Ficool

Chapter 35 - Rencana yang Ditulis Dengan Tinta Tak terlihat

"Lakukan saja," kata Kaivan dingin, nadanya memutus segala perdebatan.

Dengan enggan, Thivi menuangkan sampo ke dalam air. Radit menutup rapat tiap botol, menatap cairan berbusa itu dengan rasa heran. "Ini makin aneh," gumamnya.

Saat semuanya siap, mereka berkumpul di luar bengkel yang hancur. Udara malam terasa tajam; suara jangkrik mengisi keheningan. Frans datang dengan sebuah SUV hitam, napasnya sedikit tersengal. "Mobil siap," katanya.

Satu per satu, mereka masuk. Di dalam kendaraan, keheningan berkuasa. Frans menggenggam kemudi erat; Radit sesekali melirik botol-botol di pangkuannya; Thivi bersandar gelisah, jarinya memainkan sehelai rambut.

Kaivan duduk di depan, pandangannya terpaku pada jalan. "Waktu kita sedikit. Mereka bisa pergi kapan saja. Kalau mau membalas, kita harus cepat dan tepat."

Frans menatapnya lewat kaca spion. "Kaivan, apa kita siap? Bagaimana kalau mereka lebih kuat?"

Kaivan menoleh perlahan, api menyala di matanya. "Mereka menghancurkan tempat kita lebih dulu. Sekarang giliran kita merobohkan milik mereka."

Kata-kata itu menggantung di dalam mobil, menyelimuti semua dengan sunyi. Frans mengangguk kecil dan menginjak gas lebih dalam. SUV melaju menembus jalanan kosong, menuju konfrontasi yang diselimuti ketidakpastian.

Di dalam kendaraan yang melaju cepat, Kaivan merasakan badai aneh di dadanya bukan takut, melainkan tekad bercampur amarah yang mendidih. Ia tahu malam ini akan mengubah segalanya. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk semua yang berdiri di sisinya. Ini bukan sekadar balas dendam; ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Tangannya bergerak, mengusap kepala Thivi dengan lembut, jemarinya menyelinap di antara rambutnya, seolah menenangkan badai di dalam dirinya. Thivi menatapnya, memahami dalam diam, seakan bisa membaca gejolak yang tak ia ucapkan.

"Maaf… kau harus melihatku seperti ini," bisik Kaivan.

Suaranya bergetar, sarat beban yang tak terucap. Ia tahu pertarungan di depan bukan hal biasa berbahaya dan ia membenci menyeret orang-orang yang ia pedulikan ke dalam bayangannya.

Thivi menggeleng pelan, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Tak apa. Aku tahu kau marah," ujarnya lembut. Seperti biasa, ia adalah penyeimbang Kaivan.

Namun momen itu tak bertahan lama. Kaivan meraih Tome Omnicent dari jaketnya. Di bawah cahaya pucat lampu jalan, ia membuka halaman demi halaman. Tiap lembar terasa berat, seolah menyimpan jawaban dunia. Matanya menyapu tinta yang memudar, mencari arah.

"Kita harus tahu di mana mereka," gumamnya.

Ada yang terasa janggal. Thivi dan Radit, yang mencondongkan tubuh dari kursi depan, hanya melihat kertas kosong tanpa tulisan, tanpa gambar.

"Aku tak melihat apa-apa, Kai," kata Radit bingung. "Semuanya kosong…"

Kaivan menyipitkan mata, memusatkan diri. Dalam gelap yang menyelimuti mereka, sebuah jawaban muncul. "Mereka di lantai tiga," katanya pelan namun pasti. "Kita pancing mereka turun lalu runtuhkan semuanya di atas mereka."

Radit makin kebingungan. "Maaf, tapi aku benar-benar cuma melihat halaman kosong."

Kaivan tak menjawab. Ia memperhatikan tulisan samar di sudut halaman: Arahkan kamera ke halaman-halamanku.

"Coba arahkan kamera ponselmu ke sini," katanya. Dengan ragu, Radit menuruti. Saat layar mengarah ke buku, sebuah gambar muncul: lantai tiga mal terbengkalai, bayangan bergerak cepat, waspada.

"Aku melihatnya, Kaivan… tepat sekali," bisik Radit, suaranya dipenuhi takjub.

Rahasia Tome akhirnya terbentang, tak lagi hanya untuk Kaivan. Sihirnya melalui teknologi menyingkap kebenaran yang lama tersembunyi. Kini, tak ada lagi ruang untuk ragu. Dengan kejelasan baru, mereka mulai menyusun rencana.

"Kita pancing mereka turun," kata Kaivan. "Lalu jebak di tangga."

SUV melambat di dekat mal yang menjulang muram, peninggalan zaman lain. Bangunan reyot itu berdiri seperti hantu, rangkanya retak menangkap cahaya lampu jalan yang redup. Bayangan menempel di dindingnya, angin mendesah melalui luka-lukanya.

Kaivan turun lebih dulu, Radit menyusul. Di tangan Kaivan, lima botol berisi campuran air dan sampo. Bersama, mereka menyusuri koridor sunyi menuju tangga utama. Satu per satu, cairan licin itu mereka tuangkan di setiap anak tangga.

Campuran itu menyebar tipis di atas beton kilap berbahaya yang tak terlihat mata, siap menjatuhkan siapa pun yang berlari turun. Tiap tetes terasa seperti waktu itu sendiri, menunggu untuk menjebak.

Malam itu, dunia seakan ditelan keheningan, menyelimuti mal tua dalam sunyi zaman yang terlupa. Bangunan itu berdiri seperti tulang-belulang sejarah, aus dimakan tahun, hanya disela napas angin yang menyusup lewat celah-celahnya. Di lantai dua, cahaya bulan menembus kaca berdebu, membentuk siluet Kaivan dan Radit terpahat dari bayangan dan tekad.

Kaivan berdiri tegap, ramping namun tak tergoyahkan. Matanya tertuju pada Radit, seolah menimbang kekuatan tekadnya dalam diam.

More Chapters