Ficool

Chapter 9 - Chapter 9

Kereta kuda keluarga Vandermere kini bergerak menembus kabut tebal yang menyelimuti perbatasan wilayah Veridia. Suasana di dalam kereta jauh lebih sunyi daripada sebelumnya. Lady Seraphina duduk menyudut, memeluk lututnya, sementara Elena terus menatap keluar jendela dengan tangan yang tak lepas dari gagang pedangnya.

Aku? Aku duduk di atap kereta. Bukan karena aku ingin bergaya seperti ksatria pengintai, tapi karena Elena mengusirku setelah aku tidak sengaja menjatuhkan bumbu lada hitam ke dalam kantong tidurnya.

"Dingin sekali di sini," keluhku sambil merapatkan jaket. "Sistem, apa tidak ada fitur penghangat tubuh otomatis? Atau minimal jaket bulu angsa dari gacha?"

[Ding!] [Fitur Penghangat tersedia di menu 'Premium Shop'.] [Harga: 50.000 Gold atau 10 Tahun Usia Hidup.] [Saran: Peluklah panci Anda. Besi dapat menyimpan sisa panas api unggun tadi pagi.]

"Saran yang sangat tidak membantu," gerutuku.

Tiba-tiba, telingaku menangkap suara aneh dari arah semak-semak di sisi jalan. Bukan suara langkah kaki berat seperti ksatria, melainkan suara —tek, tek, bum!— kecil yang berulang-ulang.

"Nona Elena! Ada sesuatu di depan!" teriakku sambil mengetuk-ngetuk atap kereta.

Kereta berhenti mendadak. Elena melompat keluar dengan pedang terhunus. "Siapa di sana? Tunjukkan dirimu!"

Dari balik kabut, muncul sesosok mungil yang mengenakan jubah penyihir yang ukurannya jauh terlalu besar untuk tubuhnya. Topi kerucutnya miring menutupi mata sebelah kiri, dan di punggungnya terikat sebuah tabung besar penuh dengan cairan berwarna-warni yang bergejolak.

Gadis itu tampak sedang sibuk mengaduk sebuah botol kaca kecil dengan wajah yang sangat serius sampai dia tidak menyadari keberadaan kami.

"Waaa! Ada olang asing!" teriak gadis itu. Suaranya cadel, membuatnya terdengar lebih seperti anak kecil yang sedang bermain peran daripada seorang penyihir.

"Siapa kau?" tanya Elena, tidak menurunkan kewaspadaannya. "Dan apa yang kau lakukan di tengah jalur berbahaya ini?"

Gadis itu membenarkan topinya, mencoba terlihat gagah namun malah tersandung jubahnya sendiri. "Namaku Lila! Aku adalah... al-al... al-kemis paling hebat di seluluh benua! Aku sedang melakukan ekspe-limen untuk membuat bom yang bisa mengubah gwalon menjadi emas!"

Aku melompat turun dari atap kereta. "Eksperimen bom? Gadis kecil, kau bisa meledakkan dirimu sendiri kalau tidak hati-hati."

Lila menggembungkan pipinya, terlihat tersinggung. "Aku bukan kecil! Aku sudah duluh... eh, tujuh belas tahun! Hanya saja pel-tumbuhanku tel-hambat karena sesting seling kena ledakan!"

[Ding!] [Mendeteksi Karakter Unik.] [Nama: Lila the Unstable.] [Kelas: Mad Alchemist (Junior).] [Stat Keberuntungan: +100 (Sangat tinggi, itulah kenapa dia masih hidup).] [Status: Sedang mencari teman untuk dijadikan kelinci percobaan.]

"Lila," Elena memanggil dengan nada yang mulai melunak namun tetap tegas. "Wilayah ini sedang dikuasai oleh Kultus Mata Merah. Sangat berbahaya bagi seseorang sepertimu untuk berkeliaran sendirian."

Lila memiringkan kepalanya. "Kultus? Oh! Olang-olang paké baju hitam yang matanya melah-melah itu? Meléka menyebalkan! Meléka melarangku mengambil jamul di hutan ini. Jadi, aku melempar satu botol 'Ramuan Gatal Lual Biasa' ke mal-kas meléka."

"Kau menyerang markas mereka sendirian?" aku terperangah.

"Iya! Meléka seling teliak-teliak 'Kehanculan akan datang!', jadi aku kasih saja kehanculan kecil di celana meléka. Hihihi!"

Elena dan aku saling berpandangan. Gadis cadel ini mungkin terlihat konyol, tapi keberaniannya (atau kebodohannya) bisa menjadi aset. Terutama jika kita ingin menyusup ke Veridia.

"Lila, apakah kau tahu jalan pintas menuju kota Veridia tanpa melewati pos penjagaan utama?" tanya Elena.

Lila mengetuk-ngetuk dagunya dengan botol kaca. "Ada! Tapi jalannya melewati Gua Kalel-et. Di sana banyak monstel. Tapi kalau Kakak-kakak mau kasih aku makanan enak, aku bisa bantu!"

Mataku berbinar. "Makanan enak? Kebetulan sekali, perkenalkan, namaku Rian. Pahlawan Panci. Aku koki terbaik di party ini."

Lila menatap panciku dengan mata berbinar. "Panci? Wah! Itu alat masak paléng hebat! Bisakah Kakak membuatkan aku puding peledak?"

"Puding apa?!"

Kami memutuskan untuk membawa Lila bersama kami. Lady Seraphina awalnya ragu, tapi setelah Lila memberinya sebuah batu wangi yang katanya bisa "menenangkan jiwa" (yang ternyata hanya batu kali yang direndam parfum melati), Seraphina tampak lebih rileks.

Namun, perjalanan tidak semudah itu. Saat kami mulai memasuki wilayah Gua Kelelawar, kabut menjadi semakin pekat dan berwarna kemerahan. Bau belerang menyengat hidung.

"Hati-hati," bisik Elena. "Ini bukan kabut alami. Ini sihir penghalang."

Tiba-tiba, dari kegelapan gua, muncul belasan bayangan terbang dengan mata merah menyala. Bukan kelelawar biasa, melainkan Blood Bat monster penghisap darah yang bergerak berkelompok.

"Sial, mereka terlalu banyak!" Elena bersiap mengayunkan pedangnya, tapi melawan musuh kecil dan lincah dalam jumlah besar dengan pedang raksasa adalah hal yang sulit.

"Bialkan aku saja!" teriak Lila. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah botol berisi cairan pink berpendar. "Lian! Tolong lemplékan ini pakai pancimu!"

"Apa?! Bagaimana caranya?!"

"Pukul saja botolnya ke arah meléka! Jangan takut peledak, botolnya kuat!"

Aku tidak punya pilihan. Aku memasang posisi seperti pemain kasti. Lila melemparkan botol pink itu padaku.

"Home Run!" teriakku sambil mengayunkan panci sekuat tenaga.

TANG!!

Botol itu meluncur deras, membelah udara, dan meledak tepat di tengah kerumunan Blood Bat. Tapi, bukannya api, ledakan itu mengeluarkan ribuan partikel kecil berwarna warni yang mengeluarkan aroma... permen karet?

[Ding!] [Skill Kolaborasi Terdeteksi: "Sweet Destruction".] [Efek: Monster terkena status 'Sugar Rush' berlebihan. Mereka menjadi terlalu aktif hingga jantung mereka tidak kuat dan pingsan karena terlalu bahagia.]

Kelelawar-kelelawar itu mulai terbang berputar-putar dengan kecepatan gila, menabrak dinding gua sambil mengeluarkan bunyi mencicit yang riang, sebelum akhirnya berjatuhan ke tanah dengan lidah menjulur.

"Berhasil! Hahaha!" Lila melompat-lompat kegirangan.

Elena menatap tumpukan monster yang pingsan karena rasa manis itu dengan ekspresi tidak percaya. "Dunia ini... benar-benar sudah gila."

"Nona, jangan mengeluh. Yang penting kita selamat," kataku sambil membersihkan sisa cairan pink di panciku.

Namun, saat aku menunduk untuk mengambil spons, Corruption Meter-ku kembali berkedip merah. Kali ini angkanya melonjak lebih cepat.

[Corruption Meter: 0.45%] [Mendeteksi Kehadiran 'Saudara'...]

Aku membeku. Di ujung gua yang gelap, jauh di luar jangkauan cahaya bola sihir Elena, aku melihat sesuatu. Bukan monster, bukan kultus. Tapi sebuah pintu besar yang terbuat dari tulang-belulang yang bergetar.

Hanya aku yang bisa melihatnya. Pintu itu seolah-olah memanggilku, membisikkan janji tentang kekuatan yang sesungguhnya.

"Rian? Kenapa diam saja?" tanya Seraphina, memegang ujung jaketku.

Aku tersentak. "Ah, tidak ada. Hanya... merasa gua ini sedikit pengap."

Lila mendekatiku, menatap wajahku dengan tatapan yang tiba-tiba menjadi sangat serius tatapan yang tidak cocok untuk gadis cadel sepertinya. "Kak Lian... Kakak punya bau yang sama dengan 'olang jahat' di mal-kas itu. Tapi... Kakak lebih 'gelap'. Hati-hati ya, jangan sampai meledak seperti botolku."

Dia kemudian kembali ceria dalam sedetik. "Ayo! Sebental lagi kita sampai di pintu belakang Velidia!"

Aku berjalan mengikuti mereka, tapi kata-kata Lila terngiang di kepalaku. Bau yang sama? Lebih gelap?

Aku meraba saku jaketku, menemukan botol kecap manis takdir yang tinggal setengah. Aku menyadari satu hal: di dunia yang penuh dengan sihir dan monster ini, mungkin hal yang paling berbahaya bukanlah Kultus Mata Merah, melainkan apa yang sedang tumbuh di dalam panci yang selalu kubawa ini.

"Sistem," bisikku pelan. "Apa aku akan membunuh mereka semua suatu hari nanti?"

[Ding!] [Jawaban tidak tersedia dalam versi Gratis.] [Saran: Teruslah memasak. Selama perut kenyang, iblis di dalam hati biasanya malas bekerja.]

"Dasar Sistem pelit," gumamku, sambil mempercepat langkah menyusul Elena yang sudah mulai curiga padaku lagi.

More Chapters