Ficool

Chapter 405 - Nama yang Dijaga

Sore hari di markas X.A.R.A terasa lebih tenang dari biasanya.

Setelah acara pertunangan yang megah, suasana kembali normal—teknisi berjalan membawa data, Zero sibuk dengan mesin, Lira tenggelam dalam analisis simbol kuno.

Di balkon samping hanggar utama—

Storm dan Arabels berdiri berdampingan, menikmati langit senja.

"Kamu lebih tenang hari ini," ujar Arabels pelan.

"Tenang sebelum badai," jawab Storm ringan.

Arabels menatapnya sekilas. Ia tahu Storm merasakan sesuatu—entah apa, tapi bukan tanpa alasan.

Langkah pelan terdengar mendekat.

"Maaf mengganggu."

Storm dan Arabels menoleh bersamaan.

Seorang gadis berdiri beberapa meter dari mereka.

Rambut gelap tergerai rapi, seragam akademi yang sederhana, namun tatapannya teguh meski terlihat gugup.

"Aku… Seren."

Storm memperhatikannya dengan tenang.

Arabels tersenyum ramah. "Seren Wils, bukan?"

Seren tampak sedikit terkejut. "Kau tahu, Nona Arabels?"

"Aku pernah mendengar namamu disebut Rasar."

Seren menarik napas pelan, lalu menatap Storm secara langsung.

"Aku datang untuk memperkenalkan diri secara resmi."

Storm tidak berbicara, hanya menunggu.

Seren menggenggam kedua tangannya agar tidak terlihat gemetar.

"Aku ditetapkan sebagai penjaga sementara status keluarga Wilson… menggantikanmu."

Keheningan tipis menggantung.

Angin sore berhembus.

Storm menatapnya beberapa detik, tanpa ekspresi sulit ditebak.

"Kenapa kau menerimanya?" tanyanya akhirnya.

Seren tidak langsung menjawab.

"Aku tahu aku bukan pewaris utama," katanya pelan. "Mungkin tidak sepantasnya membawa nama itu."

Ia mengangkat pandangannya lagi.

"Tapi nama itu tidak seharusnya menghilang hanya karena kamu memilih jalan berbeda."

Arabels memperhatikan Storm dari samping.

Storm bertanya lagi.

"Kau tahu beban yang mungkin menyertainya?"

Seren mengangguk.

"Aku tidak sekuat dirimu. Aku bukan pahlawan. Tapi aku bisa menjaga apa yang kamu tinggalkan."

Ia tersenyum kecil.

"Jika suatu hari kamu ingin mengambilnya kembali… aku akan menyerahkannya tanpa syarat."

Beberapa detik sunyi.

Storm berjalan mendekat satu langkah.

Seren sempat tegang—mungkin mengira akan ditolak.

Namun Storm justru berbicara dengan nada datar namun tulus.

"Aku tidak pernah menganggap nama itu beban."

Seren terdiam.

"Aku hanya tidak ingin terikat padanya."

Ia menatap langit sesaat sebelum kembali pada Seren.

"Kalau kau menjaganya… lakukan bukan karena aku."

Seren berkedip.

"Lakukan karena kau menginginkannya."

Hening.

Lalu Storm mengangguk tipis.

"Aku tidak keberatan."

Seren menghela napas lega tanpa sadar.

"Terima kasih, Kak Storm."

Storm menatapnya lebih dalam.

"Kau pernah melihatku sebelumnya, bukan?"

Seren sedikit terkejut.

"A-aku…"

"Apa di langit," lanjut Storm. "Saat aku melawan monster."

Wajah Seren memerah sedikit, bukan karena malu—lebih karena tak menyangka ia diketahui.

"Aku hanya melihat siluetmu," katanya pelan. "Tapi saat itu aku tahu… kota ini aman."

Storm terdiam.

Arabels tersenyum kecil melihat ekspresi halus di wajah Storm—bukan bangga, bukan sombong.

Lebih seperti… canggung.

"Aku bukan simbol," kata Storm akhirnya.

Seren menggeleng cepat.

"Aku tahu. Justru karena itu."

Angin kembali berhembus.

Jarak di antara mereka terasa tidak canggung lagi.

Storm menoleh sedikit.

"Seren."

"Ya?"

"Jaga nama Wilson baik-baik."

Seren mengangguk tegas.

"Aku akan melakukannya."

Arabels kemudian melangkah mendekat.

"Kau tidak sendirian, Seren" katanya hangat. "Jika ada tekanan atau ancaman karena status itu, katakan pada kami."

Seren tampak sedikit terharu.

"Baik."

Beberapa saat kemudian Seren pamit, meninggalkan mereka berdua kembali di balkon.

Arabels memandang Storm.

"Kamu mempercayainya dengan mudah."

Storm menatap langit senja.

"Dia tidak datang untuk mengambil apa pun."

"Lalu apa?"

"Dia datang untuk menjaga nama itu."

Arabels tersenyum lembut.

"Dan kamu tidak keberatan?"

Storm menggeleng tipis.

"Nama hanyalah nama."

Ia terdiam sejenak.

"Yang penting adalah siapa yang berdiri di baliknya."

More Chapters