Ficool

Chapter 77 - Pagi Sebelum Segalanya Terbakar

Radit mengganti saluran televisi dengan gerutuan pelan. "Serius? Nggak ada anime bagus selarut ini?"

Ethan langsung memotong. "Radit, balik ke berita."

Gambar itu kembali muncul: barikade, senjata berat, dan para pemimpin dunia yang dijadwalkan berkumpul di Bandung. Reporter berbicara cepat, seolah berpacu dengan waktu. "...Konferensi akan diselenggarakan selama dua hari di Kota Bandung…"

Kaivan membeku. Sorot matanya menajam, pikirannya berputar cepat, seperti roda gigi yang saling mengunci pada tempatnya.

"Mereka menargetkan konferensi itu," bisiknya.

Radit menegakkan badan. "Maksudmu… mereka mau menyerang para pemimpin dunia?"

Felicia mengepalkan tangan. "Ini bukan cuma soal merekrut anak-anak. Mereka ingin memicu kekacauan dalam skala global."

Ethan mengembuskan napas panjang, wajahnya muram, namun matanya menyala gelap. "Kalau kita diam saja, sama saja kita membantu mereka membunuh."

Radit menggeleng, tapi nada suaranya kini dipenuhi tekad yang tumbuh perlahan. "Kita cuma anak SMA… tapi kalau bukan kita yang tahu kebenarannya, siapa lagi?"

Kaivan mengangguk. "Kalau kita lapor polisi, mereka tidak akan percaya."

Ia menatap satu per satu wajah sahabatnya, lalu berbicara dengan nada yang membelah keheningan. "Kita menyusup ke kelompok mereka. Yakinkan mereka untuk berhenti. Dan kalau itu gagal… kita hentikan dari dalam."

Ethan menunduk, rokoknya hampir habis terbakar. "Caranya?"

Felicia berbalik dari jendela, rambutnya bergoyang lembut, namun tatapannya menembus lurus ke arah Kaivan. "Raphael. Dia pernah mengajakmu bergabung, bukan? Tentang 'jalan ketulusan' itu…"

Ruangan mendadak sunyi. Kaivan tidak menjawab, tapi ketegangan di udara sudah cukup menjelaskan. Dari keheningan itulah rencana berbahaya mereka mulai terbentuk—perlahan, namun pasti.

Ethan berdiri mendadak, napasnya tercekat, matanya melebar tak percaya. Tangannya mengepal, seolah menahan ledakan emosi.

"Tunggu…" suaranya meninggi, memecah diam. "Kau sudah pernah bertemu Raphael? Bukankah itu yang selama ini kita coba lakukan?" Nada suaranya bergetar di antara takut dan curiga.

Kaivan menatapnya tanpa goyah. "Iya," jawabnya akhirnya, datar, tenang, tak terguncang.

Ia menunduk, jemarinya menyusuri permukaan dingin karambit berantai itu, seakan mencari jawaban di balik kilau logamnya.

"Dia sudah terlalu jauh. Ideologi itu benar-benar membelenggunya. Kita butuh bukti, dan petunjuk dari Tome Omnicent. Tanpa itu, dia tidak akan mau mendengar."

Felicia melangkah mendekat, senyap seperti bayangan. Matanya terpaku pada Kaivan, dipenuhi keyakinan—dan sesuatu yang hampir menyerupai pengabdian.

Radit dan Ethan saling bertukar pandang. Rahang Radit mengeras. Ethan menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, seakan mengumpulkan sisa keberaniannya.

Kaivan membuka Tome Omnicent. Halaman-halamannya berpendar dengan cahaya perak yang lembut. Ruangan kembali hening. Bahkan lampu-lampu tampak meredup, seolah memberi tempat bagi sesuatu yang sakral.

Ia memejamkan mata dan bertanya dalam hati:

"Di mana aku bisa menemukan Raphael?"

Keheningan menutup udara. Detik-detik membeku.

Lalu, cahaya perak merembes dari halaman buku, mengalir seperti tinta cair yang melayang di udara. Cahaya itu membentuk pola, berubah-ubah hingga menjadi peta tiga dimensi yang berkilau di hadapannya, membisikkan arah tanpa suara.

Mata Kaivan menelusuri setiap titik cahaya—setiap tempat yang pernah disinggahi Raphael. Tatapannya mengeras, menghafal setiap jalur, setiap kemungkinan. Dengan satu gerakan halus, ia menutup buku itu. Cahaya memudar, dan ruangan kembali tenggelam dalam bayangan.

"Besok pagi," katanya tenang, "kita bergerak. Awasi dia. Cari celah."

Felicia mengangguk. Radit mengepalkan tangan. Ethan tetap diam, namun sorot matanya sudah menjawab segalanya—mereka siap.

Fajar datang dengan lembut dan pucat. Aroma tanah basah terbawa angin. Taman itu hampir kosong, kecuali satu sosok berjubah putih yang duduk diam di bangku kayu, membelakangi mereka. Daun-daun berdesir pelan, seakan memperingatkan agar mereka melangkah hati-hati.

Kaivan berhenti. Detak jantungnya mengencang. Di sampingnya, Felicia berdiri tegang, mata merahnya menyapu setiap sudut bayangan. Di belakang mereka, Ethan dan Radit merunduk rendah, napas mereka teratur namun sarat kewaspadaan.

Kabut tipis masih menyelimuti taman ketika Kaivan melangkah maju. Setiap langkahnya menekan lembut rumput basah dan dedaunan kering, menciptakan irama yang menyatu dengan napas sunyi bumi. Felicia mengikuti, bahunya tegap, matanya setajam kaca.

Sinar pagi menyusup di antara pepohonan, memantul di atas embun seperti pecahan kaca yang berkilau. Di bawah pohon ek besar, Raphael duduk tak bergerak. Posturnya lurus, tatapannya jauh, seperti seseorang yang sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat.

Kaivan muncul dari balik semak, tubuhnya ramping namun penuh keteguhan, tatapannya membelah udara. Tiga bayangan mengikuti di belakangnya. Mereka datang bukan untuk bertarung, melainkan untuk menyalakan percikan pertama perubahan. Dunia seakan menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi.

Raphael mengangkat kepala perlahan. Saat matanya bertemu dengan Kaivan, ia tersenyum tipis—senyum yang menggantung di antara kehangatan dan ancaman. Namun senyum itu menghilang ketika ia melihat Felicia dan yang lain. Tatapannya menajam, menilai, menguliti.

"Kaivan," ujarnya tenang. "Kau dan tunanganmu lagi. Tapi kali ini, kau membawa teman?"

Kaivan berhenti tiga meter darinya—jarak aman, mantap dan tak tergoyahkan. "Mereka sahabatku," jawabnya, melirik pada Felicia. "Kau bertemu dengannya kemarin, bukan?"

More Chapters