Armada Kekaisaran melaju menembus lautan bintang. Ribuan kapal perang bergerak dalam formasi yang rapi. Cahaya mesin warp membelah kegelapan angkasa.
Di kapal komando utama. Maxtis berdiri sendirian di bagian depan dek observasi. Kedua tangannya berada di belakang punggung. Tatapannya lurus menembus hamparan kosmos yang luas. Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan seorang petarung yang sedang menunggu tantangan berikutnya.
Sejak meninggalkan Urco Tastarius. Ia terus memikirkan satu hal. Tekanan misterius yang mengguncang galaksi. Semakin dipikirkannya. Semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Lalu sebuah nama muncul di benaknya. Draco. Konstelasi naga yang diselimuti banyak legenda.
Maxtis perlahan membuka mulut. "Ubah arah armada. Tujuan berikutnya adalah Konstelasi Draco."
Beberapa perwira yang berada di ruang komando langsung terdiam. Mereka saling berpandangan. Seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Salah satu panglima akhirnya memberanikan diri berbicara. "Jenderal Maxtis..."
Maxtis tidak menoleh. "Katakan."
Panglima itu menelan ludah. "Apakah Anda yakin? Konstelasi Draco bukan wilayah biasa. Tempat itu sangat berbahaya."
Maxtis masih menatap angkasa. "Aku tahu itu."
Jawaban singkat itu tidak membuat para perwira tenang. Perwira lain segera menambahkan. "Konstelasi itu dijaga oleh Ladon. Ladon Sang Naga Berkepala Seratus."
Beberapa prajurit yang mendengar nama itu langsung menegang. Ladon. Makhluk legendaris yang namanya dikenal hampir di seluruh galaksi. Naga raksasa yang konon telah hidup sejak era kuno. Makhluk yang dipercaya menjadi penjaga wilayah milik Hera. Ratu Para Dewi.
Tidak banyak yang pernah melihat Ladon secara langsung. Namun cerita tentangnya tersebar ke mana-mana. Seratus kepala. Seratus pasang mata. Dan kekuatan yang mampu mengguncang konstelasi. Banyak armada yang memilih menghindari Draco daripada mencoba mendekatinya.
Panglima itu kembali berbicara. "Jika kita memasuki wilayahnya — risikonya terlalu besar. Pasukan bisa hancur sebelum menemukan apa pun."
Akhirnya Maxtis menoleh. Tatapannya tajam. "Apa kalian takut?"
Ruangan langsung hening. Tak seorang pun menjawab. Karena jawabannya sudah jelas. Ya. Mereka takut. Tapi tidak ada yang berani mengatakannya secara langsung.
Maxtis menghela napas pelan. "Ladon memang kuat. Draco memang berbahaya. Lalu?" Ia melipat kedua tangannya. "Apa karena itu kita harus berbalik?"
Tidak ada jawaban.
Maxtis tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat para perwira semakin gugup. "Aku tidak dikirim untuk mencari tempat yang aman. Aku dikirim untuk mencari kebenaran." Matanya kembali mengarah ke hamparan bintang. "Entah kenapa — aku merasa sumber tekanan itu berkaitan dengan Draco."
Itu memang hanya firasat. Insting seorang petarung sering kali lebih tajam daripada data. Terutama bagi seseorang seperti Maxtis.
Panglima armada akhirnya menghela napas. Ia tahu tidak ada gunanya membujuk lebih lanjut. Jika Maxtis sudah membuat keputusan. Maka keputusan itu hampir mustahil diubah. "Baiklah. Armada akan mengubah arah."
Perintah segera diteruskan ke seluruh kapal. Beberapa menit kemudian. Formasi armada mulai bergerak. Jalur navigasi berubah. Tujuan baru muncul di layar utama. KONSTELASI DRACO.
Melihat tujuan itu. Banyak prajurit langsung merasakan ketegangan. Beberapa mencoba tetap tenang. Beberapa lainnya diam-diam berdoa. Dan ada juga yang mulai membayangkan berbagai legenda menyeramkan tentang Ladon.
Sementara itu. Maxtis justru terlihat semakin bersemangat. Ia menatap ke arah depan. Jauh di balik hamparan galaksi. Konstelasi Draco menunggu.
Jika Ladon benar-benar muncul. Ia tidak akan mundur. Jika tekanan misterius itu berasal dari sana. Ia akan menemukannya. Dan jika ada lawan kuat yang menunggunya di sana...
Sudut bibir Maxtis perlahan terangkat. "Itu akan menarik," gumamnya.
Mesin warp armada mulai menyala lebih terang. Ruang di depan mereka perlahan terbelah. Lorong perjalanan antarbintang terbuka. Dan tanpa ragu sedikit pun. Armada Kekaisaran memasuki lorong tersebut.
Menuju salah satu wilayah paling berbahaya di galaksi. Menuju sarang naga legendaris. Menuju Konstelasi Draco.
