Ficool

Chapter 745 - Duel di Langit Aquila

Konstelasi Aquila kembali diliputi ketegangan. Langit kosmik yang biasanya tenang kini dipenuhi gelombang energi yang saling bertabrakan. Ledakan demi ledakan muncul di kejauhan. Menerangi wilayah angkasa seperti kilatan petir raksasa.

Di salah satu menara utama Aquila. Crimgard terbaring lemah. Tubuhnya dipenuhi luka. Perban energi membungkus sebagian besar tubuhnya. Meski luka-lukanya tidak mengancam nyawa, kondisi fisiknya masih jauh dari pulih.

Di sampingnya. Seleneva memeluknya dengan cemas. Kedua tangannya memancarkan cahaya penyembuhan yang lembut. Energi suci mengalir perlahan ke tubuh Crimgard. Namun hasilnya tidak terlalu baik. Luka-luka itu hanya sedikit membaik. Sisanya tetap bertahan seolah menolak untuk disembuhkan.

Seleneva menggigit bibirnya. "Kenapa tidak berhasil..." gumamnya pelan.

Crimgard tersenyum lemah. "Kau sudah berusaha. Tidak perlu memaksakan diri."

Seleneva tetap terlihat khawatir. Ia tidak suka melihat Crimgard dalam kondisi seperti itu. Terutama setelah semua yang terjadi di Aquila.

---

Tiba-tiba. Perhatian Seleneva teralihkan ke langit. Dua cahaya besar bergerak sangat cepat. Begitu cepat hingga hampir tidak bisa diikuti mata biasa.

*BOOOOMMM! *

Ledakan besar mengguncang ruang angkasa. Gelombang kejutnya bahkan terasa sampai ke permukaan beberapa planet kecil di Aquila. Seleneva langsung mengenali keduanya. Thraxor. Dan Asgard. Duel mereka masih berlangsung. Bahkan semakin sengit.

Di atas langit kosmik. Pedang raksasa milik Thraxor kembali diayunkan.

*SWOOOOSH! *

Satu tebasan saja menciptakan gelombang energi yang membelah kehampaan. Beberapa kapal armada Aquila yang berada terlalu dekat langsung hancur berkeping-keping. Ledakan cahaya memenuhi angkasa.

Perhatian Thraxor sama sekali tidak tertuju pada armada-armada itu. Matanya hanya tertuju pada satu lawan. Asgard. Sang legenda Aquila.

*CLAAANG! *

Asgard menahan tebasan berikutnya. Tubuh armor kunonya bergetar hebat. Tapi ia tetap berdiri. Tetap bertahan. Meski tekanan yang diberikan Thraxor jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

Di bawah sana. Banyak petinggi Aquila hanya bisa menyaksikan. Mereka bahkan tidak berani mendekat. Satu kesalahan saja bisa membuat mereka ikut musnah dalam pertarungan itu.

---

Seleneva mengepalkan tangannya. "Asgard..." gumamnya cemas.

Seolah mendengar kekhawatirannya. Suara Asgard terdengar melalui komunikasi jarak jauh. "Jangan ke sini."

Seleneva langsung terdiam.

"Temani Crimgard," suara Asgard tetap tenang. "Dia membutuhkanmu."

Seleneva menunduk.

"Asgard..."

"Asal kau tahu," lanjut Asgard. "Crimgard tidak akan mampu menghadapi Thraxor dalam kondisinya sekarang."

Crimgard hanya tersenyum pahit mendengar itu. Ia tidak membantah. Karena itu memang benar. Saat ini dirinya bahkan kesulitan berdiri terlalu lama. Melawan seorang jenderal kekaisaran seperti Thraxor hanya akan berakhir dengan kekalahan telak.

---

Di langit. Thraxor tiba-tiba tertawa keras. "Hahahahaha!" Suara tawanya bergema ke seluruh wilayah. Ia mengangkat pedang raksasanya ke bahu. Tatapannya penuh ejekan.

"Asgard," katanya. "Aku benar-benar tidak mengerti."

Asgard tetap diam.

Thraxor melanjutkan. "Kau terlihat biasa saja. Bahkan menurutku lemah." Matanya menyipit. "Tapi Kaidles begitu kesulitan melawanmu."

Asgard tidak terpancing.

Sedangkan Thraxor justru semakin tertawa. "Lebih lucu lagi — dia sampai mengasingkan diri ke planet terpencil karena tidak menerima kekalahannya."

Beberapa prajurit kekaisaran yang menyaksikan dari kejauhan langsung menundukkan kepala. Mereka tahu hubungan para jenderal tidak selalu akur. Dan Thraxor memang sering meremehkan siapa pun. Termasuk sesama jenderal.

---

Asgard mengangkat pedangnya perlahan. Tatapannya tetap tenang. "Kau boleh menghinaku," ucap Asgard. "Tapi aku tidak akan membiarkan Aquila jatuh."

Angin kosmik berhembus. Armor kuno Asgard mulai memancarkan cahaya samar.

Sementara di seberangnya. Thraxor justru tersenyum semakin lebar. "Itu yang ingin kudengar."

Energi gelap dan emas mulai berkumpul di sekitar pedang raksasanya. Langit Aquila kembali bergetar. Armada-armada menjauh sejauh mungkin. Mereka tahu. Pertarungan itu belum berakhir. Justru baru memasuki tahap yang lebih berbahaya.

Dan di bawah sana. Seleneva hanya bisa memeluk Crimgard lebih erat. Berharap penjaga legendaris Aquila itu mampu bertahan menghadapi salah satu monster terkuat milik kekaisaran.

More Chapters