Ficool

Chapter 125 - Bukan Seorang Master

William beralih bertahan. Ia menangkis setiap serangan dengan tangan kosong, bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan. Refleksnya nyaris sebanding dengan Kaivan. Duel mereka berubah menjadi tarian kematian, serangan dan pertahanan saling bertukar dalam kecepatan yang menyilaukan.

Kaivan mengubah ritmenya. Terkadang cepat dan menusuk, terkadang melambat secukupnya untuk menipu. Setiap kali William membalas, Kaivan sudah menghilang. Raut frustrasi muncul di wajah William, ia mulai kehilangan kendali atas tempo.

"Cepat juga kau..." geram William, menepis bilah Kaivan.

"Dan kau lebih lambat dari yang kukira," balas Kaivan, senyum tipis menggantung di wajahnya yang lelah.

Amarah William meluap. Ia melancarkan rentetan pukulan. Kaivan menunduk, memutar tubuh, lalu mengiris lengan William.

Tss! Darah mengikuti lengkung bilah.

William hanya meringis, lalu tersenyum lebih lebar.

Mereka kembali beradu, saling menyerang dan menghindar seperti bayangan yang saling mengejar. Pukulan beterbangan, Kaivan menyelinap di antaranya. William mengatupkan gigi.

Bagaimana bocah ini bisa secepat ini? Apa dia juga keturunan fragmen Omnivalor?

Namun satu kebenaran perlahan muncul.

Dia cepat... tapi pukulannya ringan, pikir William saat menahan tiap serangan dengan tubuhnya yang sekeras besi.

Sementara itu, Kaivan mulai goyah. Kognisi yang dipercepat, senjata terbesarnya, kini justru membebani dirinya. Ototnya menegang, penglihatannya mengabur, napasnya terengah. Setiap gerakan terasa semakin berat, namun ia memaksa dirinya terus maju.

Tetap menyerang. Pukulan. Tendangan. Tebasan. Namun tenaganya menipis. Langkah kakinya yang dulu mengalir kini bergetar seperti bayangan lelah di bawah lampu.

William mengamatinya dengan cermat, senyumnya semakin tajam.

Akhirnya.

Batas Kaivan mulai retak, dan kesempatan untuk menghancurkannya perlahan terbuka.

Felicia berputar di udara, tongkat logamnya mengukir lengkung tajam saat ia melesat maju. Setiap lompatan, setiap ayunan, membawa kekuatan yang terus meningkat. Napasnya tetap stabil, meski keringat mengalir di pelipis. Di tengah ruangan, Rapi berdiri kokoh, nunchaku tiganya berputar pelan sementara matanya yang tajam mengikuti setiap gerakan Felicia.

"Lumayan cepat," gumam Rapi, melangkah satu langkah ke belakang. "Tapi belum cukup untuk menjatuhkanku."

Felicia tidak menjawab. Ia melesat dan mengayunkan serangan ke kepala Rapi, namun benturan terjadi dengan nunchaku yang berputar. Suara logam nyaring meledak di udara. Felicia terus menekan, gerakannya menjadi badai yang tak henti. Setiap serangan mendorong pertahanan Rapi semakin mendekati batasnya.

Rapi bertahan, namun langkah demi langkah ia dipaksa mundur. Di tengah denting senjata, ia menyeringai dan melontarkan ejekan. "Majikanmu memperlakukanmu dengan baik, ya?"

Felicia tetap diam. Matanya tak goyah, tubuhnya terus menyerang. Dalam satu putaran cepat, ia merendah dan melayangkan pukulan tepat ke sisi tubuh Rapi. Rapi menggeram, meski posisinya tidak runtuh.

Akhirnya Felicia berbicara, suaranya lembut, namun teguh. "Majikan? Kaivan bukan majikanku. Dia lebih dari itu. Dia mengangkatku saat aku hancur, menuntunku saat aku tersesat, memberiku tempat untuk tertawa… dan memberiku alasan untuk hidup. Dia selalu mendahulukan orang lain dibanding dirinya sendiri."

Rapi terdiam. Matanya membesar. Kata-kata Felicia menembus lebih dalam daripada serangannya. Sesuatu retak di dalam dirinya.

"Kau… tidak melihatnya sebagai majikan?" bisiknya. Tatapannya bergetar. Dalam benaknya, wajah William muncul, dingin, keras, menghukum tanpa ampun. Ia bukan pelindung. Ia adalah kurungan.

Kenangan lama melilit erat. Dan untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, tangan Rapi gemetar.

Pikiran itu merobek keyakinannya. Rasa hampa menyebar, mengguncang fondasi yang selama ini ia pegang. Bibirnya bergerak, melahirkan gumaman pahit. "Dia beruntung… memiliki seseorang yang peduli."

Felicia melihat retakan di mata Rapi. Namun tak ada kemenangan di wajahnya, hanya pemahaman. Ini bukan tentang menang atau kalah. Ia menarik napas dalam, menguatkan genggaman pada tongkatnya, lalu menerjang.

Rapi menatap kosong. Nunchakunya terlepas dari tangan, jatuh ke lantai. Ia tak bergerak. Felicia tak ragu. Ia melompat, tubuhnya berputar di udara. Dua batang logam menghantam.

"Aku juga menginginkan itu…" bisik Rapi lirih.

TROONG! Pukulan pertama mengenai puncak kepalanya, yang kedua menghantam lehernya. Rapi terhuyung, lalu jatuh keras ke lantai. Benturannya menggema seperti ayunan palu terakhir.

Felicia berdiri di atasnya, napasnya tersengal, tubuhnya basah oleh keringat. Tongkatnya telah melengkung tak beraturan. Ia menatap tubuh Rapi yang tergeletak dan berbisik, nyaris tak terdengar, "Aku tahu rasanya… dimanfaatkan oleh seseorang yang kau cintai."

Namun momen itu tak memberi jeda.

Sebuah suara memanggil dari kejauhan, cemas dan mendesak. "Felicia! Bantu aku menahan Isabel!"

Ethan.

Felicia memastikan Rapi tak akan bangkit, lalu meraih nunchaku yang kini tak bertuan. Ia berlari menuju suara itu, langkahnya mantap, masih menyisakan bara dari pertarungan.

Saat bergerak, Felicia memikirkan Kaivan, bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai sosok yang memberinya tujuan, yang mengubah luka-lukanya menjadi makna. Ini bukan sekadar pertarungan. Ini tentang kepercayaan. Tentang seseorang yang tetap berada di sisimu ketika dunia mencoba menghancurkanmu.

Di ruangan yang hancur, Kaivan dan William saling berhadapan di tengah debu yang melayang dan puing yang bertebaran. Napas mereka berat, tubuh mereka penuh luka. Namun mata Kaivan masih menyala dengan tekad, sementara William berdiri tegak dengan senyum dingin dan aura yang menelan ruangan.

Kaivan melesat maju. Karambit berantai di tangannya berputar tajam, mencari celah di pertahanan William. Namun William menepisnya dengan mudah, membalas dengan pukulan brutal yang memaksa Kaivan terus menghindar.

Di tengah bentrokan, Kaivan berteriak, "Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?!" Napasnya tersengal, namun tatapannya tetap tajam. William hanya mencibir. "Untuk apa tahu, kalau kau akan mati sebentar lagi?"

Ia melompat, dan tinju besarnya menghantam Kaivan, melemparkannya ke pilar yang retak.

Kaivan meringis, rasa sakit membakar tulang rusuknya. Tubuhnya nyaris hancur, namun tekadnya tak pudar. Ia masih memiliki satu harapan, Tome Omnicent. Ia membuka halamannya, dan untuk pertama kalinya, William mundur.

"Tch… buku terkutuk itu…" gumam William.

Kaivan menangkap ketakutan di balik topeng William. Ia tersenyum tipis dan mengangkat tome itu. "Kenapa tidak kau sentuh saja sendiri, William? Kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?"

More Chapters