Adrenalin menyala di wajah Radit saat ia menerjang orang kedua. Tinju kanannya menghantam dada lawan dengan bunyi tumpul, melemparkannya ke belakang. "Bersembunyi tidak akan menyelamatkanmu," ejek Radit, lalu menyusul dengan hook tajam ke rahang yang membuat pria itu ambruk tak bergerak.
Di saat yang sama, Kaivan bergerak dengan keanggunan mematikan. Ia memutar tubuhnya menghindari tendangan, lalu mengayunkan batang besi keras tepat ke pelipis lawannya. Pria itu roboh tanpa sempat mengeluarkan suara.
"Dua jatuh," ucap Kaivan datar sambil melirik Radit.
Radit mengangkat alis, puas. "Baru pemanasan. Tapi serius, aku suka banget buku itu. Rasanya seperti punya cheat code di dunia nyata."
Saat mereka melangkah lebih jauh, udara di sekitar mulai berubah. Cahaya samar berkelip di kejauhan, menembus suramnya lantai tiga pusat perbelanjaan itu. Lorong sempit seakan menuntun langkah mereka menuju satu titik takdir.
Di ujung lorong, sebuah ruang luas terbuka. Empat sosok berdiri tegap di dalamnya. Di antara mereka, Kaivan langsung mengenali Julian. Wajah pria itu memancarkan keangkuhan yang familiar, mengingatkan pada pertemuan terakhir mereka. Tatapan mereka saling bertaut, menyalakan ketegangan sunyi yang lebih panas dari kata-kata. Rasa sakit dan dendam lama berkilat di antara mereka, seperti percikan yang siap menyulut api.
Felicia duduk di sebuah kursi kayu tua di samping Julian, anggun namun terasa jauh. Mata merahnya berkilau dingin. Ia tampak seperti orang yang sama sekali berbeda, bukan gadis yang dulu Kaivan kenal. Aura beku menyelimutinya, menarik garis tak kasatmata di antara mereka. Pandangan Kaivan tertahan, mencari sisa-sisa sosok yang pernah ia kenang di wajahnya.
"Felicia… apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kaivan akhirnya, suaranya rendah, sarat emosi.
Felicia tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala sedikit, menatap Kaivan dalam diam. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun tanpa kehangatan. "Aku hanya kembali ke tempat yang benar-benar menjadi milikku," ujarnya lembut. "Betapa bodohnya aku dulu mengikuti dirimu. Pilihanku sejak awal selalu ada di sini."
Radit melangkah maju, amarah dan kebingungan saling bertarung di wajahnya. "Hei, maksudmu apa? Kau berpihak pada mereka?"
Julian terkekeh rendah, kasar, sarat kebanggaan. "Felicia tidak pernah berpihak. Dia berdiri di sisi orang yang paling berarti baginya. Dan kalian? Sekumpulan anak naif yang mengira persahabatan bisa menyelamatkan dunia."
Namun Kaivan tetap tenang, matanya tak lepas dari Felicia. "Felicia, aku hanya perlu tahu satu hal. Ini benar-benar keputusanmu?" tanyanya mantap, seolah meraih benang rapuh di balik lapisan esnya.
Felicia bangkit dari kursinya. Langkahnya pelan namun pasti. Kehadirannya menekan ke depan, seperti angin yang menandai datangnya badai. Ia berdiri di sisi Julian, menatap Kaivan lurus. "Terkadang pilihan yang benar," katanya, suaranya mengeras, "adalah pilihan yang pertama kali kita buat." Lalu dengan ketegasan sunyi, ia menambahkan, "Aku tidak akan mengkhianati jalanku yang semula."
Radit tak mampu menahan diri lagi. Ia melangkah maju, mata menyala. "Sialan! Apa maksud semua ini? Aku akan menyeretmu keluar dari sana kalau perlu!"
Kaivan segera menangkap lengannya. "Tidak, Radit," katanya singkat dan tegas. "Dia sudah memilih." Wajahnya mengeras, namun di matanya terbit retakan tipis, nyeri yang terkubur di balik kendali diri.
Sementara itu, di area parkir mall yang sunyi, Thivi duduk gelisah di dalam van. Jarinya meremas ujung roknya, berusaha menahan gelombang panik yang bergolak di dadanya. Frans duduk di kursi pengemudi, menatap lurus ke depan, tegang, namun memaksa napasnya tetap tenang.
"Thivi," ucapnya lembut, "aku tahu kau khawatir. Tapi kita harus menunggu di sini."
Thivi menggeleng, matanya berkilau penuh tekad. "Tidak bisa. Kaivan… dia membutuhkan kita."
Frans menghela napas, lalu perlahan membuka pintu. "Kalau begitu, kita pergi bersama."
Senyum samar menyentuh bibir Thivi. Berdampingan, mereka turun dari van dan melangkah menuju pintu masuk mall yang diselimuti bayangan. Setiap langkah di lorong sempit itu terasa seperti menyeberang ke dunia lain, sunyi, kosong, dan sarat ancaman. Jejak kaki mereka menggema di dinding beton, meresap ke tulang seperti hawa dingin yang merayap.
"Kaivan," panggil Felicia, suaranya lembut namun tajam seperti kaca. "Apa kau datang untuk membawaku kembali?"
Keheningan menegang. Udara seolah ikut menunggu jawaban Kaivan. Tatapannya menajam, menembus jarak di antara mereka.
"Tidak," jawab Kaivan akhirnya, nadanya datar namun menyimpan bara. "Aku datang untuk menemui orang yang menghancurkan tempat kerjaku." Setiap kata jatuh seperti tombak es di udara yang sarat muatan.
Dari sudut ruangan, Julian tertawa. Suaranya pecah, bergema di lorong kosong. "Hahaha… lalu kenapa, Kaivan? Aku yang bertanggung jawab. Dan aku menikmati setiap detiknya," katanya sambil menyeringai lebar penuh ejekan.
Di sisi Kaivan, Radit memiringkan kepala dan berbisik, "Itu pacarnya Felicia? Dia Cantik sih, tapi pilihannya kayak penggembala kuda."
Kaivan melirik sekilas, satu alis terangkat, namun tetap diam.
Felicia mendengarnya. Mata Felicia menajam, kilau dingin melintas. "Hei!" bentaknya, suaranya menggema di ruangan. "Aku dengar itu!"
