Ficool

Chapter 60 - Semua Orang Memperhatikan

"Kelas 11-B4. Hari ini hari pertamaku. Sekarang, antar aku keliling sekolah, ya?" katanya cepat, menyelipkan tangannya ke tangan Kaivan. Sebelum sempat menolak, Kaivan sudah ditarik mengikuti langkah percaya dirinya melewati lorong-lorong yang tiba-tiba terasa seperti panggung.

Dari balik pilar, sepasang mata tajam menatap penuh kebencian. Tania. Tatapannya menusuk, dipenuhi amarah yang terbungkus luka lama.

"Kaivan seharusnya bergantung padaku. Dibully, dihancurkan… lalu diselamatkan olehku. Harusnya begitu. Aku akan menariknya mendekat, memanfaatkannya sesuka hatiku… sama seperti dulu," gumamnya pahit, setiap kata dipenuhi kebencian.

Di sampingnya berdiri Dandi, bertubuh besar dengan rambut panjang, mengamati dengan gelisah. Ia tahu emosi Tania bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan. "Tania… kamu benar cuma marah? Atau ini sesuatu yang lain? Obsesi, mungkin?" tanyanya hati-hati.

Kepala Tania langsung menoleh tajam, matanya menyala. "Obsesi? Jangan konyol! Dia cuma pecundang yang pernah aku mainkan. Dan sekarang… sekarang aku yang akan mempermalukannya!" Suaranya terdengar tajam, namun goyah, retakan yang tak bisa ia sembunyikan.

Dari belakang, Rina membenarkan kacamatanya, menyilangkan tangan sambil bersandar ke dinding. "Biarkan saja, Dan. Dia sedang melawan dirinya sendiri sekarang. Kita tidak bisa ikut campur." Nada suaranya tenang, namun tegas.

Di sekitar mereka, para siswa berbisik gugup. "Pantes Kaivan nolak dia… lihat sekarang. Cewek barunya jauh banget di atas dia." "Ssst! Hati-hati, Tania bisa dengar."

Tangan Tania mengepal, wajahnya memerah, bukan hanya karena marah, tapi juga malu. Bisikan itu menusuk dalam. Ia berbalik dan pergi dengan langkah kasar, meninggalkan Dandi dan Rina dalam diam yang penuh makna.

Sementara itu, Kaivan dan Felicia menyelesaikan tur kecil mereka di sekolah. Felicia berjalan dengan langkah ringan, seolah lantai sekolah adalah panggungnya. Kaivan mengikuti di belakang, canggung di bawah tatapan banyak mata.

Di taman, mereka melihat Radit bersantai di bangku, kaki disenderkan santai. "Yo, Kaivan! Masih lapar? Dua kotak makan dan kamu masih hidup?" ejeknya sambil tertawa.

Kaivan melambaikan tangan, memaksakan tawa kaku.

Radit menggeleng. "Gila. Kamu makan masakan Thivi, terus makan masakan Felicia juga? Kamu sumur tanpa dasar atau apa?"

Felicia tersenyum, tangannya menyentuh ringan bahu Kaivan. "Kaivan bisa makan apa pun yang aku buat untuknya." Tanpa ragu, ia duduk di pangkuan Kaivan. Radit langsung membeku, terkejut. Keheningan setelahnya terasa berat, namun penuh makna tak terucap. Sesuatu yang baru telah dimulai.

Radit mengangkat tangan, seolah ingin menghentikan mereka. "Hei, Felicia. Ini sekolah, bukan ruang tamu kamu. Jangan dibiasakan di sini," katanya, mencoba terdengar tegas, meski senyum tipis tetap terlihat.

Felicia mengernyit bingung. "Ingat apa?" tanyanya polos, tak sadar betapa banyak perhatian yang tertuju pada tindakannya.

Kaivan berdeham pelan. "Maksudku… jangan duduk di pangkuanku kayak gini. Orang-orang lagi lihat," gumamnya, melirik gugup ke sekitar saat bisikan mulai terdengar.

Felicia menghela napas, lalu berdiri dan duduk di kursi sebelahnya. "Baiklah, baiklah. Aku pindah," gumamnya, sedikit kekecewaan tersisa di balik senyumnya. Ia langsung mengganti topik. "Sore ini ada latihan fisik lagi. Jangan lupa."

Kaivan dan Radit langsung terlihat lesu. Mereka tahu persis artinya: otot pegal dan tubuh penuh keringat. Meski begitu, mereka tidak membantah, hanya mengangguk agar suasana tidak makin canggung.

Setelah itu, percakapan mereka mengalir ringan, seperti aliran sungai kecil di bawah bayangan hutan. Tawa pelan, senyum tipis. Felicia menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga, sementara Kaivan menatap lurus ke depan, berusaha menghindari tatapan matanya. Mereka membicarakan hal-hal sepele: pelajaran, minuman kantin, kejadian kecil di kelas.

Lalu bel berbunyi, nyaring dan tegas. Kehangatan tawa langsung tergantikan oleh keheningan.

Kaivan berdiri, melihat jam tangannya. "Ayo kembali ke kelas."

Felicia mengangguk, namun saat mereka hendak pergi, Kaivan mengangkat tangan menghentikannya.

Matanya menatap lurus ke mata Felicia. "Fel… bilang ke yang lain buat kumpul di workshop. Jangan telat. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan."

Alis Felicia terangkat, mata merah rubinya berkilat penuh pertanyaan yang tak terucap, namun ia tidak memaksa. "Baik. Aku kasih tahu mereka," jawabnya lembut.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku roknya, jarinya bergerak cepat, dengan fokus tenang seperti prajurit yang menjalankan misi.

Dan Kaivan… hanya bisa melihatnya berjalan menjauh, membawa pesannya, dan sebuah rahasia yang segera akan terungkap.

Dari bayangan lorong lain, Tania berdiri sambil memeluk buku di dadanya, tatapannya tajam, menyembunyikan kegelisahan yang mendidih perlahan.

"Teman-temannya yang lain?" bisiknya, menyipitkan mata seolah mencoba menembus pikiran Kaivan dari jauh. "Jangan bilang… sekarang dia punya tempat rahasia. Apa yang dia rencanakan?"

Kecurigaan itu menempel padanya seperti es, dingin, tajam, dan tak mau melepaskan.

Saat Kaivan masuk ke kelas, udara langsung dipenuhi suara. Seorang siswa mengangkat tangan, senyum menggoda di wajahnya.

"Hei, cewek yang tadi nyuapin kamu… itu pacar kamu?" tanyanya, setengah bercanda, setengah serius.

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke air tenang, semua tatapan langsung tertuju pada Kaivan.

Ia berhenti sejenak. Matanya tajam, tak goyah. "Bukan… dia bukan," jawabnya pelan, namun tegas.

 

More Chapters