Ficool

Chapter 127 - Jalan Keluar Itu Bohong

Kaivan membeku dalam keterkejutan, lalu segera bergerak lagi, berguling ke samping. Namun gerakan William terasa tidak wajar, digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata. Ia melayang, mengambang, seolah mengenakan jetpack tersembunyi.

"Apa ini…? Bagaimana dia bisa terbang?" pikir Kaivan, jantungnya berdegup kencang.

Di dalam mimpi, William benar-benar mengenakan jetpack. Ia melesat di udara dengan kecepatan menyilaukan, menghujani pukulan yang mengguncang tanah di dunia mimpi itu. Serangannya bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan kehendak seorang pria yang menolak untuk bangun.

Di dunia tidur itu, Kaivan tampak berubah. Sebuah perisai cahaya pijar membungkus lengannya, sementara karambit berkilau di tangan lainnya. Meski mimpi itu memperlambat geraknya, pikirannya tetap tajam. Ia membaca pola William dengan fokus tenang yang membara.

Di dunia nyata, gema mimpi itu merembes ke dalam kenyataan. Kaivan menekan Tome Omnicent ke lengannya, membentuknya menjadi perisai. Buku itu berdenyut dengan aura samar yang hanya bisa dirasakan William. Di tangan lainnya, karambit menunggu. Setiap serangan William membelah udara, namun Tome itu tetap tak tersentuh.

William melesat maju, berputar di udara seperti peluru hidup. Namun setiap hantamannya berbenturan dengan cahaya tak kasat mata yang menyelimuti Tome. Bahkan dalam keadaan aneh ini, saat mimpi dan kekuatan menyatu, setiap kontak dengan Omnicent selalu terpental. Ada batas tak terlihat yang tak bisa ia lewati.

Kaivan memanfaatkan celah itu. Dengan satu gerakan menyapu, ia menebas ke atas, karambit meluncur menuju tenggorokan William. Namun William langsung merunduk dan membalas dengan tendangan berputar.

CRASH!

Tubuh Kaivan terlempar ke seberang ruangan, menghantam dinding. Napasnya terhempas keluar, tetapi api di matanya tidak padam. Ia merasakan benturan itu bukan hanya di dunia fisik, tetapi juga di pikirannya. Batas antara dua dunia mulai kabur.

"Ini bukan sekadar pertarungan fisik," pikir Kaivan, keringat menetes di dahinya. "Aku harus menariknya keluar… keluar dari dunia ini."

Di bawah cahaya dingin bulan, malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Padang rumput luas di depan Radio Malabar diselimuti cahaya perak pucat, membentangkan bayangan panjang pepohonan yang bergoyang perlahan oleh angin. Desiran daun dan hembusan angin menjadi satu-satunya irama yang mengiringi ketegangan kelompok itu.

Radit duduk bersandar pada batu besar, menghela napas panjang saat pandangannya jatuh pada Thivi yang terikat di tanah. Gadis itu terus meronta, pergelangan tangan dan kakinya terikat erat, matanya liar mencerminkan kekacauan yang tak mampu ia ucapkan. Zinnia berdiri di sampingnya, tangan terlipat, ekspresinya tajam. Raphael tetap diam, matanya menyapu kegelapan di sekitar mereka. Bahkan Frans, yang biasanya paling santai, tampak tegang.

Felicia dan Ethan, masih menahan Isabel yang meronta, keluar dari reruntuhan Radio Malabar. Rambut panjang Felicia bergoyang diterpa angin malam yang dingin saat tatapannya langsung menemukan Thivi yang terikat di tanah. Alisnya mengerut.

"Kenapa Thivi diikat seperti itu?"

Radit meluruskan tubuhnya, suaranya berat. "Dia terus berteriak memanggil nama Kaivan. Kami sudah mencoba menenangkannya, tapi tidak berhasil. Kami tidak punya pilihan selain menahannya."

Felicia melirik Isabel, kondisinya sama. Mata kosong, tubuh gemetar, meronta seperti Thivi. Kekhawatiran menggelapkan wajahnya. "Isabel juga… sebenarnya apa yang terjadi?"

"Di mana Kaivan? Kita butuh Tome Omnicent untuk tahu apa yang sedang terjadi!" tuntut Zinnia, nadanya mendesak.

Ethan, dengan tangan terlipat, menjawab tegas, "Kaivan masih di dalam."

Zinnia melangkah maju, suaranya meninggi. "Kalau begitu kita harus membantunya! Kita tidak bisa hanya diam di sini!"

Namun Ethan menahan lengannya. "Tidak. Dia memberiku perintah langsung. Kita harus menyiapkan jebakan di pintu masuk."

Zinnia menatapnya, terkejut dan tidak percaya. "Jebakan? Untuk siapa? Saat dia sendirian di dalam? Itu gila!"

Ethan tidak bergeming, tatapannya tak goyah. "Kaivan tidak akan meminta ini tanpa alasan. Jika dia ingin jebakan disiapkan, berarti sesuatu, atau seseorang, akan keluar dari sana. Dan kita harus siap."

Keheningan menyelimuti kelompok itu saat mereka mencoba memahami maksud Kaivan. Felicia menghela napas pelan, lalu akhirnya mengangguk.

"Baiklah. Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam, tapi kalau Kaivan menyuruh kita bersiap, kita ikuti. Aku yang akan menangani jebakannya."

Felicia berlutut, menarik gulungan tali dari tasnya. Dengan hati-hati, ia mulai merakit mekanisme, mengikat salah satu ujung tali ke batu besar, menghubungkannya dengan pemicu granat flashbang yang ia pasang di jalur bawah tanah. Setiap simpulnya kuat, gerakannya presisi, sementara Frans dan Raphael berdiri di sampingnya, berjaga.

Radit melirik Thivi dan Isabel yang masih gelisah, lalu mengarahkan pandangannya ke pintu masuk Radio Malabar. "Apa pun yang terjadi di dalam sana, Kaivan pasti sedang bertarung mempertaruhkan nyawanya. Kita hanya bisa berharap dia berhasil keluar."

Tiba-tiba, Isabel dan Thivi menjerit lebih keras. Tubuh mereka melengkung ke belakang dengan kasar, seolah ada sesuatu yang menarik dari dalam. Felicia dan Zinnia buru-buru menahan mereka, namun kekuatan besar meledak dari tubuh keduanya, membuat mereka sulit dikendalikan.

"Sial! Ini apa?!" teriak Zinnia, berusaha menahan Isabel.

Ethan mengangkat senjatanya, siap menghadapi apa pun yang keluar. "Kaivan… cepat…" gumamnya pelan.

Dari dalam bangunan, suara benturan keras menggema keluar. Semua orang tersentak. Radit langsung meraih senjatanya, bersiap menghadapi apa pun yang akan datang.

"Kita harus cepat!" Felicia mempercepat pekerjaannya, menyelesaikan jebakan sebelum sesuatu yang tak terduga terjadi.

Di bawah, di bunker bawah tanah Radio Malabar, Kaivan dan William masih terlibat dalam pertarungan brutal. Ruang sempit itu telah berubah menjadi medan benturan tubuh dan napas putus asa. Keringat membasahi mereka berdua, namun Kaivan tidak menyerah. Dengan tekad kuat, ia mendorong William ke sudut. Tubuhnya gemetar, tetapi matanya tetap menyala terang.

Ia melompat, menempel di punggung William.

Karambitnya menusuk berulang kali ke tubuh William. Darah memercik, namun raksasa itu tetap berdiri. Dalam serangan terakhir, Kaivan menekan Tome Omnicent ke tubuh William, taruhan terakhirnya untuk mengakhiri semuanya.

Di dalam mimpi William, dunia berubah menjadi horor. Kaivan menjelma menjadi lendir tebal yang merayap, melahap zirah besi yang sangat dihargai William. Teror menelannya saat pertahanannya meleleh di bawah rasa jijik yang tak terjelaskan itu. Bahkan di kedalaman alam bawah sadarnya, Kaivan memburu tanpa ampun.

"Kenapa aku kalah bahkan di dalam mimpiku sendiri?!" teriak William di dalam pikirannya.

Dunia mimpinya runtuh, dilahap ketakutan tanpa bentuk.

Di dunia nyata, tubuh William menghantam dinding dengan keras. Kaivan ikut terpental, menghancurkan lemari kayu yang pecah di bawahnya. Keduanya jatuh. Napas Kaivan gemetar, dadanya naik turun, tetapi api di matanya belum padam.

William bangkit lebih dulu. Luka mengoyak tubuhnya, namun ketakutan yang lebih besar memaksanya berdiri. Tatapannya yang panik mencari jalan keluar, lalu ia berlari menuju pintu, naluri mengalahkan rasa sakit.

Kaivan melihatnya melarikan diri. Di tengah reruntuhan, ia melihat beberapa peluru shotgun berserakan di lantai. Meski tubuhnya hampir lumpuh, jari-jarinya masih meraihnya. Perlahan, ia memaksa dirinya berdiri, digerakkan semata oleh kemauan keras.

Dengan peluru di tangan, Kaivan mencari shotgun milik William. Ia menemukannya terkubur di bawah pecahan kayu di sudut ruangan. Dengan tangan gemetar, ia mengisinya, lalu tertatih keluar, mengejar pria yang melarikan diri itu.

Di luar, jebakan telah siap. Ethan, Felicia, dan yang lain telah mengambil posisi, menunggu dalam keheningan tegang. Kaivan muncul dengan shotgun di tangan dan Tome Omnicent terikat di lengannya, siap untuk konfrontasi terakhir.

Di dalam dunia mimpi gelap William, ia melesat melewati lorong gua, sayap imajiner membawanya menuju cahaya di kejauhan. Harapan muncul. "Itu jalan keluar," pikirnya, yakin dirinya hampir bebas.

Namun dari bayangan, seekor ular raksasa menerjang. Tubuh bersisiknya melilitnya, menghancurkan, mencekik, meremukkan tulang. Kepanikan menelannya. Ia meronta, tetapi semakin ia melawan, semakin kuat lilitannya. Napasnya tersendat. Tulang rusuknya terasa akan patah.

Lalu, tanpa peringatan, kepala ular itu meledak. Darah dan serpihan menyembur ke wajah William, membutakannya. Ia terpelanting di kegelapan, tak mampu mengendalikan diri. Benturan dahsyat menyusul saat tubuhnya menghantam pohon besar di mulut gua. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.

Di dunia nyata, William melesat ke depan, terperangkap oleh jebakan Ethan. Flashbang yang terpasang padanya meledak, memekakkan dan membutakannya seketika. Dalam kondisi kacau, ia terlempar tak terkendali menuju pintu keluar.

Felicia, Radit, dan Raphael sudah bersiap. Masing-masing menggenggam nunchaku tiga ruas dengan sekuat tenaga, berdiri dalam formasi yang tak tergoyahkan.

"Tahan posisi!" teriak Radit, suaranya membelah malam. Felicia dan Raphael mengatupkan gigi, otot menegang, tangan bergetar menahan beban momen itu. Namun mata mereka tetap tajam, dingin, tak goyah. Tidak ada ruang untuk kesalahan.

Raungan William merobek udara seperti badai saat ia menerobos keluar dari kegelapan. Angin terbelah di sekitarnya, tubuhnya melaju di udara seperti proyektil hidup, menyapu lapangan dengan kecepatan hampir tujuh puluh kilometer per jam. Malam bergetar menyambut kedatangannya.

Detik berikutnya, CRAKK!!

Leher William menghantam nunchaku. Suara itu menggema, kayu retak, daging remuk oleh benturan brutal. Ia terbangun, matanya terbuka lebar. Wajahnya membeku di bawah cahaya bulan, keterkejutan mengosongkan ekspresinya, kepanikan meledak, rasa sakit mencengkeram tulang.

Tubuh besarnya menghantam tanah, DUAGGH!!

Benturan itu mengguncang bumi, merobek keheningan malam. Rumput basah tertekan di bawahnya, terseret membentuk jejak kacau. Tubuh William berguling, lemas tak terkendali, hingga akhirnya berhenti telentang.

Ia tergeletak di padang terbuka seperti burung besi yang jatuh, arah hilang, kehendak hancur, jiwanya perlahan tenggelam dalam malam.

 

More Chapters