Ficool

Chapter 33 - Mereka Menemukan Emas, Lalu Kehilangan Tempat Mereka

Kaivan mengangguk. "Aku akan cari sisa perlengkapannya. Pastikan semua alat yang kita butuhkan sudah lengkap sebelum mencoba apa pun."

Bengkel yang dulu hanya tempat membongkar barang kini berubah menjadi ruang kerja yang sibuk namun tertata. Felicia, Frans, Radit, Thivi, Zinnia, dan Kaivan bekerja berdampingan. Mereka jarang berbicara, namun bergerak seolah satu tim yang telah terlatih lama. Udara dipenuhi ketegangan yang selaras intens, tapi harmonis. Setiap komponen elektronik terasa seperti teka-teki kecil, dan bersama-sama mereka menguraikannya satu per satu.

Waktu berlalu tanpa terasa. Di atas baki logam, bintik-bintik emas mulai tampak. Cahaya lampu kerja menangkap kilaunya, memantulkan sinar lembut yang nyaris terasa magis. Frans mengangkat baki itu dan tersenyum lebar.

"Berhasil," katanya.

Bibir Felicia melengkung membentuk senyum bangga. Namun sebelum ia sempat bicara, Kaivan sudah mendekat.

"Felicia," ucapnya lembut, "kalau kau mau, bergabunglah dengan kami. Keuntungannya kita bagi rata."

Felicia terdiam. Tawaran itu menggoda, tapi bayang-bayang masa lalu bergerak di dalam dadanya ikatan rumit, ancaman yang mungkin ikut menyeretnya. Ia menarik napas dalam-dalam.

Di tengah denting alat dan aroma logam, ia menatap wajah-wajah di sekelilingnya: tatapan fokus Thivi, tangan Zinnia yang teliti, semangat Radit, ketenangan Frans, dan Kaivan… orang yang sejak awal memberinya ruang tanpa memaksa.

"Baik," katanya pelan. "Aku ikut."

Semua menoleh. Wajah-wajah lelah itu langsung berubah cerah. Radit melangkah maju dan menepuk bahu Felicia.

"Akhirnya!" soraknya.

Felicia membalas dengan senyum kecil. Keraguan masih ada, namun untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin telah menemukan tempatnya. Zinnia mengangguk singkat, Frans tersenyum tanpa kata. Malam itu, mereka bukan hanya menemukan emas mereka menemukan satu sama lain.

Di tengah perayaan sederhana itu, Kaivan berdiri. Ia melirik jam di pergelangan tangannya; ada urgensi yang menembus ketenangannya yang biasa.

"Semuanya," katanya sambil mengangkat tangan, "aku harus mengantar Thivi pulang sekarang."

Bengkel terdiam sejenak. Bukan karena kecewa, melainkan karena pengertian. Semua tahu Kaivan selalu menepati janjinya. Dengan anggukan kecil, mereka kembali ke pekerjaan masing-masing. Kaivan melangkah keluar, meninggalkan bengkel yang tetap hidup oleh tujuan dan kehangatan.

Felicia, yang berdiri tak jauh, akhirnya duduk di samping Zinnia. Ia memandangi teman-temannya yang bekerja tanpa lelah, pikirannya melayang.

Betapa indahnya memiliki seseorang yang begitu peduli, batinnya. Namun ia memilih menyimpan pikiran itu dalam diam.

Satu minggu berlalu seperti kilasan. Suatu sore menjelang senja, sinar matahari menerobos jendela bengkel, menorehkan bayangan keemasan di dinding. Kaivan tampak lebih bersemangat dari biasanya saat menghampiri Zinnia yang sedang mencatat hasil proyek terbaru.

"Berapa banyak emas yang bisa kita dapat dari membongkar ponsel-ponsel ini?" tanyanya, suaranya dipenuhi rasa ingin tahu.

Zinnia tersenyum tipis, seolah sudah menunggu pertanyaan itu. "Kami sudah mengumpulkan seratus empat puluh delapan gram," jawabnya. "Dan masih ada setengah karung ponsel bekas sekitar tujuh puluh unit yang belum kita bongkar."

Mata Kaivan berbinar. "Wow," gumamnya kagum. "Kalau begitu, besok kita bisa beli dua karung lagi. Hari ini, kita jual semua emasnya untuk gaji bulan ini."

Rencana itu langsung menyulut semangat ruangan. Radit tertawa sambil menepuk punggung Kaivan.

"Gajian lebih cepat? Ayo kerja lebih kencang biar hasilnya makin banyak!"

Namun Kaivan belum selesai. Ia mengangkat ponselnya dan menelepon Thivi. Percakapan mereka terdengar ringan, namun ada nada yang lebih dalam di balik kata-katanya.

"Thivi, aku perlu bicara dengan ayahmu. Bisa hubungkan aku?" katanya tenang namun serius.

Jawaban Thivi membuatnya terkejut. Dengan nada usil, ia menggoda, "Mau telepon ayahku? Kamu siap melamarku, ya?"

Kaivan tertawa kecil, berusaha menutupi gugup yang tiba-tiba muncul. "Haha, aku belum sejauh itu mikirnya. Jangan bicara yang aneh-aneh."

Keesokan harinya, Kaivan dan Frans berangkat ke rumah Thivi di Majalengka untuk membeli persediaan tambahan. Felicia, yang penasaran dengan tarikan halus antara Kaivan dan Thivi, memutuskan ikut. Sepanjang jalan, hamparan sawah hijau dan pepohonan tinggi menyambut mereka, memberi ketenangan di tengah gejolak sunyi yang masing-masing simpan.

Rumah sederhana Thivi memancarkan kehangatan. Namun Felicia merasakan ada yang janggal. Ponselnya terus berdering, tak pernah ia angkat. Tatapannya menyimpan rahasia yang tak ia ucapkan. Kaivan menyadarinya, namun memilih diam.

Menjelang senja, saat mereka kembali ke kota, obrolan dan tawa mengisi perjalanan. Namun di balik itu, ada ketegangan yang tak terucap. Di bawah langit yang perlahan berubah dari emas ke ungu, langkah mereka menuju bengkel terasa berat seolah dibayangi peringatan tanpa nama.

Lorong bangunan tua itu terasa ganjil sunyinya. Kaivan berjalan di depan, Frans mantap di belakangnya, Thivi berusaha tersenyum meski kegelisahan tipis menyelimutinya. Saat Kaivan mendorong pintu bengkel, keheningan itu pecah oleh keterkejutan.

Ruangan itu porak-poranda. Meja-meja terbalik, alat-alat berserakan, puing-puing menutupi lantai. Udara terasa berat, bercampur debu dan bau logam. Frans menghembuskan napas tajam; Thivi menutup mulutnya, menahan seruan. Retakan menjalar di dinding, dan sisa cahaya senja menyelinap masuk, memantulkan keindahan yang nyaris kejam di atas kehancuran.

More Chapters