Ficool

Chapter 75 - Suara yang Tak Pernah Seharusnya Kita Dengar

Raphael bersandar santai, namun sorot matanya tetap tajam. "Kalian bukan orang sini, ya?"

Kaivan tersenyum tipis. "Bukan. Cuma lewat saja."

Suara mereka terdengar ringan, tapi keheningan di bawahnya berkata lain. Raphael mengetukkan jarinya di atas meja dengan ritme pelan—ritme milik seseorang yang sedang menimbang banyak hal. Tatapannya sesekali beralih pada Felicia, membaca reaksinya tanpa sepatah kata pun.

Percakapan itu lebih dari sekadar basa-basi. Kaivan berbicara hati-hati, setiap kata seperti langkah di atas ujung bilah pisau. Raphael, sama lihainya, menjawab dengan ketenangan seekor pemangsa. Tak satu pun ingin bergerak lebih dulu.

Di luar, malam semakin dalam. Ethan dan Radit berjalan di trotoar yang kosong, bayangan mereka memanjang di bawah lampu jalan yang redup.

Tiba-tiba Radit berhenti. Tangannya terulur cepat, mencengkeram lengan Ethan.

"Lihat ke sana," bisiknya.

Di kejauhan berdiri sebuah bangunan tua, samar diterangi cahaya bulan. Retakan menjalar di dindingnya seperti luka terbuka. Beberapa sosok masuk ke dalamnya, mengenakan jubah putih mencolok—terlalu terang untuk malam yang gelap.

Radit menyipitkan mata. Ada yang tidak beres.

"Ini bukan tempat biasa," gumamnya. Tegangan dalam suaranya seperti busur yang ditarik penuh, siap putus kapan saja.

Sorot mata Ethan mengeras, menganalisis setiap gerak para pria berjubah putih itu. "Bisa jadi ritual," katanya pelan, tenang namun waspada.

"Kita cek?" tanya Radit lirih, kegelisahan menyelinap di nadanya.

Ethan mengangguk sekali. Mereka bergerak maju dengan hati-hati, menyatu dengan bayangan. Setiap napas terukur. Setiap langkah ditelan sunyi.

"Aku nggak suka perasaan ini…" bisik Radit.

Ethan tak menjawab. Tatapannya terpaku pada bangunan di depan—siluetnya bergerigi dan menyeramkan di antara pepohonan. Retakan di dindingnya tampak seperti bekas luka yang tak pernah sembuh.

Awan menggantung rendah, meredupkan cahaya bulan yang tersisa. Hanya lampu jalan yang berkedip lemah memberi bentuk pada gelap yang menyesakkan.

"Mereka masuk tanpa suara," bisik Radit lagi, matanya mengikuti bayangan yang lenyap di balik pintu hitam.

Ethan melipat tangan. "Menurutmu mereka sadar ada kita?"

"Kalau sadar, pasti sudah bereaksi. Tapi ini… terlalu sunyi. Terlalu rapi," gumam Radit, pandangannya terpaku pada pintu yang kini tertutup rapat.

Mereka merayap lebih dekat, pepohonan menjadi pelindung. Jantung mereka berdetak mantap, namun berat.

Sementara itu, di sudut temaram sebuah warung kecil, Kaivan duduk berhadapan dengan Raphael. Tatapan mereka bertemu, kata-kata yang terucap hanya bayangan dari maksud sebenarnya—pertarungan kehendak dan kebenaran. Masing-masing menunggu yang lain membuka langkah.

Kaivan sedikit condong ke depan, jemarinya saling terkait. "Raphael," ujarnya tenang, meski tiap kata mengandung ujung tajam. "Sebenarnya kamu ini apa? Dan… pria-pria berjubah putih itu?"

Raphael merapikan lengan bajunya, senyum tipis terbentuk. "Aku sedang belajar menjadi orang yang tulus dalam hidup," katanya halus—terlalu halus, seperti doa yang dipoles oleh kebohongan.

Tatapan Kaivan tak goyah. Di sampingnya, Felicia menggigit bibir pelan. Ada sesuatu yang terasa salah.

"Ketulusan tak butuh seragam atau guru," jawab Kaivan lembut. "Cukup hati yang sadar."

Senyum Raphael memudar. Sorot matanya mengeras. "Tanpa bimbingan, kau akan tersesat. Lebih baik ikut denganku."

Tangan Felicia mencengkeram lengan Kaivan—peringatan tanpa suara.

Kaivan menarik napas perlahan. "Mungkin akan kupikirkan," katanya tenang namun tegas. "Tapi sekarang, kami harus pergi."

Ia berdiri, menggenggam tangan Felicia. Raphael tidak menghentikan mereka, hanya berkata pelan, "Besok pagi aku di taman. Kalau kau sudah siap."

Mereka melangkah keluar ke malam, berjalan cepat tanpa terlihat terburu-buru. Genggaman Kaivan tetap erat. Di ujung gang yang sepi, Felicia akhirnya mengembuskan napas panjang, ketegangan perlahan luruh dari bahunya.

Di sisi lain kota, di bawah selubung gelap, Radit dan Ethan merangkak semakin dekat ke bangunan tua itu. Radit memberi isyarat. Ethan mengangguk. Struktur tinggi itu menjulang di atas mereka—diam dan penuh rahasia. Mereka maju tanpa suara, waspada.

Lalu, suara serak bergema dari dalam bangunan—kasar dan berat seperti kutukan.

"Kalau mereka semua percaya… kita bisa meledakkan beberapa tempat sekaligus."

Radit membeku. Matanya bertemu dengan Ethan—teror melintas cepat dan tajam. Ethan mengangkat tangan, memberi tanda agar tetap diam. Keduanya merendahkan tubuh, menyatu dengan bayangan.

"Benar. Remaja dengan masalah keluarga lebih mudah dijadikan bom bunuh diri," suara lain menjawab—dingin, yakin, dan menakutkan dalam ketenangannya.

Kata-kata itu menghantam seperti palu.

Radit menggigit bibir, dadanya terasa sesak seolah terikat tali tak kasatmata. Ethan menahan napas, matanya terpaku pada jendela bangunan yang temaram.

"Kita harus pergi," bisik Ethan, suaranya nyaris tak stabil. Ia meraih lengan Radit, menariknya perlahan.

Mereka mundur dengan hati-hati, langkah hampir tak bersuara. Namun tepat saat hendak melewati semak terakhir, sepasang mata menangkap keberadaan mereka.

Seorang pria yang berdiri di dekat bangunan menoleh sekilas ke arah mereka—tanpa ekspresi, tanpa kepanikan—lalu kembali pada kegiatannya seolah tak terjadi apa-apa.

 

More Chapters