Ficool

Chapter 62 - Hari Ketika Ia Tak Bisa Lagi Bersembunyi

Bisikan menyebar seperti api yang melahap ladang kering. Para siswa saling bertukar pandang, seolah mencari kepastian di mata satu sama lain. Lalu sebuah suara berbisik, cukup keras agar Tania mendengarnya.

"Jadi selama ini dia cuma pura-pura…?"

Kaivan melangkah maju, cukup dekat hingga ia bisa merasakan napas Tania. Nada suaranya melembut, namun justru terasa lebih menakutkan.

"Ingat malam itu di kafe, waktu kita bersama Dandi dan Rina? Kamu menertawakanku. Ingat bagaimana kamu membuatku percaya padamu, lalu membuangku begitu saja? Kamu kira aku tidak akan tahu? Atau kamu pikir aku terlalu bodoh untuk menyadarinya?"

Tania membeku. Wajahnya memucat.

"Dan sekarang… kamu masih berani datang ke sini, berpura-pura peduli? Kata-kata kosong, Tania. Tanpa empati, tanpa hati. Hanya akting. Dan aku… tak lebih dari bidak dalam permainanmu."

Bisikan di sekitar mereka semakin keras. Para siswa mulai menjauh darinya, tatapan mereka dingin.

"Nggak nyangka dia sekejam itu," gumam seseorang, cukup pelan, tapi cukup tajam untuk melukai.

Kaivan berbalik pergi. Di ambang pintu, ia menoleh untuk terakhir kalinya.

"Dan satu hal lagi, Tania. Kalau kata-kataku barusan menyakitimu… itu tidak ada apa-apanya dibanding luka yang kamu tinggalkan dalam diriku selama setahun. Jadi jangan berharap simpati dariku."

Tania tetap berdiri kaku. Tidak ada air mata yang jatuh. Bukan karena tidak sakit, tapi karena ia menolak menunjukkan kelemahan. Rahangnya mengeras, giginya saling menekan, menahan badai yang mengamuk di dalam dirinya. Ruang kelas kosong itu dipenuhi gema sunyi—bukan kesedihan, melainkan bara.

Kaivan berjalan menyusuri koridor menuju gerbang sekolah. Langkahnya terasa berat, namun dadanya sedikit lebih ringan. Ledakan emosi itu memberinya kelegaan, meski ia membenci cara semuanya terjadi. Rasa sakit itu akhirnya terucap, tapi bekas lukanya masih dalam. Di dalam hatinya, ia bersumpah: ia tak akan pernah lagi membuka dirinya pada orang-orang yang hanya tahu cara mengambil.

Di gerbang sekolah, ia melihatnya—Thivi.

Gadis itu bersandar santai pada tiang gerbang, mengenakan tank top putih ketat dan hot pants mencolok. Kepercayaan dirinya terpancar seperti cahaya matahari. Mata birunya berkilau, hidup dan bebas tanpa pengekangan.

"KAIVAAAAN!"

Suara Thivi melengking tinggi, memecah kesunyian sore hari. Para siswa menoleh. Ia melambaikan tangan dengan penuh semangat, senyum lebarnya menular.

Tatapan kagum dan iri mulai berkumpul di sekelilingnya, namun Thivi justru tampak semakin bersinar. Ia hidup di bawah sorotan perhatian. Dan sekarang, sorotan itu perlahan berpindah ke arah Kaivan.

Kaivan menatapnya. Wajahnya tenang, meski terlihat lelah. Namun di dalam dirinya, ada beban yang sedikit terangkat. Thivi selalu membawa secercah cahaya saat langitnya berubah kelabu.

Langkahnya menuju gadis itu terasa semakin ringan, meski bayangan kejadian di kelas masih tertinggal.

"Hei, aku di sini! Kamu jalannya lama banget," sapa Thivi, matanya berkilau, senyumnya seperti cahaya pagi.

Kaivan mendekat tanpa ekspresi.

"Bawakan tasku," katanya datar, menyerahkan beban itu padanya.

Thivi menerimanya tanpa keluhan, meski beratnya membuatnya sedikit terkejut.

"Ini isinya batu, ya?" candanya ringan.

Namun gerakannya tetap stabil, tanpa tanda protes—hanya kebahagiaan kecil yang tenang. Baginya, dibutuhkan saja sudah cukup. Saat ia sedikit membungkuk menyeimbangkan beban, lebih banyak mata tertuju padanya. Ia hanya tersenyum, menikmati perhatian itu.

Kaivan mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya dengan lembut.

"Makasih."

Satu kata sederhana, tapi cukup.

Senyum Thivi melembut menjadi sesuatu yang langka—hangat, tulus, tanpa penjagaan. Ia mengerti, tanpa perlu penjelasan apa pun.

Dari koridor lain, Tania menyaksikan semua itu. Matanya melebar.

Siapa dia…?

Kaivan, yang dulu selalu menempatkanku di posisi pertama… sekarang bersama gadis lain?

Pikiran itu menusuk dalam, meninggalkan ketakutan asing yang tak pernah ia kenal. Kaivan bukan lagi orang yang sama.

Kenangan lama berkelebat—Kaivan menunggu di luar kelasnya, membelikannya apa pun yang ia inginkan. Tapi sekarang, laki-laki itu berdiri dikelilingi tatapan dan cahaya. Ia tak lagi menjadi miliknya.

Sebuah SUV hitam berhenti. Frans, di balik kemudi, menurunkan kaca jendela.

"Aku sudah jemput Zinnia," katanya santai.

Dari dalam mobil, Zinnia melambaikan tangan. Rambut violetnya diikat tinggi, matanya setajam biasanya.

Tak lama kemudian, Felicia muncul, berjalan tenang menuju gerbang. Ia menyapa mereka dengan senyum samar.

"Sampai ketemu di workshop," katanya datar, seolah itu sesuatu yang tak terelakkan.

Ia menggenggam tangan Thivi dan menuntunnya masuk ke mobil yang dikendarai Frans.

Begitu duduk, Thivi mencondongkan tubuh, senyum jahil muncul di bibirnya.

"Ngomong-ngomong, kemarin aku mandi bareng Kaivan."

Dalam sekejap, Felicia mendorong jendela mobil terbuka. Ekspresi sinis tajam melintas di wajahnya.

"Aku nginep lagi di tempatmu malam ini. Dan kamu… kamu benar-benar mandi bareng Thivi?"

Suaranya keras.

Kata-katanya memecah udara seperti petir. Percakapan di sekitar mereka langsung terhenti. Bisikan menyebar seperti api, mata-mata beralih ke arah Kaivan—bingung, iri, kagum.

Siapa sebenarnya dia?

Pertanyaan itu terbakar diam-diam dalam setiap tatapan.

Kaivan menegang. Kata-kata Felicia menembusnya sampai ke inti. Matanya bergerak gelisah, pikirannya berkabut, dadanya sesak oleh rasa malu. Lidahnya terasa berat, tak mampu membentuk satu kata pun.

Radit muncul, mencoba mencairkan suasana. Ia merangkul bahu Kaivan sambil tertawa.

"Wah, anak yang dulu sering dibully ternyata bisa juga mandi bareng cewek kayak gitu."

Namun kenangan Thivi melangkah masuk ke kamar mandi bersamanya kembali menyayat pikiran Kaivan. Tatapan orang-orang, bisikan yang makin keras, dan beban rasa malu yang menghimpit membuatnya ingin menghilang dari tempat itu. Seolah dunia sendiri sedang menertawakannya.

Dari kejauhan, Tania berdiri membeku. Matanya terpaku pada Kaivan, pikirannya terurai menjadi kekacauan.

Itu Kaivan…?

Anak baru yang dilindungi Radit, diikuti gadis cantik yang bertingkah seperti asistennya, diantar pulang oleh laki-laki dengan mobil mewah, dan… wanita lain menunggunya di dalam mobil?

Semuanya terasa terbalik. Dulu ia berdiri di atasnya, tapi sekarang Kaivan berada di puncak. Cemburu, penyesalan, dan ketidakpercayaan menghantam hatinya tanpa ampun.

Dalam diam, ia berteriak:

Itu bukan Kaivan yang dulu aku kenal.

Sementara itu, Kaivan—hampir tenggelam dalam rasa malu dan amarahnya sendiri—berjalan cepat menuju motornya. Ia menggenggam kunci dengan erat, menyalakan mesin tanpa menatap siapa pun.

Yang ia inginkan hanya satu: kabur dari tatapan, dari suara, dari keramaian. Bersembunyi dalam kesendirian, tempat lukanya bisa berdarah tanpa terlihat.

Setelah tiba di workshop di dalam mall tua, Kaivan berjalan perlahan menyusuri koridor kosong. Setiap langkah menggema, bayangan di dinding seakan bergerak seperti hidup.

Di ujung lorong, sebuah pintu kayu tua menunggunya—seperti gerbang menuju dunia yang tak akan pernah sama lagi.

Di baliknya, rekan-rekannya sudah berkumpul.

Zinnia duduk tegak, tenang dan dingin.

Felicia bersandar di dinding, mata merah karmennya tajam dan waspada.

Thivi bersantai di sofa tua, kaki menyilang, rokok terselip di bibir, senyum nakal menghiasi wajahnya.

Frans dan Radit berdiri dekat jendela, percakapan mereka terhenti seketika saat Kaivan masuk.

More Chapters