Ficool

Chapter 126 - Tak Ada Lagi yang Bisa Diperintah

William mendesis dan melemparkan pecahan beton ke arahnya. Kaivan menghindar, tetapi pijakannya tergelincir. William memanfaatkan celah itu, menerjang maju dan menghantam perut Kaivan.

DUK! Udara terhempas keluar dari paru-paru Kaivan. Tubuhnya terlipat. Sebelum ia sempat bangkit, sebuah tendangan tajam menghantam lengannya.

KRAK! Tome Omnicent terlepas dari genggamannya dan meluncur di lantai. Kaivan jatuh berlutut, memegangi lengannya yang berdenyut. "Sial…" gumamnya. William melangkah mendekat, matanya berkilau oleh sensasi kemenangan.

Namun sebelum ia memberi pukulan penutup, suara benturan keras menggema dari ambang pintu.

Felicia muncul, menyeret Isabel yang meronta, dengan Ethan mengikuti di belakang. Matanya menyapu ruangan, lalu mengunci pada Kaivan. "Kaivan!" teriaknya, tajam dan putus asa.

Kabut tipis melayang di aula yang hancur, hanya diisi detak jantung dan napas yang tersengal. Bau darah dan debu menggantung pekat. Cahaya redup menetes dari dinding yang retak, menyinari sosok-sosok tak bergerak yang tersebar di lantai.

Di tengah atmosfer kematian itu, William berdiri terpaku. Debu dan darah menempel di tubuhnya, amarahnya yang tadi membara kini lenyap. Ekspresinya kosong, ia tak bergerak.

Pandangannya berhenti pada benda di tangan Felicia.

Nunchaku tiga batang.

Jari-jari William gemetar, tipis, namun jelas. Seolah luka lama terbuka kembali. "Itu…" bisiknya, suaranya rapuh. Bukan sekadar terkejut, ada luka, kenangan, dan kehancuran di dalamnya. Matanya bergeser, kebingungan, kesadaran yang perlahan muncul, lalu kehampaan yang tenggelam.

Felicia tidak berbicara. Ia berdiri tegak, ramping namun tak tergoyahkan, seperti bayangan kematian yang anggun. Rambut hitamnya berayun lembut dalam hembusan angin reruntuhan. Mata merahnya menembus William, tanpa amarah, tanpa simpati, namun menyampaikan satu kebenaran:

"Rapi telah jatuh."

William tersentak, seolah tertusuk dari dalam. Bukan karena luka, melainkan karena kebenaran. Setiap bawahan yang ia bentuk, latih, dan percayai, telah dikalahkan. Tubuh mereka tergeletak seperti sisa-sisa pertunjukan yang hancur. Tak satu pun yang masih berdiri.

Hanya dia.

Dan keheningan.

Kaivan berdiri dengan kaki yang tak stabil, seluruh tubuhnya gemetar. Napasnya tajam dan berat, namun matanya tetap menyala, bukan oleh amarah, melainkan pemahaman yang tenang. Ia tak lagi melihat William sebagai monster, melainkan sebagai seseorang yang telah kehilangan segalanya.

"Aku baik-baik saja," katanya serak. Darah mengalir di pelipisnya dan membasahi leher. Lututnya nyaris runtuh, namun ia menolak jatuh. "Pergi dari sini. Ikuti Ethan."

Felicia menoleh, tetap setenang biasanya. Tatapannya menyapu tubuh Kaivan yang penuh luka. Ia tahu luka itu dalam, namun ia juga tahu tekad Kaivan lebih keras dari baja. Dengan anggukan singkat, ia bergerak.

Tangannya mencengkeram lengan Isabel yang terus meronta. "Lepaskan! Aku harus ke Kaivan!" teriak Isabel, suaranya gemetar.

"Tenang, Isabel. Dia akan menyelamatkan kita," ujar Felicia, nadanya datar namun tegas. Genggamannya tak memberi celah, namun tanpa kekejaman. Ia menarik Isabel menjauh.

Ethan mengikuti di belakang. Matanya tajam, mengamati koridor. Tangannya menggenggam senjata, diam, namun siap. Setiap langkah penuh ketegangan.

Kini, hanya Kaivan dan William yang tersisa.

Keheningan menelan segala suara. Lima meter memisahkan mereka. Udara di antara keduanya menegang, seperti benang tak terlihat yang perlahan mencekik ruangan.

"Sekarang kau sendirian, bukan?" gumam Kaivan, suaranya menggesek luka yang tak terlihat.

William mengatupkan rahang. Tatapannya menyala, amarah dan penyesalan berputar menjadi badai. "Kau ingin tahu siapa yang menyuruhku, bukan?"

Sebelum Kaivan menjawab, William meledak.

Ia melesat maju seperti bayangan yang tercabik dari bumi. Langkahnya pendek dan cepat, lalu ia melompat, melancarkan tendangan horizontal lurus ke kepala Kaivan.

Kaivan terkejut. Ia mencoba mundur, namun terlambat. Insting mengambil alih; ia berguling ke samping, meraih satu hal,

Tome Omnicent.

Buku itu tergeletak tak jauh. Ujung jarinya menyentuh udara hanya beberapa inci darinya,

DUK! Tendangan William menghantam lengannya. Tubuh Kaivan terpental, menghantam puing. Omnicent terlepas lagi, meluncur dan memantul menjauh dari jangkauan. Harapan terakhirnya ikut tergelincir.

Kaivan mengerang, rasa sakit menjalar dari lengan ke punggung. Namun anehnya, William tidak melanjutkan serangan. Tubuhnya goyah, napasnya melambat, penglihatannya meredup.

Kaivan, masih di lantai, mengerjap bingung. "Apa yang terjadi padamu?"

William tidak menjawab. Tubuhnya gemetar, matanya kosong, tertutup kabut tipis yang berpilin seperti bayangan. Perlahan, ia berlutut… lalu ambruk.

BUK.

Mata Kaivan melebar. "Kenapa dia… tertidur?"

Namun dari bibir William yang setengah terbuka, keluar bisikan patah: "…Penguasaan Alam Mimpi… Pikiran dalam Tidur…"

Kata-kata itu menggema di kepala Kaivan, mengusik sesuatu yang dalam. Tekanan tak terlihat, namun mencekik, melilit dirinya.

Di dalam mimpi William, dunia berubah. Tanah hitam membentang, langit berputar dalam warna merah darah. William berdiri mengenakan zirah berornamen yang berkilau seperti logam hidup. Di hadapannya, Kaivan bergerak lambat, seolah waktu sendiri menolaknya.

William menerjang, tinjunya menghantam seperti badai. Tanah bergetar setiap kali sarung tangannya membelah udara.

Sementara itu, di dunia nyata, tubuh William yang tertidur tiba-tiba melesat maju. Menentang gravitasi, ia melayang menuju Kaivan.

More Chapters