Ficool

Chapter 882 - Dua Kekuatan dari Luar Galaksi

Aula utama Istana Urco Tastarius kembali dipenuhi suasana meriah.

Oreons duduk di atas singgasananya dengan senyum yang jarang terlihat.

Di sampingnya, Yllarxa berdiri dalam diam.

Meski masih sedikit canggung dengan semua yang baru saja terjadi, hatinya terasa bahagia.

Rangers berdiri di dekatnya.

Ia kemudian menepuk bahu Yllarxa dengan ringan.

"Selamat."

Yllarxa tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Untuk sesaat...

Semuanya terasa damai.

Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Pintu aula kembali terbuka.

GRAAAK...

Semua kepala langsung menoleh.

Storm memasuki aula.

Napstylea berjalan di sampingnya.

Beberapa langkah di belakang mereka...

Tyrannos dan Rea ikut masuk.

Storm tetap menunjukkan wajah datar.

Tidak ada senyum.

Tidak ada ekspresi berlebihan.

Napstylea sesekali meliriknya.

Sebenarnya ia ingin meraih lengan Storm.

Namun ia mengurungkan niatnya.

Ia tahu Storm masih membutuhkan waktu.

Tidak masalah.

Baginya, bisa berjalan di sisi Storm saja sudah cukup.

Napstylea tersenyum kecil.

Aku akan menunggu.

Sementara itu...

Tyrannos berdiri beberapa meter di belakang mereka.

Rea tetap berada di belakangnya seperti biasa.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Namun kehadirannya selalu ada.

Tyrannos kemudian maju.

Langkahnya berhenti di hadapan Oreons dan Yllarxa.

Ia menundukkan kepala.

"Selamat."

Oreons tersenyum.

Tyrannos melanjutkan.

"Selamat atas pertunangan kalian."

Kemudian ia menatap Yllarxa.

Ada sedikit rasa berat dalam tatapannya.

Namun kali ini tidak ada penolakan.

"Ibunda."

Aula langsung hening sesaat.

Yllarxa membeku.

Oreons tersenyum lebar.

Rangers mengangkat alis sedikit.

Rea menatap Tyrannos dengan tenang.

Tyrannos kembali menundukkan kepalanya.

"Semoga kalian bahagia."

Oreons terlihat sangat senang.

Ia turun dari singgasana dan mendekati putranya.

"Tyrannos..."

Ia menepuk bahunya.

"Akhirnya kau mengerti."

Tyrannos mengangkat wajah.

Oreons tersenyum.

"Kau telah tumbuh dewasa."

"Dulu kau selalu bertindak berdasarkan ambisimu sendiri."

"Tapi sekarang kau mampu menerima keputusan orang lain."

Tyrannos menundukkan kepala.

"Aku menyesal."

Oreons terdiam.

"Aku memberontak terlalu lama."

Tyrannos mengepalkan tangannya.

"Aku terlalu memikirkan apa yang kuinginkan."

Ia melirik Yllarxa.

"Aku tidak memikirkan bahwa dia juga memiliki hak untuk menentukan kehidupannya sendiri."

Yllarxa terdiam.

Kemudian tersenyum.

Ia mengangguk pelan.

"Tyrannos..."

Rangers tersenyum kecil.

Ia sudah menduga hal ini.

Tyrannos mungkin pernah memiliki perasaan kepada Yllarxa.

Namun hubungan itu memang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Kini Tyrannos mulai menerimanya.

Yllarxa sendiri terlihat lega.

Bukan hanya karena Tyrannos berhenti memberontak.

Namun karena untuk pertama kalinya...

Ia merasa Tyrannos benar-benar menerimanya sebagai bagian dari keluarganya.

Tyrannos kembali berdiri.

Wajahnya masih menyimpan penyesalan.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak lagi sendirian.

Ia memiliki ayah.

Ia memiliki seseorang yang kini ia panggil ibu.

Dan di belakangnya...

Ada Rea yang tidak pernah meninggalkannya.

Untuk sesaat...

Aula terasa hangat.

Tidak ada perang.

Tidak ada pemberontakan.

Tidak ada ancaman.

Semua orang hanya menikmati momen itu.

Namun...

Storm tiba-tiba berhenti bergerak.

Tatapannya berubah.

Napstylea memperhatikannya.

"Storm?"

Storm tidak menjawab.

Ia menatap ke arah langit-langit aula.

Kemudian ke arah jendela besar.

Ada sesuatu yang ia rasakan.

Dua energi.

Dua kekuatan besar.

Sedang bergerak menuju Urco Tastarius.

Dan keduanya...

Bukan berasal dari planet ini.

Bahkan bukan dari wilayah galaksi yang sama.

Storm berkata datar,

"Ada sesuatu yang datang."

Suasana langsung berubah.

Rangers berdiri tegak.

Maxtis menghentikan senyumnya.

Rhythm yang sebelumnya terlihat santai langsung bangkit.

Thraxor meraih gagang pedangnya.

Keempat jenderal tersebut saling memandang.

Mereka semua memiliki pengalaman menghadapi berbagai jenis lawan.

Mereka tahu bagaimana rasanya ketika aura seorang musuh mendekati medan perang.

Namun kali ini berbeda.

Rangers menatap langit.

"Ini bukan aura dari pasukan Kekaisaran."

Rhythm menyipitkan mata.

"Juga bukan armada Tartanos."

Thraxor menggenggam gagang pedangnya.

"Aku merasakannya."

Maxtis tersenyum tipis.

"Menarik..."

Tyrannos ikut menatap ke atas.

"Apa mereka dari galaksi lain?"

Storm menjawab,

"Bukan hanya galaksi lain."

Semua orang terdiam.

Storm melanjutkan.

"Aku merasakan dua kekuatan."

"Mereka datang dari luar wilayah yang kita kenal."

Rangers langsung memberikan perintah.

"Prajurit!"

Para penjaga bergerak.

Formasi pertahanan mulai dibentuk.

Alarm istana terdengar.

WOOOONNNG!

Seluruh Urco Tastarius mulai bersiaga.

Kapal-kapal Kekaisaran yang berada di orbit segera mengubah formasi.

Armada Tartanos ikut bergerak.

X.A.R.A. juga mulai mempersiapkan Nexus dan Ginga Stars.

Di dalam aula...

Oreons berdiri dari singgasananya.

Senyum yang tadi menghiasi wajahnya telah menghilang.

Ia menatap langit melalui jendela raksasa.

"Siapa yang datang?"

Storm tidak menjawab.

Ia hanya menatap jauh ke luar.

Dua energi semakin dekat.

Sangat dekat.

Seluruh kekuatan besar yang berkumpul di Urco Tastarius harus kembali bersiap menghadapi sesuatu yang belum mereka kenal.

Namun Storm sudah mengetahui satu hal.

Dua sosok itu...

bukan berasal dari Bima Sakti.

More Chapters