Urco Tastarius. Pusat Kekaisaran Galaksi. Jantung dari hampir seluruh keputusan yang memengaruhi miliaran dunia. Hari itu, suasana aula istana terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa waktu terakhir. Para petinggi galaksi berdiskusi seperti biasa. Para bangsawan membahas urusan wilayah mereka. Dan para perwira menyampaikan laporan rutin.
Di dekat pintu aula. Rangers tetap berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tenang. Namun pikirannya tidak. Ia tahu satu hal. Galaksi tidak pernah benar-benar tenang. Ketenangan hanyalah jeda singkat sebelum masalah berikutnya muncul. Terlebih setelah kemunculan tekanan misterius yang sempat mengguncang banyak wilayah.
Rangers masih mengingatnya. Tekanan itu tidak terasa seperti ancaman biasa. Tidak seperti monster. Tidak seperti dewa. Tidak seperti Zodiac. Sesuatu yang berbeda. Dan justru itulah yang membuatnya waspada.
---
Di sisi lain aula —
Oreons duduk di atas singgasananya. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Hari ini, ia tidak membahas tekanan misterius. Tidak membahas Maxtis. Dan tidak membahas perang sebelumnya. Yang dibahasnya adalah masa depan kekaisaran.
"Kirimkan ultimatum ke wilayah-wilayah yang menolak hukum galaksi," ucap Oreons dengan tenang. Kata-katanya membuat sebagian petinggi langsung menegakkan tubuh.
Oreons melanjutkan. "Berikan mereka pilihan. Patuh. Atau menghadapi konsekuensinya."
Suasana aula menjadi lebih serius. Beberapa petinggi memahami maksud kalimat itu. Jika sebuah konstelasi menolak tunduk pada aturan galaksi yang ditetapkan kekaisaran... Maka para jenderal akan turun tangan. Dan ketika seorang jenderal kekaisaran bergerak — hasilnya jarang berakhir damai.
Oreons kembali berbicara. "Galaksi membutuhkan keteraturan. Yang kuat memimpin. Yang lemah mengikuti. Itulah hukum yang berlaku sejak lama."
Tak seorang pun membantah. Bukan karena semua setuju. Melainkan karena tidak ada yang cukup berani menentang Kaisar Galaksi secara langsung.
---
Di samping singgasana —
Yllarxa berdiri dengan tenang. Kepalanya sedikit menunduk. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Oreons. Dan jauh di dalam hatinya... ia tidak menyukai keputusan itu. Ia ingin berbicara. Ingin meminta Oreons mempertimbangkannya kembali. Tetapi ia tahu. Saat Oreons sudah mengambil keputusan sebagai Kaisar — sangat sulit mengubah pikirannya. Terutama ketika ia sedang berbicara tentang kekuasaan dan stabilitas galaksi.
Yllarxa hanya bisa menghela napas pelan dalam hati. Ia berharap semuanya tidak berubah menjadi perang besar lagi.
---
Sementara itu. Di sisi lain aula —
Leo duduk dengan tenang di kursinya. Pemimpin Sacred Zodiac itu tampak diam. Pikirannya sedang bekerja. Ia juga memikirkan tekanan misterius tersebut. Bahkan lebih dari yang disadari orang lain. Sebagai pemimpin Zodiac — instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang besar sedang bergerak di semesta. Sesuatu yang bahkan belum mampu ia pahami sepenuhnya.
Leo sempat mempertimbangkan satu hal. Mengirim Zodiac lain untuk menyelidiki. Mungkin Aries. Mungkin Gemini. Atau bahkan Libra. Tapi setelah dipikirkan kembali. Ia segera mengurungkan niat itu.
Leo mengenal para Zodiac lebih baik daripada siapa pun. Mereka kuat. Dan sebagian besar dari mereka memiliki sifat yang sulit dikendalikan. Jika dua atau tiga Zodiac bertemu di lokasi yang sama... kemungkinan besar akan terjadi perdebatan. Dan perdebatan antar Zodiac sering kali berubah menjadi duel. Bukan karena mereka saling membenci. Melainkan karena cara berpikir mereka berbeda.
Leo masih mengingat banyak kejadian di masa lalu. Planet yang retak. Nebula yang hancur. Sistem bintang yang hampir musnah. Hanya karena dua Zodiac berbeda pendapat.
Ia mengusap dahinya perlahan. "Kurasa aku tidak perlu memanggilnya..." gumamnya. "Satu masalah sudah cukup."
Leo memutuskan untuk menunggu. Jika Scorpio, Pisces, dan Cancer masih berada di wilayah itu sebelumnya... maka mereka mungkin sudah mengetahui sesuatu. Tidak perlu menambah kekacauan baru.
---
Aula kembali hening. Para petinggi melanjutkan rapat. Oreons membahas urusan wilayah. Rangers mengawasi situasi. Yllarxa diam dalam pikirannya. Dan Leo tetap tenggelam dalam pertimbangannya sendiri.
