Ficool

Chapter 7 - Ch.7 Rumah

Setelah mereka menyelesaikan misi nya, Manas dan Sarira berpamitan dengan Kapten Harper di Rumah perawatan prajurit Bandriya. Didalam kantor Kapten Harper terlihat banyak sekali tumpukan kertas-kertas seperti gunung, dan Kapten Harper terlihat sangat sibuk mengurus berkas-berkas laporan atas insiden waktu itu.

Sarira: "Kapten terlihat sangat sibuk, apa kami mengganggu?".

Kapten Harper: "Ya aku harus membuat laporan tentang keadaan kota sekarang, kalian ada perlu apa datang kembali kemari?".

Manas: " Kami hanya ingin pamitan, soalnya kami ingin kembali ke desa Birendra".

Kapten Harper: "Tugas kalian sudah selesai ya, Maaf ya aku tidak bisa mengantar kalian ke gerbang kerajaan". Sarira menggelengkan kepala

Sarira: "Tak apa Kapten, kami juga gak mau merepotkan kapten lagi". Kapten Harper terlihat memberikan senyuman tipis diwajahnya

Kapten Harper: "Begitu ya, hati-hati dijalan kalian".

Sarira: "Oh iya Kapten, apa kamu melihat Vivy? Aku mau berpamitan juga dengan nya".

Kapten Harper: "Mungkin sekarang ia sedang berpatroli di hutan, nanti kalau aku bertemu dengannya aku akan memberi tahu nya".

Sarira: "Terima kasih ya Kapten, kami berangkat dulu ya selamat tinggal kapten".

Mereka berjalan menuju gerbang, berapa kali pun Manas melihat Kerusakan yang terjadi di distrik timur pembelanjaan rasanya ia merasa ada yang mengganjal di dada nya dan selalu terbayang tentang mimpinya waktu itu.

Sarira: "Ada apa Manas? Wajah mu terlihat pucat".

Manas: "Aku hanya sedikit pusing mungkin akibat kekurangan darah".

Sarira: "Nanti kita naik Equus Cart saja supaya kamu bisa istirahat".

Manas: "Maaf membuat mu Khawatir Sarira". Mereka menyilangkan tangan dan melanjutkan perjalanan ke terminal Bandriya.

Sesampainya di terminal gerbang timur Bandriya, mereka memesan ticket dan menaiki Equus Cart. Didalam cart manas terlihat makin pucat akibat kelelahan fisik dan mental.

Manas: "Maaf Sarira aku tidur dulu ya, kalau mau sampai nanti bangun kan aku ya".

Sarira: "Istirahat lah, aku nanti bangunkan waktu kita sampai".

Manas menutup matanya dan tertidur lelap. Tanpa ia sadari kepala bersandar pada pundak Sarira.

Sarira: "Dasar kamu ini, beristirahatlah dengan nyenyak Manas".

Perjalanan mereka berjalan dengan lancar, waktu berjalan dengan tenang dan saking tenang nya membuat Sarira mengantuk dan mulai tertidur juga

Sehari telah berlalu, Sarira terbangun karena mendengar suara lolongan Canis Grey yang suara berasal dari dalam hutan. Sarira mengeluarkan kepalanya dan ia terpesona melihat kearah langit malam yang bertaburan bintang bagaikan glitter yang berhamburan. Ia ingin membangunkan Manas tapi ia mengurungkan niat karena melihat Manas yang masih terlelap dalam tidurnya, jadi ia hanya menikmati malam itu seorang diri dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.

Pagi hari telah tiba dan mereka sudah mau sampai ke terminal desa Birendra

Sarira: "Manas bangun, kita sudah mau sampai".

Manas: "Sudah sampai ya, berapa lama aku tertidur?".

Sarira: "Kamu tertidur seharian penuh, pundak ku hampir mati rasa karena tubuh berat mu". Sarira menggoda Manas

Manas: "Maaf saja kalau badan ku berat, ayo kita bersiap untuk turun". Mereka merapikan barang-barang dan turun dari Equus Cart kemudian mereka pergi ke rumah Sarira untuk melaporkan kepada Kepala Desa Grain kalau misi sudah selesai.

Sesampainya di rumah Sarira, Sarira mengetuk pintu rumahnya tapi tiada respon dari dalam. Sarira: "Mungkin ayah sedang keluar, kita tunggu didalam saja". Sarira mengambil kursi yang ada di taman depan dan meletakkannya didepan pintu untuk mengambil kunci cadangan yang berada diatas pintu. Saat pintu sudah terbuka mereka meletakan barang-barang mereka di area lorong pintu masuk kemudian menuju kearah dapur untuk minum dan beristirahat.

Manas: "Sarira aku mau ke toilet dulu ya sebentar, sekalian aku mau cuci muka".

Sarira: "Pakai saja".

Saat Manas ada di toilet, Sarira sibuk membuat cemilan untuk mereka berdua. Seluruh dapur diselimuti aroma manis dari kue kering dan aroma teh herbal yang menenangkan. Tak lama dari arah pintu terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang tiba-tiba berhenti sejenak dan kemudian mendadak mendekat dengan terburu-buru kearah mereka. Saat suara langkah nya semakin dekat tiba-tiba muncul Grain dalam keadaan panik karena khawatir terhadap kondisi mereka.

Grain: "Sarira apa kamu tak apa-apa? Kenapa kamu lama sekali disana?". Terlihat raut wajah Grain yang gelisah.

Sarira: Ada sedikit kendala disana, tapi kami tidak apa-apa kok".

Grain: "Lalu Manas dimana? Didepan ada barang nya tapi aku tak melihatnya, apa dia langsung pulang dan kelupaan barangnya?".

Sarira: "Dia ada di toilet lagi cuci muka".

Grain: "Oh begitu". Raut wajah Grain terlihat lebih tenang dari sebelumnya karena ia merasa lega kalau tidak terjadi apa-apa dengan putrinya.

Sarira: "Ayah mau cemilan sama teh? Biar sekalian aku buatkan".

Grain: "Boleh". Grain menarik kursi dan duduk di meja makan.

Manas sudah selesai dari toilet ia melihat Kepala Desa Grain sudah pulang dan berniat untuk menyapa nya.

Manas: "Paman sudah pulang". Grain menengok kearah Manas dan terkejut melihat kondisi nya

Grain: "Manas Apa yang terjadi pada mu?".

Manas melihat sekujur tubuhnya takut ada yang salah dengan dirinya dan ia baru menyadari kalau perban di tubuhnya belum dilepas

Manas: "Oh ini, ada sedikit kendala disana".

Grain: "Ini bukan sedikit lagi, tapi sudah hal serius!!. Sarira apa yang terjadi di sana? Cepat beritahu ayah!".

Sarira: "Ayah tenang lah, nanti suara mu memganggu tetangga. Iya akan aku beri tahu tapi kecil kan suara ayah".

Sarira: "Manas seperti nya berita itu belum tersebar sampe sini".

Manas: "Entah belum sampai atau memang ditutupi".

Grain: "Sebenarnya apa yang terjadi?".

Sarira menyediakan kue kering dan teh sambil ia menjelaskan semua yang terjadi dari awal mereka sampai di gerbang kerajaan, keributan di Rose inn dan terakhir insiden mengamuk nya MagicBeast yang menghabiskan waktu sejam penuh.

Grain: "Kamu benar-benar baik-baik saja Manas? Apa kamu bisa pulang sendiri".

Manas: "Aman, cuma terkadang masih suka pusing karena kurang darah saja".

Grain: "Lebih baik menginap saja disini, sudah larut malam ini aku khawatir dengan mu".

Sarira: "Iya lebih baik kamu menginap saja".

Manas: "Tak usah, kalau menginap disini aku malahan gak bisa tidur. Aku tidak bisa tidur di tempat orang lain".

Sarira: "Bukannya di penginapan kamu bisa tidur?".

Manas: "Aku bisa tidur karena tempat itu dibuka untuk umum".

Grain: "Terserah apa kata mu saja". Walaupun ia mengizinkan Manas untuk pulang sendiri, Grain tetap khawatir kalau terjadi apa-apa dengan nya waktu dijalan.

Grain: "Baiklah, kalian belum makan kan? Kita makan diluar saja yuk".

Sarira: "Asik, kita mau makan apa yah?".

Grain: "Kita makan daging dan hati saja gimana? Hitung-hitung sekalian buat penambah darahnya Manas".

Manas: "Paman yang traktir ya?".

Grain: "Aman, asal jangan terlalu banyak saja, paling banyak 50 koin perunggu Rah saja dan itu berlaku untuk mu juga Sarira".

Sarira: "He... Kenapa?" Sarira langsung lesu karena mendengar batasan yang diberikan ayahnya.

Grain: "Karena ini akhir bulan, uang ayah sudah menipis ha... ha... ha...". Grain mengucapkan nya dengan amat lantang dicampur gelak tawa yang menggema didalam dapur

Manas: "Itu bukan Hal yang untuk ditertawakan". Manas membalas lolucon Grain dengan nada heran

Grain: "Udah jangan dipikirkan, ayo kita makan". Grain merangkul Manas dan Sarira sambil menyeret mereka keluar bersama

Di bawah lampu-lampu pasar malam yang berkilauan, tawa mereka bercampur dengan hiruk-pikuk para pedagang dan aroma makanan hangat. Untuk sesaat, Manas melupakan rasa berat di dadanya. Malam itu terasa sederhana namun justru itulah yang membuatnya begitu berharga.

More Chapters