Di luar aula Istana Urco Tastarius...
Langkah Tyrannos berhenti.
Rea yang mengejarnya juga berhenti beberapa meter di belakang.
"Tyrannos..."
Tyrannos menundukkan kepala.
Tangannya mengepal.
Kemudian—
SRAK!
Pedangnya terhunus.
Aura kuat langsung menyelimuti tubuhnya.
Para prajurit Kekaisaran yang berada di sekitar halaman langsung membeku.
Tyrannos mengangkat pedangnya ke langit.
"AAAAARGH!"
SWOOOSH!
Satu tebasan dilepaskan.
Langit di atas istana seolah terbelah oleh kekuatan pedangnya.
Awan yang mengelilingi area tersebut tersibak.
Gelombang energi melesat jauh ke angkasa.
Para prajurit hanya bisa menatap dalam diam.
Tidak seorang pun berani mendekat.
Rea mencoba melangkah maju.
Namun tekanan aura Tyrannos membuatnya berhenti.
"Tyrannos!"
"Aku..."
Suara Tyrannos bergetar karena emosi.
"...aku melakukan semua ini karena satu alasan!"
Ia menatap langit.
"Selama ini aku memberontak kepada Kekaisaran..."
Pedangnya bergetar di tangannya.
"...karena aku tidak bisa menerima Yllarxa bersama ayahanda!"
Rea terdiam.
Tyrannos menurunkan pedangnya.
"Aku pikir kalau aku terus melawan..."
"Aku bisa mengubah semuanya."
Ia tertawa getir.
"Tapi lihat hasilnya."
Ia menatap kembali ke arah istana.
"Yllarxa tetap memilihnya."
"Ayahanda tetap menjadi Kaisar."
"Dan aku..."
Tyrannos mengepalkan tangan.
"...tetap tidak bisa mencegah apa pun."
Rea menatapnya dengan sedih.
Tyrannos kemudian mengangkat pedangnya lagi.
Di depan halaman berdiri sebuah patung raksasa yang dibuat untuk mengenang para leluhur galaksi.
Tyrannos mengarahkan pedangnya ke sana.
"Kalau begitu..."
"Aku akan menghancurkan—"
Namun sebelum tebasan itu dilepaskan...
Tubuh Tyrannos tiba-tiba kehilangan tenaga.
Pedangnya terlepas dari tangannya.
Bruk!
Ia jatuh ke tanah.
"Tyrannos!"
Rea segera berlari mendekat dan menopang tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?"
Tyrannos mencoba berdiri.
Namun tubuhnya masih terlalu lelah setelah pertempuran sebelumnya dan ledakan emosinya.
Di kejauhan...
Dua sosok berjalan menuju aula.
Storm.
Dan Napstylea.
Aryes serta anggota X.A.R.A. lainnya sudah lebih dahulu kembali ke dalam istana.
Storm berhenti ketika melihat Tyrannos.
Tatapannya datar.
Ia melihat pedang yang tergeletak di tanah.
Kemudian melihat patung besar di hadapan Tyrannos.
Storm berkata singkat,
"Kalau kau kehilangan kendali..."
Ia menatap Tyrannos.
"...aku akan menghentikanmu."
Tyrannos perlahan bangkit.
Matanya menatap Storm.
"Jangan ikut campur."
Storm tidak bergerak.
Tyrannos mengambil kembali pedangnya.
"Kalau kau ingin menghentikanku..."
Ia mencoba melangkah.
"Ayo."
Namun baru beberapa langkah—
Bruk!
Tyrannos kembali jatuh.
Tubuhnya tidak mampu mengikuti kemarahannya.
Storm akhirnya bergerak.
Aura Ashura keluar dari tubuhnya.
Tekanan energi langsung memenuhi area tersebut.
Tyrannos mencoba mengangkat kepalanya.
Namun tubuhnya terasa berat.
Sangat berat.
Ia bahkan sulit bergerak.
Storm berjalan mendekatinya.
Tidak ada serangan.
Tidak ada tebasan.
Hanya tekanan aura yang membuat Tyrannos tidak mampu berdiri.
Tyrannos mengertakkan giginya.
"Ini..."
Ia mencoba mengangkat tubuhnya.
Tidak berhasil.
Storm kemudian melewatinya.
Napstylea mengikuti dari belakang.
Sebelum pergi, ia berhenti sebentar di depan Rea.
"Tenangkan dia."
Rea mengangguk.
"Aku akan mencoba."
Napstylea kemudian menyusul Storm.
Tyrannos masih berada di tanah.
Ia menatap punggung Storm.
Tidak mungkin...
Ia pernah melihat kekuatan Storm di Gamma Draconis.
Namun sekarang...
Storm bahkan tidak perlu mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Hanya auranya saja sudah cukup membuat Tyrannos tidak mampu berdiri.
Tyrannos mengertakkan gigi.
Seberapa kuat sebenarnya dia...?
Ia kemudian mengingat pertempuran mereka sebelumnya.
Storm yang menghadapi naga.
Storm yang melampaui batas manusia.
Storm yang bahkan berani mengatakan akan mengalahkan Xelkor.
Tyrannos akhirnya mengembuskan napas panjang.
Melawan Storm sekarang...
Percuma.
Ia menutup matanya.
Pikirannya kembali kepada Yllarxa.
Senyumnya.
Sikapnya.
Semua kenangan yang selama ini membuatnya terus memberontak.
Tyrannos membuka mata.
Perlahan, amarahnya mereda.
Ia masih merasa sakit.
Namun kali ini...
Ia mulai memahami kenyataan.
Yllarxa telah memilih jalannya.
Dan dirinya juga harus memilih jalannya sendiri.
Tyrannos mengambil pedangnya dan berdiri perlahan dengan bantuan Rea.
"Rea..."
"Ya?"
Tyrannos menatap istana dari kejauhan.
"Aku akan menerimanya."
Rea terdiam.
Tyrannos menarik napas.
"Aku tidak bisa terus melawan kenyataan."
Ia kemudian berjalan perlahan.
Untuk pertama kalinya...
Tyrannos tidak lagi berjalan sebagai seorang pemberontak yang ingin mengubah masa lalu.
Ia berjalan sebagai seorang pangeran yang mulai menerima masa depannya.
