Ficool

Chapter 61 - Jangan Pernah Memanggilku Seperti Itu Lagi

Sebelum ketegangan itu sempat mereda, suara lain memotong. "Kalau begitu, kamu kenal murid pindahan baru itu dari mana? Katanya dia pindah ke sini karena kamu."

Pandangan Kaivan bergeser ke arah jendela. Dalam keheningan itu, kenangan berkelebat: Felicia di pusat perbelanjaan terbengkalai, memukulnya tanpa ampun. Pertemuan brutal, absurd, namun tak terbantahkan nyata. Bibirnya nyaris melengkung membentuk senyum tipis, namun wajahnya tetap dingin, tak terbaca.

Langkah kaki berat bergema memasuki kelas. Seorang guru masuk.

"Baik, semuanya. Buka halaman tiga puluh dua."

Pertanyaan-pertanyaan langsung tenggelam dalam keheningan. Kaivan mengembuskan napas lega pelan.

Sementara itu, di lorong sekolah, Radit berjalan santai. Satu tangan di saku, matanya tajam dan waspada.

Seorang teman sekelas memanggilnya. "Radit, cewek cantik yang tadi bareng kamu siapa?"

Radit berhenti sejenak, alisnya berkerut sesaat sebelum senyum tipis muncul di bibirnya. "Cuma kebetulan jalan bareng. Aku juga nggak terlalu kenal."

Temannya mengangguk, terlihat puas. Tapi Radit tahu, rasa penasaran itu belum hilang. Hanya diam untuk sementara, menunggu waktu untuk muncul lagi.

Felicia duduk sendirian, dikelilingi benteng kecil dari buku-buku baru yang baru saja ia beli. Jarinyamenelusuri halaman perlahan, matanya mengikuti setiap baris seolah menikmati setiap kata. Keramaian di sekitarnya memudar menjadi hampa, ia seolah hidup dalam dunia sunyi miliknya sendiri.

Tiba-tiba, seorang siswa laki-laki mendekat, senyum yang terlihat terlatih di wajahnya. "Hei, nanti pulang kamu sama siapa? Mau aku temenin?" Nada suaranya santai, namun ada tekanan tersembunyi di baliknya.

Felicia mengangkat pandangannya. Mata merahnya tajam seperti pisau. "Aku pulang sendiri. Tapi nanti ada temanku yang jemput." Suaranya lembut, namun tak tergoyahkan, seperti dinding baja.

Anak laki-laki itu ragu sejenak, lalu mengangguk dan pergi. Felicia menunduk kembali ke bukunya. Namun suara Kaivan terngiang di kepalanya: workshop nanti. Ia tahu, itu bukan pertemuan biasa.

Dengan tenang, ia menutup bukunya dan menumpuknya rapi. Ia siap menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sore membaca yang tenang.

Waktu terus berjalan, dan sekolah kembali ke ritme biasanya. Namun di balik rutinitas itu, sesuatu sedang menunggu. Bel pulang berbunyi. Hari ini masih jauh dari kata selesai.

Kaivan merapikan barangnya cepat, ingin segera menuju workshop. Namun sebuah suara menghentikannya di ambang pintu.

"Kaivan! Kamu mau ke mana hari ini?"

Tania berdiri di sana, terlihat ceria di permukaan, namun matanya penuh harap, mencari sesuatu, seolah berusaha meraih masa lalu.

Kaivan tahu arah percakapan ini. Ia tidak menjawab. Buku terakhir masuk ke tasnya, resleting ditutup. Tanpa menoleh, ia berjalan lurus melewatinya.

Namun Tania tidak menyingkir. Ia menghalangi jalannya.

"Kaivan, tunggu! Kenapa kamu menghindar dariku? Apa salahku? Kamu dulu nggak seperti ini... Kamu berubah!"

Ia berhenti. Punggungnya tetap menghadap Tania, napasnya berat. Beberapa siswa berdiri di dekat pintu, refleks terdiam. Mereka bisa merasakannya, ini bukan pertengkaran biasa.

Kaivan berdiri diam, menghadapi bayangan yang tak lagi ingin ia bawa.

"Kamu maunya apa? Aku sibuk," katanya akhirnya, suaranya tegas.

Tania tersentak, lalu menarik napas, mencoba tetap kuat. "Kenapa kamu jadi begini, Kaivan? Karena teman-teman barumu? Kamu berubah… Tapi kita sahabat. Kamu janji bakal kenalin aku ke orang tuamu setelah lulus. Sekarang kamu bahkan nggak mau ngomong sama aku... kenapa?" Suaranya bergetar, membawa luka lembut yang mencoba menjangkau hatinya.

Senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang dulu pernah memikatnya. Namun kata sahabat kini terdengar hampa, hampir seperti ejekan.

Kaivan perlahan menoleh. Tatapannya gelap, tajam. Lorong terasa menegang.

"Sahabat?" Suaranya hampir seperti bisikan, namun terasa dingin seperti es.

Ia melangkah mendekat, matanya tak lepas dari mata Tania. "Jangan pernah memanggilku seperti itu lagi. Sahabat macam apa yang menggunakan orang lain sebagai alat?"

Tania mundur selangkah, terkejut. "Kaivan, aku nggak pernah, "

"Cukup." Suaranya terdengar tegas, dingin, pasti. "Kamu kira aku nggak tahu? Senyummu, kata-katamu... semuanya topeng. Kamu cuma datang saat butuh sesuatu. Kamu nggak pernah benar-benar peduli. Kamu cuma menghisapku sampai habis."

Napas Tania tercekat, bibirnya gemetar. "Aku... aku, "

"Apa? Beda? Nggak seperti itu?" Kaivan tertawa pahit. "Jangan buang waktuku. Kamu bukan sahabat. Kamu oportunis. Manipulator manis."

More Chapters