Ficool

Chapter 710 - Setelah Kekalahan

Istana Ursa Major. Perang memang telah berakhir. Namun ketegangan belum sepenuhnya menghilang.

Di luar wilayah istana.

*BOOOOOOM!! *

Sebuah asteroid besar hancur menjadi ribuan pecahan. Tak lama kemudian —

*KRAAAASH!! *

Asteroid lainnya bernasib sama. Sosok yang menyebabkan semua itu terus bergerak di antara sabuk asteroid. Aura kristal merah menyelimuti tubuhnya. Matanya dipenuhi amarah. Arcas Ursa. Pemimpin Ursa Minor. Dan saat ini — ia benar-benar marah.

"Kenapa harus mundur?!" teriaknya. Tinju yang diselimuti kristal merah menghantam asteroid lain. Ledakan kembali mengguncang area sekitar. "Perang belum selesai! Kita masih bisa bertarung!"

Amarahnya telah lama tertahan. Kekalahan tanpa benar-benar kalah terasa jauh lebih menyakitkan baginya.

Tak jauh dari sana. Callisto mengamati putranya. Ratu Ursa Major itu menghela napas pelan.

"Arcas," panggilnya.

Namun Arcas tidak menjawab. Ia kembali menghancurkan pecahan asteroid yang melayang di sekitarnya.

Callisto mendekat. "Arcas," ulangnya.

Kali ini pemuda itu akhirnya menoleh. Wajahnya penuh frustrasi. "Kita menyerah begitu saja," katanya.

Callisto menggeleng. "Tidak. Kita bertahan hidup."

Arcas menggertakkan giginya.

Callisto melanjutkan sebelum ia sempat membantah. "Melawan Thraxor saja sudah sulit. Lalu ada Hydra. Tiga Sacred Zodiac. Dan akhirnya Rangers." Nama terakhir itu membuat suasana lebih berat. Semua orang yang hadir memahami artinya. Rangers Orithrosvar. Jenderal terkuat Kekaisaran. Seseorang yang bahkan kehadirannya mampu menghentikan perang besar.

Callisto memandang putranya. "Kita tidak mungkin menang saat itu," katanya jujur.

Arcas mengepalkan tangannya. Ia membenci kenyataan tersebut. Namun ia tidak bisa membantah. Jauh di dalam hatinya — ia tahu ibunya benar.

---

Di dalam aula istana —

Para petinggi Ursa Major dan Ursa Minor hanya terdiam. Tidak ada yang ingin menambahkan sesuatu. Mereka semua memikirkan hal yang sama. Jika Rangers benar-benar memutuskan bertarung... hasilnya mungkin jauh lebih buruk.

Di salah satu sisi ruangan. Aryes menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pemimpin X.A.R.A itu menghela napas panjang. "Jujur saja," katanya. "Aku tidak menyangka perang sebesar itu dihentikan oleh satu orang."

Jester yang sedang memainkan kartu Arcana mengangguk. "Orang itu memang layak disebut monster."

Violys terus melihat data-data pertempuran yang tersimpan. Bahkan setelah menganalisis berkali-kali. Hasilnya tetap sama. Rangers berada jauh di atas standar kekuatan kebanyakan makhluk galaksi.

Lira menutup salah satu buku digitalnya. "Sejarah akan mengingat hari ini," gumamnya.

Aryes tidak membantah. Karena memang begitu adanya.

Di dekat jendela aula. Napstylea berdiri diam. Armor peraknya memantulkan cahaya dari luar istana. Berbeda dengan yang lain. Ia tidak terlihat terlalu memikirkan hasil perang. Baginya. Perang telah selesai. Itu saja. Tidak ada gunanya memikirkan sesuatu yang sudah terjadi. Jika perang berikutnya datang. Ia akan bertarung lagi. Sesederhana itu.

---

Sementara itu. Di luar orbit Ursa Major —

Armada Tartanos masih memenuhi langit. Ribuan kapal perang berjajar dalam formasi besar. Namun tidak ada pertempuran. Hanya keheningan.

Di ruang komando utama. Rea memukul meja kendali dengan kesal. "Kenapa dia tidak menjawab?!" Notifikasi panggilan kembali gagal tersambung. Targetnya tetap sama. Astralon.

Rea sudah mencoba berkali-kali. Namun hasilnya tidak berubah. Tidak ada jawaban. "Tidak masuk akal," gerutunya. "Kita membutuhkan bantuan Orion. Setidaknya beri jawaban!"

Operator komunikasi hanya bisa menundukkan kepala. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.

---

Sementara itu. Di salah satu dek observasi kapal utama Tartanos —

Seorang pemuda berdiri sendirian. Tyrannons. Pemimpin pemberontakan. Mantan pewaris kekaisaran.

Ia menatap lautan bintang tanpa berkata apa-apa. Pantulan cahaya kosmik terlihat di matanya. Pikirannya melayang jauh. Kembali ke masa lalu. Ke istana. Ke ruang latihan. Ke masa ketika semua orang memanggilnya calon penerus Oreons.

Namun kini semua itu terasa sangat jauh.

Ia menghela napas perlahan. Tidak ada gunanya memikirkan masa lalu. Jalan itu telah tertutup. Saat ini. Ia adalah pemimpin Tartanos. Musuh kekaisaran. Dan itu tidak akan berubah.

Tyrannons menatap armada mereka. Jumlahnya besar. Namun belum cukup. Kekuatan mereka bertambah. Namun belum cukup.

Setelah perang ini. Ia menyadari satu kenyataan yang tidak bisa dihindari. Musuh mereka bukan hanya Kekaisaran. Musuh mereka adalah para jenderal yang menjaga kekaisaran. Thraxor. Hydra. Kaidles. Dan terutama — Rangers.

Tyrannons mengepalkan tangannya. "Masih terlalu lemah..." gumamnya. Ia tidak menyukai kenyataan itu. Namun mengakuinya jauh lebih baik daripada mengabaikannya.

Jika ingin melawan kekaisaran lagi. Jika ingin mengubah galaksi. Maka ia membutuhkan sesuatu yang lebih besar. Lebih kuat. Dan lebih banyak sekutu.

Perang berikutnya pasti akan datang. Dan saat hari itu tiba — Tyrannons tidak ingin kembali dipaksa mundur.

Ia menatap bintang-bintang di kejauhan. Lalu sebuah tekad perlahan muncul di dalam dirinya.

Perang ini mungkin berakhir. Tetapi perjuangannya tidak akan berakhir.

More Chapters