Ficool

Chapter 4 - Chapter 4

Pagi di dunia Aethoria datang dengan cara yang tidak sopan. Bukan dengan kicauan burung, melainkan dengan tendangan boot besi ke pinggangku.

"Bangun, Rian. Matahari sudah setinggi tombak."

Aku mengerang, mengusap mataku yang lengket. Tubuhku terasa remuk redam, efek tidur di atas lantai kayu penginapan murah tanpa kasur. Di depanku, Elena sudah berdiri tegak, zirah peraknya berkilauan seolah dia menghabiskan sepanjang malam memolesnya alih-alih tidur.

Wajahnya kembali datar, dingin, dan berwibawa. Tidak ada jejak "Elena si Gadis Cerewet" yang kemarin malam menceritakan rahasia celana dalamnya yang kesempitan karena efek masakan gagal-ku.

"Selamat pagi, Nona Elena," sapaku sambil menguap. "Bagaimana tidurmu? Mimpi tentang kelinci?"

Srrring.

Dalam sepersekian detik, ujung pedang besarnya sudah menempel di bawah daguku. Tatapannya tajam, setajam silet.

"Kejadian semalam tidak pernah terjadi," bisiknya dengan nada yang bisa membekukan air mendidih. "Jika kau mengungkitnya sekali lagi, aku akan menjadikanmu umpan Goblin. Paham?"

"Pa-paham! Sangat paham!"

"Bagus. Kita berangkat lima menit lagi. Cuci mukamu, kau ileran."

Tujuan kami adalah Reruntuhan Kuil Zanark, sebuah situs kuno yang terletak di pinggiran Hutan Odelia. Menurut Elena, tempat ini dulunya adalah tempat pemujaan Dewa Cahaya, tapi sekarang sudah menjadi sarang monster undead tingkat rendah. Tempat yang sempurna untuk pemanasan... atau kuburan bagi pemula sepertiku.

Sepanjang perjalanan, aku mencoba mengecek sistemku, berharap ada Daily Login Reward atau semacamnya.

[Ding!] [Selamat Pagi, Tuan Rian.] [Daily Reward: 1x Tiket Gacha (Rate Up: Barang Rumah Tangga).]

"Barang rumah tangga lagi?!" protesku dalam hati. "Dunia fantasi macam apa ini? Di mana pedang sucinya? Di mana tongkat sihirnya?"

Aku memutar tiket itu dengan pasrah. Roda rolet virtual berputar di pandanganku.

[Berhenti di...] [Ding! Selamat! Anda mendapatkan Item: "Spons Cuci Piring Abadi".] [Deskripsi: Tidak akan pernah hancur. Mampu membersihkan noda darah membandel dalam sekali usap. Sangat higienis.]

Aku menepuk jidat. Spons. Aku akan melawan monster dengan panci di tangan kanan dan spons di tangan kiri. Aku resmi menjadi Pahlawan Cleaning Service.

"Kita sampai," suara Elena membuyarkan lamunanku.

Di hadapan kami, sebuah struktur batu raksasa yang tertutup lumut menjulang. Pintu masuknya gelap gulita, menguarkan bau apek dan kematian. Pilar-pilarnya sudah retak, dan ada ukiran-ukiran kuno yang sudah tergerus zaman.

"Nyalakan obormu," perintah Elena.

"Aku tidak punya obor," jawabku polos.

Elena menghela napas panjang, seolah sedang mengasuh balita. Dia mengangkat tangan kirinya, membisikkan mantra pelan. Sebuah bola cahaya kecil (Wisp) muncul, menerangi area sekitar kami.

"Tetap di belakangku. Jangan sentuh apa pun. Jangan injak apa pun yang terlihat mencurigakan."

Kami melangkah masuk.

Suasana di dalam reruntuhan itu hening. Hanya ada suara langkah kaki besi Elena (Klontang... klontang...) dan langkah sepatu kets-ku (Cekit... cekit...). Lorong itu lembap, dindingnya dipenuhi jaring laba-laba seukuran jala ikan.

"Nona Elena," bisikku, bulu kudukku meremang. "Apa kau yakin cuma ada monster tingkat rendah di sini?"

"Biasanya begitu. Paling hanya Skeleton atau Zombie lambat. Cocok untuk melatih mental tempe-mu itu."

KRETEK.

Suara tulang beradu terdengar dari kegelapan di depan. Elena berhenti. Dia mengangkat Greatsword-nya. Bola cahaya melayang maju, menyinari kerumunan sosok di depan sana.

Lima tengkorak hidup. Mereka memegang pedang berkarat dan perisai kayu yang sudah lapuk. Mata kosong mereka menyala dengan api biru redup.

[Sistem Alert: Musuh Terdeteksi!] [Nama: Skeleton Warrior (Level 4)] [Kelemahan: Senjata Tumpul, Anjing, dan Osteoporosis.]

"Lima ekor," kata Elena santai. "Aku ambil tiga yang di depan. Kau urus dua yang di belakang. Jangan mati."

Sebelum aku sempat protes, Elena sudah melesat. BUM! Sekali ayun, dua Skeleton langsung hancur berkeping-keping. Tulang rusuk beterbangan ke mana-mana.

Dua Skeleton sisanya melihat temannya hancur, lalu menoleh ke arahku. Mereka sepertinya berpikir, "Wanita itu mengerikan, ayo serang pria berwajah bodoh yang bawa panci itu saja."

"Sialan! Jangan remehkan koki!" teriakku.

Satu Skeleton menerjangku dengan pedang karat. Aku menangkis dengan panci. TANG!! Suaranya nyaring memekakkan telinga. Getarannya membuat tanganku kesemutan, tapi panci itu tidak lecet sedikit pun.

"Terima rasanya! Pukulan Gegar Otak!" Aku mengayunkan panci sekuat tenaga ke samping, menghantam batok kepala Skeleton itu.

KRAK! Kepalanya copot, melayang seperti bola bisbol, menabrak dinding, lalu jatuh menggelinding. Tubuh tanpa kepalanya masih berdiri sebentar, bingung, lalu ambruk menjadi tumpukan tulang.

[Ding! Critical Hit!] [Skill Pasif 'Bonk' Aktif: Musuh mengalami disorientasi permanen (Mati).]

Skeleton kedua datang. Kali ini dia lebih pintar, dia mencoba menusuk perutku. Aku melompat mundur, tapi kakiku tersandung batu menonjol. Aku jatuh telentang. Skeleton itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk menghabisiku.

"Mati aku!"

Refleks, aku melempar benda apa saja yang ada di tangan kiriku. Spons Cuci Piring Abadi.

Spons itu melayang, mendarat tepat di wajah tengkorak itu. Tentu saja, itu tidak sakit. Itu cuma spons.

Tapi...

[Ding! Item Effect Triggered!] [Spons Cuci Piring Abadi menyerap cairan ektoplasma (Roh) musuh karena menganggapnya sebagai "Noda Membandel".]

Skeleton itu tiba-tiba kejang-kejang. Api biru di matanya tersedot keluar, meresap masuk ke pori-pori spons kuning itu. Dalam hitungan detik, Skeleton itu ambruk, kehilangan tenaga kehidupannya. Spons itu jatuh ke tanah, terlihat sedikit lebih berkilau.

Aku ternganga. "Spons itu... menyedot nyawanya?"

Elena, yang sudah selesai membereskan bagiannya, menoleh dan melihat kejadian itu. Alisnya terangkat sebelah. "Sihir penyerap jiwa? Kau punya artefak gelap, Rian?"

"Bukan! Ini cuma spons cuci piring!" teriakku frustrasi sambil memungut spons itu dengan jijik.

Elena menggelengkan kepala. "Terserahlah. Ayo lanjut. Ruang harta karun ada di ujung lorong ini."

Kami berjalan lebih dalam. Namun, semakin jauh kami melangkah, semakin aneh perasaan di dadaku. Udara terasa semakin berat. Bukan berat karena tekanan atmosfer, tapi berat karena... kebencian.

Di dinding-dinding lorong, aku mulai melihat sesuatu yang ganjil. Ukiran-ukiran kuno itu... berubah.

Bagi Elena, mungkin itu terlihat seperti sejarah Dewa Cahaya. Tapi mataku, atau lebih tepatnya antarmuka Sistem-ku, menerjemahkannya berbeda.

Aku berhenti di depan sebuah mural besar.

"Kenapa berhenti?" tanya Elena.

"Gambar ini..." gumamku.

Di mata Elena, itu adalah gambar seorang pahlawan yang mengalahkan naga. Tapi di mataku, mural itu dipenuhi glitch. Gambar itu berkedip-kedip. Dan di atas kepala sang pahlawan di lukisan itu, ada teks merah melayang yang menyatu dengan batu:

[Error 404: Hero_Data_Corrupted] [Cycle Count: 14,050] [Previous Outcome: Failure. Failure. Failure. Massacre.]

Jantungku berdegup kencang. Massacre? Pembantaian? Dan apa itu Cycle Count?

"Elena," panggilku pelan. "Apa kau pernah mendengar tentang... siklus?"

"Siklus apa? Siklus hujan? Siklus panen?" Elena tidak menoleh, dia sibuk memeriksa pintu batu besar di depan kami. "Berhentilah melamun. Bantu aku mendorong pintu ini. Boss ruangan ada di balik sini."

Aku menelan ludah, mencoba mengabaikan tulisan menyeramkan itu. Mungkin hanya bug sistem, hiburku pada diri sendiri. Tapi jauh di lubuk hatiku, rasa takut mulai merayap.

Kami mendorong pintu batu itu. Di dalam ruangan luas berbentuk kubah, berdiri sesosok makhluk setinggi empat meter. Tubuhnya terbuat dari batu granit yang kokoh. Matanya menyala kuning.

[Boss Monster: Stone Golem Guardian (Level 10)] [Status: Kebal Serangan Fisik Biasa. Kebal Api. Sangat Keras.]

"Golem," desis Elena. "Pedangku akan tumpul kalau menebasnya sembarangan. Rian, kau harus jadi pengalih perhatian."

"Apa?! Kau mau aku melawan batu berjalan itu dengan panci?! Itu bunuh diri!"

"Bukan melawan. Mengalihkan! Buat dia marah! Kau kan ahli membuat orang jengkel!"

Sebelum aku sempat menolak, Golem itu meraung. Suaranya seperti gunung yang runtuh. Dia mengangkat kepalan tangannya yang sebesar kulkas dan menghantam tanah.

BLAAAR! Tanah berguncang. Aku terpental jatuh.

"Lari, Rian! Lari dan buat bunyi!" perintah Elena sambil berlari memutar ke arah punggung Golem.

Aku bangkit dan berlari sekencang mungkin. "Hei, Batu Jelek! Di sini! Kejar aku!" Aku memukul panciku dengan gagang spons. TANG! TANG! TANG!

Golem itu menoleh perlahan. Dia tidak suka suara berisik. Dia mulai melangkah mengejarku.

"Mampus, dia ngejar beneran!"

Aku berlari mengelilingi pilar. Golem itu mengayunkan tangannya, menghancurkan pilar itu sampai jadi debu. Puing-puing batu beterbangan, menggores pipiku. Darah menetes.

Rasa perih itu... anehnya memicu sesuatu. Darahku mendidih lagi. Seperti saat melawan begal kemarin, tapi kali ini lebih kuat. Lebih intens.

Suara di kepalaku berbisik lagi. "Hancurkan dia. Bukan dengan panci. Tapi dengan kebencianmu. Lepaskan..."

Mataku terkunci pada inti kristal di dada Golem itu. Rasanya aku ingin merobeknya keluar. Tanganku yang memegang panci bergetar, bukan karena takut, tapi karena keinginan membunuh yang meluap-luap.

[Corruption Meter: 0.10% -> 0.15%] [Peringatan: Detak jantung abnormal.]

"Rian! Menunduk!" teriakan Elena menyadarkanku.

Aku menunduk refleks. Elena melompat dari atas pilar yang runtuh, pedangnya diselimuti cahaya menyilaukan. "Divine Smite!"

Dia menghunjamkan pedangnya tepat ke celah leher Golem. KRAAAAK! Cahaya meledak. Golem itu meraung kesakitan, tubuh batunya retak di mana-mana sebelum akhirnya ambruk menjadi tumpukan puing tak bernyawa.

Debu mengepul tebal.

Aku berdiri, napas memburu. Keringat dingin bercampur debu menutupi wajahku. Sensasi "ingin membunuh" tadi perlahan surut, meninggalkan rasa mual yang hebat di perutku.

"Kerja bagus," kata Elena sambil mendarat dengan anggun. Dia menyarungkan pedangnya. "Kau berhasil membuatnya terekspos."

Aku menatap tanganku sendiri. Gemetar. "Ya... kerja bagus," gumamku lirih.

Elena berjalan mendekati tumpukan batu itu. Ada sebuah peti kayu tua di sana—hadiah clear dungeon. "Ayo lihat apa isinya. Semoga bukan sampah."

Dia membuka peti itu. Isinya berkilauan emas. Ada koin, permata, dan sebuah gulungan kertas kuno.

"Jackpot," Elena tersenyum tipis. "Kita bisa bayar sewa penginapan bulan ini."

Tapi mataku tidak tertuju pada emas itu. Mataku tertuju pada sudut ruangan, di mana bayangan Golem tadi jatuh. Di sana, untuk sedetik, aku melihat sesosok bayangan hitam berbentuk manusia dengan mata merah menyala, menatapku sambil tersenyum menyeringai. Sosok yang wajahnya persis seperti wajahku.

Aku mengucek mata. Sosok itu hilang.

[Quest Selesai: Dungeon Pertama.] [Reward: XP +500. Reputasi Elena +10.] [Hidden Update: Segel 1 dari 7 'The Calamity' mulai longgar.]

"Rian? Kau melamun lagi?" tegur Elena.

"Tidak. Cuma... lapar," jawabku cepat, memalsukan senyum. "Ayo pulang, Nona. Aku akan masak... maksudku, kita beli makan saja."

Kami berjalan keluar dari reruntuhan itu. Di luar, matahari masih bersinar terang, kontras dengan kegelapan yang baru saja kurasakan di dalam sana dan di dalam diriku sendiri.

Di kejauhan, seekor burung gagak menatap kami dari dahan pohon, lalu terbang pergi sambil berkoak serak, seolah membawa kabar buruk ke penjuru dunia.

More Chapters