Sarira dan Manas kembali ke rumah Sarira di desa Bandriya setelah mengunjungi Kakek Ramon.
"Kami sudah Kembali ayah," kata Sarira.
"Oh kalian sudah kembali, gimana keadaan Kakek Ramon?" tanya Grain, ayah Sarira.
Manas menjawab, "Sehat dan energic seperti biasa, jadi bagaimana persiapannya?".
Grain memberitahu bahwa semua persiapan sudah tersedia, lalu menyerahkan sebuah Grimoire kepada Sarira. "Sarira, terima lah Grimoire ini" katanya.
"Ini bukannya punya ibu?" tanya Sarira.
"Ya bawalah ini" jawab Grain. "Ibu mu memang berniat memberikan ini kepada mu nanti sewaktu saat kamu mulai bertualang". Grain melanjutkan, "Pasti ibu mu bangga dan sekaligus sedih karena melihat putrinya mulai melangkahkan kaki nya ke dunia luar".
Sarira tersenyum pahit, "Aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi ibu".
"Oke cukup sampai sini momen sedihnya," potong Manas. "Jadi mana list pesanan yang harus kami antar?".
Grain menyerahkan sebuah daftar dan peta. "Maaf, ini list-nya dan peta untuk kalian".
"perjalanan kalian memakan waktu kira-kira sehari penuh dan kalau kalian ingin cepat kalian bisa menaiki kereta beast dari Terminal Birendra menuju Terminal Gerbang Timur Bandriya ". Grain menambahkan bahwa ia sudah menyiapkan uang untuk itu.
Sarira menoleh pada Manas, "Baiklah Manas, menurut mu lebih baik kita jalan kaki atau naiki kereta beast?".
"Tentu saja kamu sudah tahu jawaban ku," balas Manas.
"Oke berarti sudah ditentukan ya, ayo kita berangkat sekarang" ujar Sarira.
"Kami pergi dulu ayah".
Grain berpesan kepada mereka "Ya kalian hati-hati dijalan". Tak lama kemudian, mereka tiba di Terminal Bandriya.
"Manas! Manas! Manas!" panggil Sarira. "Ada apa?" tanya Manas.
"Beast jenis apa itu?".
Penjual karcis menyahut, "Nona apa kamu baru pertama kali liat Drake?".
Sarira terheran, "Drake?". Manas menjelaskan, "Sejenis Land Dragon, Drake juga bisa digunakan untuk menarik Cart". Sarira terkejut, "Benarkah? Bukan biasanya kita menggunakan Equus atau Bubalus?".
Manas membenarkan, "Drake digunakan untuk mempersingkat waktu perjalanan karena lebih cepat dari Equus dan Bubalus".
"Lebih cepat Equus atau Bubalus? keren!!". Sarira terkesima
"Sayangnya, Drake tidak bisa mengangkut banyak barang seperti Equus dan Bubalus, dan penggunaannya sudah lumrah di kota-kota besar.".
"Apa kamu sudah pernah menaiki ini sebelumnya?" Sarira bertanya
"Aku tahu ini dari kakek, aku belum pernah menaiki atau melihatnya langsung.
Penjual karcis bertanya, "Tuan seperti kau menyukai Beast ya?".
"Tidak juga tapi mempelajari tentang mereka membuat ku tertarik," jawab Manas.
"Paman apa masih ada tiket Dragon Beast Cart untuk ke Ibukota?" tanya Manas.
"Kita akan naik itu ke Ibukota?" tanya Sarira.
"Ya, keliatan sekali kau sangat ingin menaikinya," balas Manas.
Sarira bersorak gembira dan memeluk Manas, "Benarkah!? Terima kasih banyak Manas".
"Lepaskan Sarira" pinta Manas yang wajahnya terlihat memerah.
"Dua tiket kereta naga harganya sepuluh koin silver Rah".
"Ini, Terima kasih," Manas membayar. "Ayo Sarira kita berangkat".
Manas mengulurkan tangannya untuk membantu Sarira naik ke kereta. "Terima kasih," ujar Sarira sambil menggapai tangan Manas.
Selama perjalanan, Sarira terlihat sangat senang karena ini adalah pertama kalinya ia naik kendaraan secepat itu.
Mereka tiba di pemberhentian dekat gerbang masuk pada malam hari.
"Akhirnya sampai juga, ternyata lebih cepat dari perkiraan," kata Sarira.
"ini berkat kita menaiki Dragon Beast Cart, ayo kita ke penginapan terminal perut ku sudah lapar," ajak Manas.
"Kamu memang bisa baca pikiran ku Manas, ayo kita makan malam," balas Sarira.
Mereka memasuki Rose Inn. "Ramai sekali," gumam Sarira.
"Kamu bisa cari tempat duduk dulu, aku ingin memesan kamar dulu buat kita," kata Manas.
Sarira setuju dan mencari tempat duduk, memilih yang dekat jendela.
Setelah mendapat tempat duduk, dua pengunjung tak dikenal menghampiri Sarira.
"Hei nona, wajahmu terlihat asing, apa kamu pertama kali datang ke ibukota?" tanya Berandalan 1.
"Tak baik Wanita muda pergi sendirian malam-malam disini," tambah Berandalan 2.
Sarira, yang biasanya mudah akrab, kini menunjukkan sikap sebaliknya. "Itu bukan urusan kalian," jawabnya ketus.
"Ou Galaknya nona ini, jangan galak-galak lah nanti kemanisan mu berkurang," goda Berandalan 1 mencoba memegang tangan Sarira. Sarira langsung menarik tangannya, "Jangan sentuh, pergi lah dari sini".
"Jangan lah galak-galak, ayo temani kami saja," ajak Berandalan 2 berusaha menarik paksa tangan Sarira.
Tindakan itu dihentikan oleh seorang perempuan muda tak dikenal. "Cukup sampai disitu kalian berandalan kurang ajar".
"SIAPA KAU HAH?!!!?" teriak Berandalan 1.
"Hanya Forest Ranger yang numpang lewat, yang akan memberikan kalian pelajaran saja" jawab gadis itu. "Jangan membuat kami tertawa pahlawan kesiangan". Ujar Berandalan 1, "Kalau aku tak bisa bersama nya, aku akan membuat orang lain tidak mau bersamanya, rasakan ini gadis muda akan ku buat wajah menjadi buruk rupa". Berandalan 1 itu mau memukul Sarira tapi
Perempuan itu meninju perut Berandalan 1 hingga pingsan. Berandalan 2 berusaha memukulnya, namun gadis itu berhasil mengelak dan melancarkan serangan balasan yang membuatnya pingsan juga.
Tak lama kemudian, Prajurit Pos datang karena ada laporan keributan.
"Ada keributan apa ini?" tanya Prajurit 1.
Gadis itu menjelaskan, "Aku hanya memberikan mereka pelajaran karena mereka memaksa gadis ini pergi bersama mereka saja".
"Kamu rupanya Vivy," kata Prajurit 1. Prajurit 2 menambahkan, "Senior mereka lagi yang bikin ulah padahal belum lama mereka bebas dari penjara karena kasus serupa".
Sarira dalam hati bergumam, "Jadi nama gadis ini Vivy, kuat sekali pukulannya karena dapat membuat pingsan orang dalam sekali pukul".
Prajurit 1 meminta maaf atas kelakuan para berandalan. Sarira hendak menjawab, "Tak apa untung tadi ada kak Vivy yang menolong ku tadi," kata Sarira.
Vivy meminta prajurit membawa para berandalan ke penjara dan menitipkan salam untuk Paman Harper. Prajurit 1 menyanggupi, lalu berpamitan.
Manas yang baru selesai memesan kamar dan mendengar keributan langsung panik menghampiri Sarira. "Sarira kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
"Aku tak apa," jawab Sarira.
Vivy bertanya, "Dan siapa gerangan pemuda ini?".
"Oh iya aku lupa mengenalkan diri, namaku Sarira dan ia adalah Manas teman perjalananku," ujar Sarira.
"Namaku Vivy seperti yang terlihat aku adalah Forest Ranger dari WI.ZO.RA," jelas Vivy.
"WI.ZO.RA?" tanya Manas.
Vivy menjelaskan, "Ya singkatan dari Wild Zone Ranger yang bertugas mengecek dan mengawasi keadaan hutan serta Beast yang ada disekitar Bandriya".
Vivy merasa sudah larut malam dan menyarankan mereka beristirahat.
"Kak Vivy habis ini mau kemana?" tanya Sarira.
"Aku lagi dapat shift patroli malam jadi aku mau berpatroli disekitar hutan bagian timur dan juga panggil saja Vivy, sepertinya kita seumuran," jawab Vivy.
"Baiklah, Vivy hati-hati dijalan," kata Sarira.
Vivy berpesan pada Manas, "Ya jaga diri kalian, Manas jangan sampai kamu melepas pandangan mu dari Sarira nanti ia akan didekati orang asing lagi".
"Tenang saja, aku akan mengawasi nya lebih baik lagi," janji Manas.
"Dah ya aku pergi dulu, sampai jumpa," Vivy berlalu.
Sarira kagum, "Vivy masih muda tapi bisa keterima di forest ranger dan juga sekuat itu ya".
Manas berkomentar, "Seperti nya pekerjaan itu membutuhkan tenaga yang besar".
Manas memberikan kunci kamar kepada Sarira. "Sudah ayo kita istirahat, ini kunci kamar mu".
"Kita tak jadi makan?" tanya Sarira.
"Perut ku sudah tidak lapar karena panik melihat keributan tadi". Ujar Manas
"Yaudah kita istirahat saja, aku juga sama. lapar ku juga sudah hilang karena tadi," setuju Sarira.
