan daya tubuh William. Mereka jatuh keras, namun masih sadar. Sementara itu, William tergeletak tak berdaya, lehernya seperti remuk, seolah beban dunia runtuh menimpanya. Jantungnya berdetak liar, napasnya tersangkut di tenggorokan. Kegelapan nyaris menelannya utuh.
Namun dari dalam rasa sakit itu, kesadarannya perlahan kembali. Matanya terbuka, melihat lingkaran orang-orang di sekelilingnya: Kaivan, Radit, Zinnia, Felicia, Ethan, Frans, dan Raphael. Tatapan mereka tertuju padanya. Sunyi, namun penuh penghakiman.
Kaivan melangkah maju. Tatapannya dingin, dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya.
"Bagaimana rasanya, Pangeran Tidur?" tanyanya tenang, namun menusuk.
Kata-kata itu menyalakan sesuatu di dada William. Wajahnya memerah oleh amarah. Ia mencoba bangkit.
"Kau benar-benar pikir kau bisa..."
Namun sebelum kalimatnya selesai, Kaivan bergerak. Tanpa ragu, ia menekan Tome Omnicent ke dada William.
Sesaat kemudian, tubuh William kejang hebat. Jeritannya merobek malam.
"AAARRRGHH!!"
Energi Tome mengalir ke seluruh nadinya, merobeknya dari dalam, seolah mengiris daging dan tulang tanpa ampun.
Kaivan tak bergeming. Tatapannya tanpa belas kasihan.
"Lepaskan pengaruhmu. Sekarang." Ia menarik Tome itu, memberikan peringatan terakhir.
William terengah, tubuhnya gemetar menahan sakit. Luka di wajahnya menggelap, namun amarah masih menyala di matanya.
"Berani-beraninya kau memperlakukanku seperti ini!" raungnya, menolak menyerah.
Namun sebelum ia sempat bangkit, Kaivan kembali menekan Tome itu ke tubuhnya.
"AAARRRHHH!!"
Tubuh William melengkung keras, dipenuhi gelombang rasa sakit yang tak tertahankan. Kaivan hanya menatap, tanpa emosi.
"Kau sudah selesai. Tak ada lagi yang bisa diselamatkan darimu." Ia menarik kembali Tome itu, membiarkan kehancuran meresap hingga ke tulang.
Dikelilingi oleh mereka semua, William akhirnya terdiam. Napasnya terputus-putus oleh sisa rasa sakit. Dengan gerakan lemah, ia mengibaskan jarinya.
Pengaruhnya pun lepas.
Thivi dan Isabel tersadar kembali.
Suaranya gemetar, hampir tak terdengar.
"Sekarang puas...?" gumamnya, kebencian dan kelelahan bercampur di matanya.
Isabel perlahan membuka mata, napasnya cepat. Wajahnya pucat, masih bingung.
"Aku... tadi mencoba memberikan sesuatu ke Kaivan. Tapi seseorang menghentikanku... dia lari..." suaranya bergetar, seolah baru saja lolos dari mimpi buruk.
Zinnia segera mendekat, meletakkan tangan lembut di bahu Isabel.
"Tidak apa-apa. Kau sudah aman sekarang. Semuanya sudah selesai... atau seharusnya begitu."
Namun ketegangan di matanya mengkhianati kata-katanya.
Detak jantung Isabel mulai melambat, tapi tatapannya masih menyimpan sesuatu. Kekhawatiran yang tak mau hilang.
Kaivan berdiri di tengah mereka, tegak di bawah angin malam. Rambutnya berantakan, namun matanya tetap tajam, tertuju pada William yang terkulai di hadapannya.
Di bawah cahaya bulan, keheningan menebal.
Ada sesuatu yang belum selesai.
"Apa tujuan aslimu?" tanya Kaivan tajam, suaranya dipenuhi tuntutan dan kecurigaan.
Ia menginginkan jawaban. Seseorang sedang mengendalikan semua ini dari balik layar.
William mengangkat kepalanya perlahan. Napasnya berat, namun suaranya tetap tegas.
"Sudah kubilang... misiku sederhana. Menangkapmu hidup-hidup, dan menjauhkanmu dari Tome Omnicent."
Jawaban itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang. Sunyi, namun mengguncang segalanya di bawahnya.
Kaivan melangkah lebih dekat, matanya menyipit.
"Siapa yang mengirimmu?" suaranya bukan sekadar bertanya. Itu tekanan, yang mengikis menuju kebenaran.
William terdiam. Tatapannya jatuh ke tanah, menimbang antara kejujuran dan keselamatan.
Akhirnya, dengan suara serak dan bergetar, ia menjawab.
"Seorang wanita."
Waktu seakan membeku.
Udara menjadi dingin.
"Seorang wanita?" bisik Frans, seolah mengucapkan sesuatu yang mustahil.
Mata Kaivan semakin menyipit.
"Siapa dia?"
William menelan ludah.
"Dia menyuruh kami merekrut orang... seperti sel teroris. Tapi di atasnya, ada seorang anak laki-laki. Dialah yang membiayai semuanya... dan memberi semua perintah."
Radit tersentak.
"Seorang anak? Bagaimana mungkin anak kecil punya kekuasaan sebesar itu?"
Di bawah langit bertabur bintang, angin membawa aroma tanah lembap dan rumput yang terinjak.
Mereka semua terdiam, napas masih berat setelah pertempuran.
Cahaya bulan yang pucat menyapu wajah-wajah lelah, mata yang tak lagi tahu harus percaya pada apa.
William berlutut di tengah mereka.
Tubuhnya gemetar, wajahnya dipenuhi keputusasaan.
Tangan kanannya perlahan bergerak menuju pisau di pinggangnya.
Namun bukan untuk menyerang.
Pisau itu bergetar saat ia membalik arahnya, mengarah ke lehernya sendiri.
"Tidak... maaf... aku tidak seharusnya mengatakan apa pun...!" suaranya bergetar oleh ketakutan, seolah kata-kata itu sendiri memanggil kematian.
Matanya membelalak, menatap sesuatu yang hanya bisa ia lihat.
Seolah ada benang tak kasatmata yang menarik lengannya ke arah leher.
"William!" Kaivan berlari maju.
Ia meraih pergelangan tangan William, menghentikan pisau itu hanya sejengkal dari kulitnya.
Namun pisau itu tetap bergerak.
Perlahan.
Tidak wajar.
Seolah kehendak lain sedang memaksakan dirinya.
Felicia dan Raphael ikut mencengkeram lengan William.
"Sial... ini tidak normal!" desis Raphael, rahangnya mengeras saat melawan tarikan kekuatan misterius itu.
Mereka menarik sekuat tenaga.
Hingga suara retakan mengerikan terdengar.
Tulang William patah di bawah tekanan itu.
