Ficool

Chapter 880 - Pilihan Sang Kaisar

Aula Istana Urco Tastarius yang sebelumnya dipenuhi suara kemenangan...

Mendadak menjadi hening.

Oreons mengangkat satu tangannya.

"Diam."

Seketika seluruh suara berhenti.

Para prajurit menundukkan kepala.

Para pejabat berhenti berbicara.

Maxtis yang biasanya tidak terlalu peduli terhadap suasana politik ikut memperhatikan.

Oreons kemudian menoleh ke samping.

"Yllarxa."

Gadis itu sedikit terkejut.

"Yang Mulia?"

"Majulah."

Yllarxa ragu.

Ia menatap Oreons beberapa saat.

Kemudian perlahan melangkah maju.

Rangers yang berdiri tidak jauh dari sana justru tersenyum kecil.

Ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

Yllarxa berhenti di hadapan Oreons.

Tyrannos memperhatikannya.

Namun tatapan pangeran itu berbeda.

Ada kesedihan yang tidak bisa disembunyikan.

Rea yang berdiri di belakangnya menyadarinya.

Ia memandang Tyrannos dalam diam.

Jadi begini perasaanmu...

Oreons kemudian berdiri dari singgasananya.

Ia memandang Yllarxa.

"Yllarxa."

"Ya, Yang Mulia."

"Aku sudah lama memikirkan hal ini."

Yllarxa semakin bingung.

Oreons kemudian berkata,

"Aku ingin kau menjadi istriku."

Aula membeku.

Tidak ada suara.

Tidak ada yang langsung bereaksi.

Tyrannos menatap ayahnya.

Kemudian pandangannya kembali kepada Yllarxa.

Oreons melanjutkan,

"Dan menjadi ibu bagi Tyrannos."

Yllarxa terdiam.

Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Selama ini...

Dirinya hanyalah seorang pelayan di istana.

Memang, Oreons memperlakukannya secara berbeda.

Ia memberinya tempat di sisi Kekaisaran.

Ia bahkan mempercayainya lebih daripada banyak pejabat lain.

Namun menjadi permaisuri?

Menjadi bagian dari keluarga Kekaisaran?

Itu adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya.

Yllarxa menundukkan wajah.

"Yang Mulia..."

Suaranya pelan.

"Aku..."

Ia tidak mampu melanjutkan.

Tyrannos mengepalkan tangannya.

Rea kembali melihatnya.

Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang ditahan oleh Tyrannos.

Bukan kemarahan.

Bukan penolakan terhadap Oreons.

Melainkan rasa kehilangan.

Yllarxa kemudian menoleh ke samping.

Tatapannya bertemu dengan Rangers.

Kakaknya berdiri dengan tenang.

Rangers mengangguk.

Senyum kecil terlihat di wajahnya.

Ia tidak memaksa.

Hanya memberikan dukungan.

Sebagai kakak, ia tahu Yllarxa telah menemukan seseorang yang benar-benar menyayanginya.

Dan bagi Rangers...

Melihat adiknya mendapatkan tempat yang aman di sisi Kaisar adalah sesuatu yang membuatnya lega.

Yllarxa menarik napas.

Kemudian kembali menghadap Oreons.

"Jika itu memang keinginan Yang Mulia..."

Ia berhenti sebentar.

"...aku menerimanya."

Oreons tersenyum.

"Yllarxa."

Ia mengambil sebuah cincin.

Kemudian memasangkannya pada jari Yllarxa.

Sorakan langsung memenuhi aula.

"HIDUP KAISAR!"

"SELAMAT!"

Tepuk tangan menggema.

Para prajurit ikut memberi hormat.

Para pejabat tersenyum.

Beberapa bahkan mulai membicarakan persiapan pernikahan.

Namun...

Tyrannos tidak ikut merayakan.

Ia hanya berdiri.

Menatap Yllarxa.

Gadis yang selama ini berada dalam hatinya.

Gadis yang dulu ingin ia lindungi.

Kini akan menjadi bagian dari keluarganya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Ibunya.

Tyrannos menundukkan kepala.

Kemudian berbalik.

Ia berjalan meninggalkan aula.

Rea langsung menyadarinya.

"Tyrannos!"

Ia segera mengejarnya.

Astralon tetap berdiri di tempat.

Tatapannya mengikuti mereka hingga menghilang di balik pintu.

Di dalam aula...

Rangers masih memperhatikan pintu yang baru saja dilewati Tyrannos.

Ia mengetahui semuanya.

Sejak lama.

Ia tahu perasaan Tyrannos kepada Yllarxa.

Namun Rangers juga mengetahui sesuatu yang lain.

Oreons dan Yllarxa saling mencintai.

Ia tidak mungkin memisahkan mereka hanya demi perasaan Tyrannos.

Keadaan ini memang rumit.

Sebagai kakak, Rangers hanya bisa berharap Tyrannos menerima kenyataan tersebut.

Namun ada satu hal yang membuatnya khawatir.

Tyrannos terlalu sibuk memikirkan apa yang telah hilang darinya.

Ia tidak menyadari seseorang yang selalu berada di sisinya.

Rea.

Rangers menatap ke arah pintu.

"Dia bahkan tidak menyadarinya..."

Rea selalu mengikuti Tyrannos.

Mendukungnya.

Berada di sisinya ketika keadaan menjadi sulit.

Namun Tyrannos seolah tidak pernah benar-benar melihat perasaan itu.

Rangers menghela napas.

Mungkin suatu hari dia akan mengerti.

Ia kemudian menatap Yllarxa.

Adiknya kini berdiri di samping Oreons.

Rangers tersenyum tipis.

"Setiap orang memiliki jalan mereka sendiri."

Ia tahu...

Tyrannos harus menerima pilihan Yllarxa.

Dan mungkin, setelah semua yang terjadi...

Tyrannos juga harus mulai melihat ke arah lain.

Karena ada seseorang yang sejak lama berjalan bersamanya.

Seseorang yang mungkin selama ini tidak pernah benar-benar ia sadari.

Rea.

Sementara di luar aula...

Langkah Tyrannos terus menjauh.

Rea berusaha mengejarnya.

"Tyrannos, tunggu!"

Namun Tyrannos tidak berhenti.

Pangeran itu benar-benar ingin sendirian.

More Chapters