Ficool

Chapter 10 - Chapter 10

Gerbang belakang kota Veridia tidak lebih dari sebuah celah sempit di antara dua bukit berbatu yang tertutup semak berduri. Di sana, suasana jauh dari kata mewah. Bau amis darah dan aroma dupa yang menyengat memenuhi udara, menandakan bahwa pengaruh Kultus Mata Merah telah meresap hingga ke sendi-sendi kota ini.

"Dengar," bisik Elena saat kami bersembunyi di balik reruntuhan gudang gandum. "Rencana kita adalah penyusupan. Lila telah membuat ramuan penyamaran yang bisa mengubah warna mata kita menjadi merah sementara, tapi jubah hitam itu harus kalian ambil sendiri."

"Kenapa halus aku yang ambil?" Lila protes sambil mengaduk-aduk tas alkimianya. "Aku kan kecil, nanti jubahnya kelébélan!"

"Rian," Elena menatapku tajam. "Kau punya skill 'licik' yang paling tinggi di sini. Kau dan Lila akan masuk ke area dapur markas kultus. Seraphina dan aku akan mencari titik lemah di menara utama."

[Ding!] [Quest Penyamaran Aktif: "Koki dari Neraka".] [Tujuan: Masuk ke dapur Kultus Mata Merah dan sajikan hidangan yang membuat mereka 'lumpuh'.] [Reward: Informasi tentang Ritual Kebangkitan, Skill Memasak Baru: "Soul Seasoning".] [Peringatan: Jika ketahuan, Anda akan menjadi bahan utama sup malam ini.]

"Baiklah, demi 2000 Gold," gumamku sambil mengenakan jubah hitam lusuh yang kami curi dari jemuran pengikut kultus yang sedang mandi.

Dapur markas kultus adalah tempat yang lebih mirip ruang penyiksaan daripada tempat mengolah makanan. Kuali-kuali raksasa berisi cairan hijau mendidih, dan potongan daging yang asalnya meragukan tergantung di langit-langit.

"Hei, kau!" teriak seorang pria bertubuh besar dengan penutup mata merah. "Kenapa kau terlambat? Pendeta Agung Malphas ingin makan malam dalam sepuluh menit! Cepat masak sesuatu yang... membangkitkan gairah kegelapan!"

Aku menelan ludah, menarik tudung jubahku lebih dalam. "Siap, Bos! Saya sedang menyiapkan resep rahasia dari wilayah luar."

Lila, yang menyamar sebagai asisten koki (meskipun jubahnya terseret-seret di lantai), membisikkan sesuatu padaku. "Lian, aku punya 'Bubuk Tidul Nyenyak' tingkat tinggi. Campulkan saja!"

"Tidak bisa, Lila. Kalau mereka langsung tidur sebelum makan, mereka akan curiga. Kita harus membuat mereka... menikmati hidangannya sampai mereka tidak sadar kalau mereka sudah kalah."

Aku mengeluarkan panci hitamku. Di tempat ini, panci itu tampak sangat serasi dengan dekorasi sekitarnya yang serba gelap. Aku mulai menumis potongan daging (yang kuharap adalah daging sapi) dan menambahkan bumbu-bumbu standar. Namun, saat koki lain tidak melihat, aku mengeluarkan botol gacha: "Kecap Manis Takdir" dan mencampurkannya dengan "Micin Explosive".

"Apa itu, Lian?" bisik Lila.

"Ini adalah Saus Penyesalan Seumur Hidup," jawabku menyeringai.

Aroma luar biasa harum tiba-tiba memenuhi seluruh dapur. Para pengikut kultus yang tadinya bermuka masam dan penuh kebencian, tiba-tiba berhenti beraktivitas. Hidung mereka kembang kempis, air liur mulai menetes.

"Bau apa ini? Kenapa... kenapa aku merasa ingin menangis dan memeluk ibuku?" gumam salah satu penjaga dapur.

Itulah efek dari Kecap Manis Takdir yang dicampur dengan Micin Explosive. Rasa manis yang ekstrem memicu hormon kebahagiaan, sementara micin-nya membuat saraf mereka menjadi terlalu sensitif.

"Makanan siap!" teriakku sambil menyajikan sepiring besar tumis daging hitam mengkilap.

Piring itu dibawa ke aula utama di mana Pendeta Agung Malphas sedang duduk di atas singgasana tulang. Dia adalah pria kurus dengan kulit sepucat mayat dan mata merah yang berpendar intens.

"Koki baru, kemari!" perintah Malphas.

Aku berjalan dengan lutut gemetar, diikuti Lila yang terus menunduk agar cadelnya tidak ketahuan.

Malphas mengambil sepotong daging dengan garpu peraknya. Dia mengamatinya sejenak, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Hening menyelimuti aula itu. Para pengikut kultus menahan napas.

Tiba-tiba, mata Malphas membelalak. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kempot.

"Rasa ini..." suara Malphas bergetar. "Kenapa rasa manis ini mengingatkanku pada masa kecilku sebelum aku memutuskan untuk memuja iblis kehancuran? Kenapa aku merasa sangat... jujur?"

[Efek Item Aktif: "Kejujuran Mutlak" (Area of Effect).]

"Sebenarnya," Malphas tiba-tiba bicara dengan suara keras, "aku menggunakan uang kas kultus untuk membeli koleksi patung kucing porselen! Dan ritual kebangkitan itu? Aku hanya ingin membangkitkan Iblis Agung agar dia bisa membantuku membersihkan koleksi patungku dari debu!"

Seluruh aula gempar. Para pengikut setia menatap pemimpin mereka dengan tidak percaya.

"Apa?! Kita mengorbankan nyawa demi patung kucing?!" teriak salah satu pengikut.

"Dan aku benci warna merah! Aku lebih suka warna pink!" lanjut Malphas tanpa henti, efek kecap manis itu benar-benar menghancurkan wibawanya. "Ritual itu akan dilakukan malam ini di puncak menara, kuncinya ada di bawah bantal tidurku!"

Lila menyenggol lenganku. "Lian! Sélap-hina dan Elena halus tahu ini!"

"Ayo pergi sebelum efeknya hilang!" bisikku.

Namun, saat kami hendak berbalik, Malphas menatapku. Matanya yang merah kini berubah menjadi hitam pekat, menembus efek ramuan Lila. Senyumnya yang tadi tampak tulus karena kecap manis, kini berubah menjadi seringai iblis yang mengerikan.

"Tapi kau, Koki Kecil..." Malphas berdiri, auranya tiba-tiba meledak, menghancurkan meja makan di depannya. "Bau jiwamu... kau bukan manusia biasa. Kau adalah 'Wadah' yang kami cari-cari selama ini. Terima kasih sudah mengantarkan dirimu sendiri ke tempat ku."

[Corruption Meter: 0.50%] [Peringatan Kritis: Sinkronisasi Mencapai Titik Tengah.] [Mode "Demon Lord Prototype" Terdeteksi.]

Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Bayangan hitam besar bangkit dari lantai, mengelilingiku dan Lila. Panci di tanganku mulai mengeluarkan api berwarna ungu tua.

"Lila, lari!" teriakku.

"Tapi Kak Lian—"

"SEKARANG!"

Aku menghantamkan panciku ke lantai. Bukan ledakan micin biasa, tapi gelombang kegelapan yang murni keluar, memukul mundur Malphas dan para pengikutnya. Untuk sesaat, aku merasa sangat kuat. Aku merasa dunia ini kecil, dan semua orang di sini hanyalah debu yang bisa kuhapus dengan satu ayunan tangan.

Di langit-langit aula, aku melihat pantulan diriku lagi. Dia sedang duduk di atas singgasana yang jauh lebih besar dari milik Malphas, dikelilingi oleh mayat-mayat pengikut kultus, dan Elena... Elena tergeletak di kakiku dengan pedang yang patah.

"Tidakkk!" aku berteriak, mencoba mengusir penglihatan itu.

Aku menyambar tangan Lila dan kami melesat keluar dari dapur melalui jendela, tepat saat Malphas melepaskan sihir api merahnya.

Kami mendarat di tumpukan jerami di luar, napas kami tersengal-sengal. Di kejauhan, lonceng menara mulai berbunyi anda bahwa ritual tidak lagi sekadar tentang patung kucing, tapi tentang menangkapku.

"Lian," Lila menatapku dengan wajah pucat. "Matamu... masih hitam. Dan pancimu... kenapa ada detak jantung di dalamnya?"

Aku melihat panciku. Di bagian bawahnya, ada sebuah mata merah kecil yang baru saja terbuka, menatapku balik dengan penuh rasa lapar.

"Sepertinya," bisikku dengan suara parau, "penyamaran kita sudah selesai."

More Chapters