Ficool

Chapter 12 - Chapter 12

Membangunkan diri dari pingsan biasanya digambarkan di novel-novel sebagai momen yang dramatis; mata terbuka perlahan, cahaya matahari menyilaukan, dan wajah cantik sang heroine menatap dengan cemas. Namun, realitanya bagiku jauh dari ekspektasi romantis itu.

Hal pertama yang kusadari adalah rasa sakit. Bukan rasa sakit tajam seperti ditusuk jarum, melainkan rasa sakit tumpul yang merata di seluruh tubuh, seolah-olah setiap inci ototku telah diganti dengan beton basah yang mulai mengeras. Aku mencoba menggerakkan jari kelingkingku sebuah tes standar untuk memastikan kelumpuhan dan hasilnya nihil. Jari itu tetap diam, setia pada perintah gravitasi dan mengabaikan perintah otakku.

Hal kedua yang kusadari adalah bau. Bau tanah basah, lumut, dan sesuatu yang gosong... seperti bubur yang dimasak terlalu lama di atas api neraka.

"Kau sudah sadar?"

Suara itu datang dari sebelah kananku. Aku tidak bisa menoleh, jadi aku hanya melirik dengan sudut mataku. Elena duduk di sana, bersandar pada dinding gua yang lembap. Zirah peraknya yang biasanya berkilau kini kusam, penuh goresan, dan berlumuran debu hitam sisa ledakan Veridia. Dia terlihat lelah sangat lelah dengan kantung mata yang mulai menghitam di wajah cantiknya.

"J... a... ngan..." Aku mencoba bicara, tapi lidahku terasa kaku dan tebal, seperti sepotong daging steak murah yang belum dimasak.

"Jangan bicara. Tenggorokanmu bengkak karena reaksi alergi magis dari kecap sialan itu," potong Elena sambil mengambil sebuah mangkuk kayu yang penyok. Dia mengaduk isi mangkuk itu dengan sendok. Isinya adalah bubur berwarna abu-abu kehijauan yang mengeluarkan asap berbau aneh.

"Makanlah. Lila bilang kau butuh nutrisi cair untuk memulihkan sarafmu."

Elena menyodorkan sendok itu ke mulutku. Aku ingin menolak sumpah demi dewa masak, bubur itu terlihat seperti adukan semen tapi perutku berbunyi nyaring, mengkhianati harga diriku.

Begitu bubur itu masuk ke mulutku, mataku melotot. Rasanya... hambar, tapi di saat yang sama ada rasa pahit yang nendang di bagian akhir. Teksturnya kasar, seolah-olah berasnya tidak dicuci bersih dan masih bercampur kerikil.

[Ding!] [Mengkonsumsi: "Bubur Survival Elena".] [Efek: HP +5, Semangat Hidup -50.] [Analisis Rasa: Kombinasi antara beras mentah, air sungai yang belum disaring, dan... apakah itu potongan kulit pohon?]

"Telan," perintah Elena tegas, seolah dia sedang memberi makan kuda perang yang keras kepala. "Jangan protes. Aku ksatria, bukan koki. Bersyukurlah kau tidak mati kelaparan."

Aku menelan dengan susah payah. Terima kasih, Nona Elena. Kau memang penyelamatku, tapi selera masakanmu adalah bencana alam tersendiri.

Setelah lima suapan yang menyiksa, aku mendengar suara langkah kaki mendekat dari mulut gua. Cahaya matahari sore menerobos masuk, menciptakan siluet dua sosok yang sangat kukenal. Lila dan Lady Seraphina.

"Kak Lian!" Lila berlari kecil menghampiriku, jubah penyihirnya yang kedodoran berkibar-kibar. Dia langsung memeriksa denyut nadiku dengan wajah serius, lalu beralih menekan-nekan pipiku yang kaku. "Wah, otot wajahnya masih kelam (kram). Efek 'Kecap Manis Takdil' itu belnal-belnal kuat. Hampil membuatmu jadi patung pelmanen."

"Dia akan sembuh, kan?" tanya Elena, meletakkan mangkuk bubur "maut" itu ke samping.

"Bisa! Tapi butuh waktu. Mungkin dua hali lagi balu bisa jalan nolmal. Selama itu, Kak Lian halus digendong te-lus," jawab Lila polos.

Aku mengerang dalam hati. Digendong? Oleh Elena? Harga diriku sebagai laki-laki bahkan sebagai pahlawan ampas sedang diuji habis-habisan.

Seraphina berjalan perlahan mendekat. Dia tampak berbeda. Gaun bangsawannya yang kotor telah diganti dengan pakaian petualang sederhana yang mungkin dia pinjam dari Lila. Wajahnya masih pucat, dan dia terus memegangi lehernya, tempat di mana tato mata merah itu berada. Dia menatapku, tapi tatapannya... kosong. Tidak ada rasa lega atau simpati, hanya ada kalkulasi dingin yang tersembunyi di balik mata indahnya.

"Syukurlah kau selamat, Rian," ucap Seraphina lembut. Terlalu lembut. "Kami melihat ledakan di Veridia. Menara itu runtuh setengahnya. Malphas pasti sangat marah."

"Marah adalah pernyataan yang meremehkan," sahut Elena sambil membersihkan pedangnya dengan kain lap. "Kita sekarang adalah buronan nomor satu di wilayah ini. Kultus itu akan mengirim Blood Hounds anjing pelacak iblis, untuk memburu kita."

"Kita harus bergerak malam ini," kata Lila sambil mengeluarkan peta lusuh. "Ada desa tel-pencil di balik gunung ini. Kita bisa sembunyi di sana."

Elena mengangguk setuju. "Lila, kau jaga pintu masuk gua. Pasang perangkap bommu. Seraphina, kau istirahatlah. Aku akan mencari kayu bakar sebentar agar kita tidak membeku malam ini. Rian... kau tetaplah jadi sayuran di sini."

Elena bangkit, menepuk pundakku pelan (yang rasanya seperti dipukul palu), lalu berjalan keluar gua. Lila mengikuti di belakangnya, sibuk meracik sesuatu yang dia sebut "Bom Bau Kaus Kaki" untuk mengusir serigala.

Tinggallah aku dan Seraphina di dalam gua yang remang-remang.

Suasana hening. Hanya ada suara tetesan air dari stalaktit. Aku mencoba memejamkan mata, berharap bisa tidur sejenak untuk melupakan rasa sakit di tubuhku. Namun, Sistem di kepalaku tiba-tiba berbunyi, bukan dengan nada ceria seperti biasanya, tapi dengan nada peringatan statis yang menyeramkan.

[Peringatan: Deteksi Niat Membunuh dalam radius 2 meter.] [Sumber: Teman (?).] [Saran: Bangun, bodoh! Atau kau akan mati dalam tidur!]

Mataku terbuka lebar.

Di depanku, Lady Seraphina sedang berdiri tepat di samping tempat tidur daruratku. Wajahnya tidak lagi lembut. Wajahnya datar, dingin, dan penuh dengan keputusasaan yang mengerikan. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah belati kecil, belati perak yang biasanya digunakan bangsawan untuk memotong buah, tapi kini diarahkan tepat ke jantungku.

"Maafkan aku, Rian," bisiknya. Suaranya bergetar, tapi tangannya stabil. "Aku tidak bisa membiarkanmu hidup."

Aku ingin berteriak memanggil Elena, tapi suaraku masih terkunci. Aku hanya bisa mengeluarkan suara “Ghh... kkhh...” yang menyedihkan. Mataku menatapnya dengan panik, bertanya-tanya kenapa?

Seolah bisa membaca pikiranku, Seraphina tersenyum sedih. Air mata menetes dari matanya. "Kau pikir aku tidak tahu? Ayahku memang menjualku, tapi dia memberitahuku satu hal sebelum aku pergi. Kultus itu tidak membutuhkan 'darah bangsawan' untuk membangkitkan Raja Iblis. Mereka membutuhkan 'Wadah'. Dan Wadah itu... adalah kau."

Dia mendekatkan ujung belati itu ke dadaku.

"Kau melihatnya sendiri di menara itu, kan? Kekuatanmu. Mata di panci itu. Kau bukan pahlawan, Rian. Kau adalah bom waktu. Jika Malphas menangkapmu, dunia ini akan hancur. Ribuan orang akan mati." Dia menelan ludah, tangannya mencengkeram belati itu semakin erat. "Jadi, lebih baik kau mati sekarang sebagai manusia, daripada hidup dan menjadi monster yang menghancurkan segalanya. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita semua."

Logika yang sempurna. Mengerikan, tapi sempurna. Dia bukan pengkhianat yang jahat; dia adalah pengkhianat yang mencoba menjadi pahlawan dengan caranya sendiri.

Belati itu mulai turun.

Aku akan mati, pikirku. Mati konyol di gua bau apek, dibunuh oleh putri yang kucoba selamatkan, saat sedang lumpuh karena minum kecap.

Namun, saat ujung belati itu menyentuh bajuku, sesuatu bergerak di sisi tubuhku.

Panci hitamku.

Benda itu tergeletak di samping pinggangku sejak tadi. Tanpa ada yang menyentuhnya, panci itu bergetar. Bukan getaran halus, tapi getaran marah.

TANG!

Secara tiba-tiba, panci itu melompat...ya, melompat ke atas dadaku, menempatkan dirinya tepat di jalur lintasan belati Seraphina.

SREEEK!

Belati perak itu menghantam pantat panci yang gosong. Bunyi logam beradu memecah keheningan gua. Seraphina terkejut, matanya membelalak tak percaya.

"A-apa...?"

Panci itu tidak berhenti di situ. Gagangnya berputar sendiri, memukul pergelangan tangan Seraphina dengan keras.

PLAK!

"Ah!" Seraphina menjerit kesakitan, menjatuhkan belatinya.

Panci itu kemudian melayang sedikit di udara hanya beberapa sentimeter dan mengarahkan bagian pantatnya yang hitam legam ke wajah Seraphina, seolah-olah sedang menatapnya dengan ancaman: “Sentuh tuanku lagi, dan aku akan menggoreng wajahmu.”

[Ding!] [Item Evolusi Terkonfirmasi: "Panci Protektif yang Posesif".] [Status: Semi-Sentient (Setengah Sadar).] [Loyalitas: 100% pada Rian (atau lebih tepatnya, pada masakan Rian).] [Tindakan Otomatis: Menolak segala bentuk penetrasi fisik pada Tuan.]

Seraphina mundur, wajahnya pucat pasi ketakutan melihat benda mati yang bergerak sendiri. Dia jatuh terduduk di lantai gua, tubuhnya gemetar hebat. "Benda itu... benda itu melindungi iblis..."

Tepat saat itu, bayangan panjang muncul di mulut gua. Elena berdiri di sana, menjatuhkan kayu bakar yang dibawanya. Matanya melihat belati yang tergeletak di lantai, Seraphina yang ketakutan, dan panci yang melayang di atasku.

Suasana membeku. Elena tidak bodoh. Dia bisa menyimpulkan apa yang baru saja terjadi dalam hitungan detik.

"Seraphina," suara Elena rendah, jauh lebih menakutkan daripada saat dia memarahi musuh. Dia melangkah masuk perlahan. "Apa yang kau lakukan dengan belati itu?"

Seraphina menoleh ke arah Elena, air matanya deras mengalir. "Elena! Dia monster! Kau melihatnya sendiri! Panci itu bergerak! Kita harus membunuhnya sebelum terlambat!"

Elena berjalan melewati Seraphina tanpa menatapnya, langsung menuju ke arahku. Dia mengambil panci yang melayang itu (yang anehnya langsung jatuh lemas saat disentuh Elena, seolah berpura-pura menjadi panci biasa lagi) dan meletakkannya kembali di sisiku.

Lalu, Elena berbalik menghadap Seraphina.

"Aku tahu dia berbahaya, Seraphina. Aku tahu potensi kehancuran yang dia bawa," kata Elena tenang. "Tapi dia belum melakukan kejahatan apa pun. Dia justru melumpuhkan dirinya sendiri untuk menyelamatkan kita di menara itu. Jika dia ingin membunuh kita, dia sudah melakukannya sejak tadi."

"Itu hanya tipuan iblis!" teriak Seraphina histeris.

"Mungkin," jawab Elena. Dia mencabut belati Seraphina dari lantai dan menancapkannya ke sarung kayu di pinggangnya sendiri. "Tapi selama aku memegang pedang ini, akulah yang akan memutuskan kapan dia harus mati. Bukan kau. Dan bukan Kultus."

Elena berjongkok di depan Seraphina, menatap mata sang putri dalam-dalam. "Kita adalah tim sekarang. Tim yang berantakan, kacau, dan mungkin terkutuk. Tapi kita tidak saling membunuh dalam tidur. Paham?"

Seraphina terisak, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku... aku hanya takut..."

"Kita semua takut," Elena berdiri, lalu menoleh padaku. Matanya bertemu dengan mataku yang masih terbelalak kaget. Ada sedikit kelembutan di sana, bercampur dengan kelelahan yang luar biasa.

"Tidurlah, Rian. Panci gilamu sudah melakukan tugasnya dengan baik. Besok pagi, kita harus bicara serius tentang... 'bakat' terpendammu itu."

Aku menghela napas lega atau setidaknya mencoba menghela napas. Panci di sisiku terasa hangat, seolah-olah dia baru saja berkata, "Tenang, Bos. Aku yang jaga."

Malam itu, di dalam gua yang dingin, aku menyadari satu hal: musuhku bukan hanya Kultus Mata Merah atau Raja Iblis di dalam diriku. Musuhku juga adalah ketakutan teman-temanku sendiri. Dan satu-satunya yang benar-benar bisa kupercayai saat ini hanyalah sebuah panci gosong yang semakin hari semakin bertingkah seperti anjing penjaga.

[Corruption Meter: 0.15% (Turun karena tindakan heroik Panci).] [Catatan Sistem: Jangan lengah. Pengkhianatan yang gagal seringkali hanyalah permulaan.]

Di luar gua, lolongan Blood Hounds terdengar sayup-sayup, terbawa angin malam yang semakin dingin. Mereka semakin dekat. Dan aku masih belum bisa menggerakkan kakiku.

More Chapters