Ficool

Chapter 76 - Pria Berpakaian Putih, Kata-Kata dalam Bayang

Ethan mengembuskan napas pelan. Kelegaan sempat terlintas di wajahnya, namun ia tetap mendorong Radit agar terus bergerak. Mereka merunduk rendah, berlari menyusuri lorong bayangan. Cahaya bulan yang pucat mengikuti langkah mereka, menjadi saksi bisu pelarian itu.

"Ethan… yang kita dengar tadi, itu benar-benar… rencana bunuh diri?" suara Radit bergetar, antara tak percaya dan ketakutan yang saling berkelindan.

Ethan berhenti. Rahangnya mengeras, tatapannya menembus gelap. "Iya. Mereka bukan cuma ekstremis. Mereka organisasi… dan Raphael mungkin salah satunya."

Tangannya mengepal. "Kita harus memperingatkan Kaivan. Sekarang."

Mereka mempercepat langkah tanpa banyak bicara. Setiap bayangan terasa seperti mata yang mengawasi, setiap desiran angin membawa ancaman yang tak terlihat. Jalanan yang sunyi terasa lebih panjang dari biasanya, seakan waktu sendiri berusaha menahan mereka agar tak sampai pada keselamatan.

Sementara itu, di jalan menuju penginapan, Kaivan dan Felicia berjalan berdampingan. Hanya suara langkah kaki mereka yang memecah malam. Genggaman Felicia terasa erat, hampir putus asa, seolah kehangatan kecil itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh.

Kaivan menyadari tangan Felicia yang gemetar. Ia menoleh sedikit, memperhatikan wajah gadis itu—terlihat lebih rapuh dari yang ia ingat. Lalu, dengan suara lembut yang nyaris bergetar, Felicia bertanya,

"Kaivan… apa itu berarti kita sudah bertunangan sekarang?"

Kaivan berhenti. Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, lebih berat dari kesunyian malam. Ia menatap mata Felicia dan membalas dengan senyum tipis—lembut, namun terasa jauh.

"Itu cuma sandiwara, Felicia. Kamu bisa melepaskannya sekarang."

Felicia tak langsung menjawab. Jari-jarinya perlahan terlepas dari tangan Kaivan, menyerah pada dingin yang merambat. Senyumnya kaku, rapuh. "Oh… cuma pura-pura, ya," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Mereka kembali berjalan, namun tak lagi berdampingan. Ada jarak di antara mereka kini. Jarak yang sunyi, lahir dari kebenaran yang terlalu jujur untuk diabaikan.

Sesampainya di penginapan, Radit dan Ethan langsung menghampiri Kaivan. Wajah mereka tegang, napas memburu.

"Kami menemukan markas mereka," ujar Radit cepat. Matanya menyala, bukan oleh panik, melainkan oleh beban kebenaran yang terlalu kejam untuk disimpan sendiri.

Kaivan menyilangkan tangan, berdiri tegap. "Bagaimana kalian bisa yakin?"

Ethan melangkah maju. "Kami mengikuti sekelompok remaja ke gedung kosong. Di dalam… kami mendengar rencana mereka. Besar. Terlalu besar untuk diabaikan. Mereka merekrut anak-anak bermasalah… untuk dijadikan pelaku bom bunuh diri."

Sunyi. Dunia seakan menahan napas.

Tangan Felicia mencengkeram lengan Kaivan. Radit menunduk, rahangnya mengeras. Kaivan menurunkan pandangan, kemarahan berkilat samar di balik ekspresinya yang tenang.

"Aku tahu apa yang harus kita lakukan."

Ia membuka Tome of Omnicent.

Halaman-halamannya memancarkan cahaya lembut. Huruf-huruf kuno berpendar seperti bisikan takdir. Baris-baris teks muncul, bergerak dan berubah, membentuk perintah yang tak bisa diabaikan.

Felicia melangkah mendekat. Ethan dan Radit berdiri di belakang Kaivan. Bersama-sama, mereka membaca dalam diam, mengumpulkan keberanian, merajut tekad. Di balik setiap kata, mereka mengerti: ini bukan sekadar misi.

Ini adalah perlawanan pertama mereka. Dan kegagalan bukan pilihan.

Kaivan mengangkat wajahnya dari Tome, pantulan cahayanya berkilau di pupilnya. "Ada jalan yang harus kita tempuh," katanya pelan, suaranya tenang namun tajam. "Buku ini tidak pernah berbohong. Kita hanya perlu mengikutinya."

Felicia mengangguk. Di balik wajahnya yang tenang, ia sadar ini lebih dari sekadar strategi. Ini ujian—tentang kepercayaan, persahabatan, dan keyakinan.

Halaman-halaman itu berputar sendiri, membentuk kalimat yang berdenyut dengan makna: Menyusup ke dalam barisan mereka. Jangan terpengaruh. Yakinkan mereka untuk meninggalkan jalan teror. Kata-kata itu menyalakan api di dada Kaivan.

"Jadi kita pura-pura jadi teroris sekarang?" tanya Ethan datar, nada suaranya skeptis. Matanya menyipit menatap Kaivan yang masih diselimuti cahaya Tome.

Kaivan tidak langsung menjawab. Ia meraih sebuah karambit dan rantai tipis yang ia bawa dari Cimahi, lalu menyambungkannya dengan gerakan yang terukur dan fokus. "Kita tidak bergabung dengan mereka," ucapnya rendah dan tegas. "Kita menyusup."

Keyakinan dalam suaranya menular.

Radit bersandar di dinding, tatapannya kosong ke kejauhan. "Kita cuma empat anak SMA," gumamnya. "Dan musuh kita… tahu cara membunuh tanpa meninggalkan jejak. Kita bahkan belum tahu tujuan mereka sebenarnya."

Felicia melangkah ke dekat jendela, siluetnya tergambar oleh cahaya lampu jalan yang redup. "Tapi kita tahu mereka salah. Kita tahu ajaran mereka menyimpang." Tatapannya tajam, menembus kabut keraguan. "Mereka tidak akan mudah memanipulasi kita."

Ia menoleh pada Kaivan, mencari jawaban di wajah yang terdiam itu.

Kaivan tidak berkata apa-apa. Ia meletakkan karambit berantai itu di lantai dan menarik napas dalam. Pikirannya berputar cepat—ini bukan lagi sekadar penyusupan. Ini pertempuran tanpa jaminan untuk kembali hidup.

Keheningan menyelimuti ruangan.

Tiba-tiba, televisi menyala sendiri, memercikkan cahaya dingin ke wajah mereka. Sebuah siaran berita muncul. Seorang reporter berdiri di depan gedung internasional, deretan bendera berkibar di belakangnya.

Sesuatu yang jauh lebih besar sudah mulai bergerak.

"Tujuh hari menuju Konferensi Asia–Afrika…"

More Chapters