Ficool

Chapter 744 - Tekad Napstylea

Di tengah luasnya ruang angkasa. Kapal Nexus S-4473 melaju dengan kecepatan tinggi. Mesin utamanya memancarkan cahaya terang di belakang kapal, meninggalkan jejak energi yang membelah kegelapan kosmos.

Di ruang kendali utama. Aryes berdiri di depan panel navigasi holografik. Puluhan jalur perjalanan dan peta bintang mengambang di hadapannya. Tatapannya fokus. Sesekali ia mengubah arah jalur yang ditampilkan.

"Roxis, koreksi lintasan tiga derajat ke kiri." Perintahnya terdengar tenang.

"Perintah diterima," jawab Roxis R-5. Robot itu langsung memproses data. Beberapa detik kemudian jalur baru muncul di layar. "Rute menuju Draco tetap stabil," lapornya.

Aryes mengangguk puas. Meskipun mereka tidak berada dalam situasi perang, perjalanan menuju Draco tetap berbahaya. Kesalahan kecil saja bisa membuat mereka tersesat ke wilayah yang tidak dikenal.

Di bagian lain ruang kendali. Violys duduk di depan puluhan layar data. Jari-jarinya bergerak cepat. Berbagai informasi mengenai Draco terus ia kumpulkan. Aktivitas naga. Anomali energi. Catatan kuno. Dan laporan armada yang pernah mendekati konstelasi itu. Semua dianalisis tanpa henti.

"Hmm..." gumamnya. "Semakin banyak data yang kudapat — semakin sedikit yang kupahami." Hal itu justru membuatnya semakin penasaran.

---

Sementara itu. Di area istirahat —

Zero duduk santai di sebuah kursi panjang. Tangannya berada di belakang kepala. Matanya setengah tertutup. Tampak sama sekali tidak peduli dengan suasana sibuk di sekitarnya.

Di bahunya. Lira sedang bersandar dengan nyaman. Gadis itu asyik membaca buku yang sudah hampir selesai. Sesekali ia membalik halaman tanpa memperhatikan apa pun di sekitarnya.

Zero melirik sekilas. "Kau sudah membaca buku itu tiga kali," kata Zero.

"Karena masih menarik," jawab Lira santai.

"Itu karena kau menghafal seluruh isinya."

Lira tersenyum kecil. "Tetap saja menarik."

Percakapan mereka berakhir di sana. Keduanya kembali menikmati ketenangan masing-masing.

---

Di sisi lain ruangan. Jester memperhatikan mereka. Lalu menghela napas panjang. "Sungguh menyebalkan," gumamnya. "Mereka bahkan tidak sadar aku ada di sini." Ia memutar salah satu kartunya di antara jari-jari tangannya. Berharap ada sesuatu yang menarik untuk dilakukan. Tetapi tidak ada. Aryes sibuk. Violys sibuk. Roxis sibuk. Zero dan Lira tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Membuat Jester merasa seperti satu-satunya orang yang tidak memiliki pekerjaan.

Saat itulah. Matanya menangkap seseorang yang berdiri sendirian di dekat jendela observasi kapal. Napstylea. Wanita berarmor perak itu berdiri dalam diam. Tatapannya tertuju ke luar. Ke arah lautan cahaya kosmik yang membentang tanpa akhir.

Jester memperhatikannya beberapa saat. Lalu berjalan mendekat. "Hei," sapanya santai.

Napstylea tidak menoleh. Ia tetap memandang ke luar.

Jester menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu."

Tidak ada jawaban. Jester sudah terbiasa dengan sikap itu. Ia melanjutkan. "Kita ini pahlawan dari Bumi. Atau setidaknya itulah yang orang-orang sebut."

Napstylea tetap diam.

Jester menatap bintang-bintang di luar jendela. "Lawan yang kuat akan selalu muncul. Kita akan kalah. Kita akan menang. Kita akan terluka. Dan kita akan terus bertarung." Ia tersenyum tipis. "Tapi jika ada keraguan dalam dirimu — itu hanya akan membuatmu lengah."

Napstylea akhirnya menoleh.

Jester melanjutkan. "Dan orang yang lengah biasanya akan menjadi lemah."

Setelah mengatakan itu. Jester kembali memainkan kartunya. Tidak memaksa Napstylea menjawab. Ia tahu wanita itu tidak suka banyak bicara.

---

Napstylea kembali memandang ke luar jendela. Kali ini pikirannya sedikit terusik. Storm...

Napstylea mengepalkan tangannya perlahan. Tidak. Ia tidak boleh memikirkan hal-hal seperti itu. Perasaan semacam itu hanya akan mengganggu fokusnya.

Dengan perlahan. Ia mengusir semua pikiran tentang Storm dari kepalanya. Kemudian menarik napas panjang. Matanya kembali dingin seperti biasanya. Tujuannya tidak pernah berubah. Menjadi lebih kuat. Terus menjadi lebih kuat. Hingga tidak ada lagi yang bisa meremehkannya. Hingga tidak ada lawan yang dapat menganggapnya lemah. Dan hingga suatu hari nanti. Ia bisa berdiri sejajar dengan para petarung terkuat yang ada di galaksi.

Di luar kapal. Lautan cahaya kosmik terus membentang tanpa akhir.

More Chapters