Dentuman keras mengguncang medan perang. Tubuh Tyrannons melesat tak terkendali setelah dihantam serangan ekor Nyxdess.
*BOOOM! *
Ia menghantam salah satu kapal utama armada Tartanos hingga lambung kapal penyok dan dipenuhi retakan. Beberapa prajurit segera berlarian mengamankan bagian yang rusak. "Asisten medis, cepat!"
Namun sebelum mereka sempat mendekat, sesosok gadis telah lebih dulu berlari. Rea. Wajahnya dipenuhi kecemasan saat melihat Tyrannons masih terbaring di antara puing-puing logam. "Tyrannons!" Rea berlutut di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka parah?"
Tyrannons membuka matanya perlahan. Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya, tetapi tatapannya masih setajam sebelumnya. "Aku tidak apa-apa." Jawabannya singkat.
Rea menggenggam lengannya. "Jangan memaksakan diri. Naga itu terlalu kuat. Kau tidak perlu menghadapi semuanya sendirian."
Tyrannons hanya terdiam beberapa detik. Ia memahami kekhawatiran Rea. Namun, ia juga mengetahui satu hal. Tidak ada jalan mundur baginya. Ia berdiri perlahan sambil mengambil kembali pedangnya yang sempat terlepas.
"Rea." Suara Tyrannons terdengar tenang. "Jangan ikut dalam pertarungan ini."
Rea menatapnya. "Tapi—"
"Ini terlalu berbahaya. Aku tidak ingin kau terluka."
Rea menggigit bibirnya pelan. Ia ingin membantunya. Ingin bertarung bersama pemimpin yang selama ini ia ikuti. Namun jauh di dalam hatinya... Ia sadar. Ia tidak akan mampu menghentikan keputusan Tyrannons.
Tyrannons mengangkat pedangnya. Tatapannya kembali mengarah ke ruang angkasa. Di kejauhan... Nyxdess masih melayang dengan tenang. Wanita naga itu menatap Tyrannons sambil memperlihatkan senyum tipis, seolah yakin lawannya akan kembali datang.
Tyrannons mengembuskan napas pelan. "Lawan seperti itu... Justru membuatku semakin ingin menang."
Tanpa menunggu lebih lama... *WHOOSHH!! * Tubuhnya kembali melesat menembus ruang angkasa. Kecepatannya membelah puing-puing asteroid yang masih berhamburan akibat perang.
Rea hanya mampu menatap dari atas kapal. Tangannya mengepal erat. "Jangan sampai kalah..." bisiknya lirih.
Di hadapan Tyrannons... Nyxdess menyambutnya dengan senyum anggun. "Aku sudah tahu... Pada akhirnya kau akan kembali."
Tyrannons mengangkat pedangnya. Tatapannya dipenuhi tekad. "Aku belum kalah. Selama aku masih bisa berdiri... Selama pedang ini masih bisa kuayunkan... Aku akan terus bertarung." Seketika... Aura pemberontak itu kembali meledak memenuhi ruang hampa.
Nyxdess tersenyum tipis. "Kalau begitu... Tunjukkan padaku seberapa jauh tekadmu mampu membawamu."
Dalam sekejap, keduanya kembali melesat. Pedang dan cakar kembali bertemu, memulai ronde baru pertarungan sengit di tengah kobaran perang Konstelasi Draco.
