Ficool

Chapter 2 - Ch.2 (Misi Pertama)

Di pagi hari yang cerah, Sarira mengetuk pintu rumah Manas. "Manas kamu sudah bangun?".

"Tunggu sebentar, aku lagi berberes," sahut Manas dari dalam.

"Jangan lama" balas Sarira.

Setelah Manas selesai berberes, Sarira mengajaknya berangkat. "Ayo kita berangkat, Ayah ku sudah menunggu".

"Ayah mu? Memangnya ada keperluan apa?" tanya Manas. Manas mengunci pintu rumahnya sambil berkata, "Semoga bukan hal yang merepotkan".

Dalam perjalanan, Manas bertanya pada Sarira, "Sarira apa aku boleh bertanya sesuatu?". Sarira hanya menjawab dengan tatapan bertanya.

"kenapa kamu selalu mengajak ku saat kamu ingin melakukan sesuatu? Dan apa kamu tak punya orang lain yang bisa kamu ajak?" tanya Manas.

Sarira membalas dengan pertanyaan, "Kenapa ya?... Kamu juga tidak ada yang kegiatan lain kan? Jadi tidak ada masalah kalau aku mengajak mu kan?".

Sarira melanjutkan, "Tentu saja punya teman lainnya, aku ini bukan orang yang kesehariannya mengurung diri dirumah seperti mu tapi ya tidak ada yang mau aku ajak pergi bersama".

Manas menyimpulkan, "Jadi bagimu ini aku hanya pilihan terakhir yang tersisa?".

"Bukan begitu, tapi aku hanya tidak ingin selalu bergantung padamu," jelas Sarira.

Manas merasa bingung. "kalau kamu mengajak bepergian disekitar desa mungkin aku bisa menerima nya tapi kenapa kamu tiba-tiba mengajakku bertualang bersama mu padahal tadi kamu bilang sendiri kalau kamu tidak ingin selalu bergantung padaku? Padahal kamu tahu aku tidak suka melakukan hal-hal yang merepotkan.

Sarira mencoba merayunya. "Apa kamu tidak khawatir teman baik mu yang imut ini kenapa-napa dijalan?".

Manas membalas, "Apa kamu mendengar ingin jawaban jujur ku tentang pertanyaanmu tadi?".

"Tidak usah, yang keluar dari mulut mu pasti hanya hal-hal buruk" potong Sarira.

Sarira mengalihkan pembicaraan. "Sudah jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting dan sekarang giliranmu menjawab pertanyaan aku". Manas hanya memberikan isyarat tanya.

"Kenapa kamu tiba-tiba setuju untuk ikut pergi bersama ku? Padahal pas kemaren kau selalu berusaha ingin kabur" tuntut Sarira.

"Itu karena aku dipaksa oleh ayahmu".

"Ayahku? Kapan?" tanya Sarira setelah mendengar jawaban dari Manas.

"Kemarin pas diatas panggung," kata Manas. Ia menjelaskan bahwa Ayah Sarira ingin ia menjaga Sarira karena khawatir jika pergi sendirian.

Sarira bergumam dalam hati, "Lagi-lagi ayah memperlakukan ku seperti anak kecil". Namun, ia menyimpulkan, "Tapi kali ini aku akan memaafkannya kalau ayah tidak bilang begitu mungkin aku tidak bisa mengajak Manas pergi bersamaku".

Manas melihat keheningan Sarira. "Ada apa?".

Sarira menggelengkan kepala, "Tidak ada, ayo cepat ayah ku sudah menunggu".

Mereka pun tiba di Rumah Sarira.

"Ayah, aku sudah menjemput Manas," lapor Sarira.

"Pagi," sapa Manas.

Grain, Ayah Sarira (yang juga kepala desa), menyambutnya, "Oh pagi Manas, ku kira kau bakal kesiangan".

"Kenapa kamu berpikir kalau aku tak bisa bangun pagi?" keluh Manas.

Grain dan Sarira saling bertatapan dan berkata serempak, "Bukan nya memang begitu?".

"Ayah dan anak ini memang kompak saat mengejek orang lain," ujar Manas dengan nada kesal.

"Jadi ada perlu apa pak kepala desa yang terhormat manggil ku kemari? Aku dipanggil bukan cuma hanya untuk diejek kan," tanya Manas.

Grain tertawa. "Itu salah satunya sih tapi aku memang ingin kalian mengantar daftar bahan pasokan pangan desa untuk musim dingin nanti ke ibukota Bandriya," jelasnya.

"Sudah mau musim dingin ya, kemana aku harus mengantar surat ini?" tanya Manas.

"Kalian cukup mengantarkannya ke Guild Pedagang, nanti ada yang mengantarkannya sebelum musim dingin tiba," instruksi Grain.

Manas memastikan masalah biaya. "Ini ada ongkos jalannya kan? Walaupun ini untuk keperluan desa tetap saja memerlukan uang untuk pergi kesananya".

"Tenang saja, aku sudah menyiapkan uang serta perbekalan yang cukup untuk perjalanan kalian pulang pergi, gimana kamu mau membantu kami?" tanya Grain.

Manas yang sudah tahu kalau ia tidak bisa menolak nya, akhirnya menerima. "Kalau pun aku menolak pasti kalian tetap akan memaksaku kan? Jadi mau tak mau aku harus menerimanya'.

"Berarti kita sepakat ya? Siang nanti kalian bisa datang kembali kemari setelah persiapannya selesai" tutup Grain.

"Jadi sambil menunggu persiapan selesai, enaknya kita ngapain?".

Manas menjawab, "Aku ingin pergi dulu ke Kakek Ramon di peternakan sekalian pamitan dengannya".

"Oke kita berangkat sekarang," kata Sarira.

Grain berpesan, "Hati-hati dijalan sekalian titip salam ku padanya".

Mereka tiba di Peternakan Kakek Ramon. Tercium aroma khas peternakan bau tanah basah, kotoran beast, jerami basah, dan kayu gelondongan basah.

"Selamat pagi, Kakek," sapa Manas dan Sarira.

"Selamat pagi, Aaric," sapa Manas kepada seekor Beast anjing yang langsung menerjang riang dan menjilati wajahnya. Manas tertawa, "Aaric berhenti, ini geli".

Ramon heran melihat mereka berdua datang. "Tumben kamu datang pagi-pagi bersama Sarira kesini".

"Tidak ada, aku hanya mau pamitan pergi ke Bandriya," jawab Manas.

"Ada keperluan apa kalian pergi kesana?" tanya Ramon.

Manas menjelaskan, "Kami disuruh untuk mengantar daftar pesanan bahan pangan musim dingin desa ke guild pedagang".

Ramon bergumam, "Langsung mendapat misi penting pada hari pertama ya".

"Manas, kenapa tiba-tiba kamu ingin bertualang?" tanya Ramon lagi.

"Tentu saja karena terpaksa, Sarira yang menyeretku dan ayahnya juga menyuruhku menjaganya," jawab Manas, yang langsung mendapat seruan kesal dari Sarira, "Hei!!!".

"Ayo kalian ikut aku," ajak Ramon.

Di dalam Rumah Ramon, Kakek Ramon mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kain putih lusuh dari lemarinya.

Ia membuka bungkus kain putih dan meletakkan isi yang berupa sebuah pedang di atas meja, logamnya berkilau samar diterpa cahaya pagi. "Ini warisan ayahmu," katanya dengan suara berat.

"Pedang? Pedang terlihat tua, tapi terawat baik," ujar Manas.

Manas menyentuh gagang pedang itu,

"Apa Kakek merawatnya selama ini?" tanyanya.

"Tentu saja karena ini adalah sisa kenangan tentang ayahmu" jawab Ramon.

Manas berjalan menuju cermin untuk melihat penampilannya. Ramon menunduk, dan ia cepat-cepat mengusap air mata yang jatuh.

"Kakek baik-baik saja?" tanya Sarira.

"Maaf..." kata Ramon. "Kamu mirip ayahmu, Manas," tambahnya dengan senyuman.

"Sangat cocok dengan mu Manas, Kakek mu sendiri yang bilang kamu mirip ayahmu," timpal Sarira.

Selain pedang, Ramon juga memberikan sejumlah uang. "Selain senjata itu, terimalah uang ini".

Manas yang merasa uang itu terlalu banyak menolak, "Ini terbanyak Kek, aku tidak bisa menerima uang sebanyak ini,".

"Tidak apa-apa, aku sudah menyiapkan uang ini sejak awal untuk langkah pertamamu saat akan mulai hidup mandiri," jelas Ramon. "Kamu bebas menggunakannya sesukamu," tambahnya.

"Kalau begitu, terima kasih Kek," Manas menerima.

Ramon berpesan, "Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa mampir sesekali selama perjalananmu."

"Baiklah, selamat tinggal kakek," pamit Manas.

"Ayo cepat, Ayah sudah menunggu," ajak Sarira.

Setelah meninggalkan peternakan, Sarira bertanya, "Manas, sekarang, apa yang kamu ingin lakukan setelah menyelesaikan misi ini?".

"Tidak ada, kamu tahu sendiri kalau aku bertualang karena hanya dipaksa oleh mu," jawab Manas.

Sarira berkata, "Ya, aku juga tidak berpikir apa yang ingin kucapai, yang kuinginkan saat ini hanyalah melihat dunia luar dan mengunjungi banyak tempat indah yang memiliki banyak makanan lezat".

"Kamu benar-benar tidak bisa jauh dari makanan, ya?" komentar Manas. "Baiklah, aku akan menemanimu selama aku bisa," putusnya.

Sarira berterima kasih, "Terima kasih sudah mau menuruti keinginan egoisku".

"Tidak masalah," balas Manas.

More Chapters